Category Archives: AQIDAH

Memajang Ucapan Selamat Natal

Memajang Ucapan Selamat Natal

Sebagian pedagang muslim pun demi menghormati customer-nya, ia sengaja memajang ucapan selamat natal atau merry christmas, berupa stiker, spanduk atau tempelan lainnya di tokonya. Inilah yang biasa kita saksikan di bulan Desember ini. Apakah seperti ini dibolehkan dilakukan oleh seorang muslim?

Toleransi dalam Islam

Islam sangat menjunjung toleransi. Namun toleransi yang dimaksud adalah masih dibolehkannya bermuamalah dengan non-muslim. Juga kita diperintahkan untuk membiar saja non-muslim beribadah tanpa turut campur. Ingat prinsip kita sebagaimana yang telah tertera dalam ayat,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (QS. Al Kafirun: 6)

Juga disebutkan dalam ayat lain,

أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus: 41)

لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ

Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu.” (QS. Al Qashshash: 55)

Prinsip ini berarti kita biarkan non-muslim berhari raya, tanpa ada peran serta dari kita untuk membantu, mengucapkan selamat, atau memberi hadiah.

Sepakat Ulama: Seorang Muslim Haram Mengucapkan Selamat Natal

Klaim ijma’ haramnya mengucapkan selamat pada hari raya non-muslim terdapat dalam perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah berikut ini, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.

Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 441)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan pula, “Ucapan selamat hari natal atau ucapan selamat lainnya yang berkaitan dengan perayaan agama orang kafir adalah haram berdasarkan sepakat ulama” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 3: 45).

Syaikhuna, Syaikh Dr. Sholih Al Fauzan hafizhohullah berkata dalam fatwanya, “Hal-hal yang sudah terdapat ijma’ para ulama terdahulu tidak boleh diselisihi bahkan wajib berdalil dengannya. Adapun masalah-masalah yang belum ada ijma’ sebelumnya maka ulama zaman sekarang dapat ber-ijtihad dalam hal tersebut. Jika mereka bersepakat, maka kita bisa katakan bahwa ulama zaman sekarang telah sepakat dalam hal ini dan itu. Ini dalam hal-hal yang belum ada ijma sebelumnya, yaitu masalah kontemporer. Jika ulama kaum muslimin di seluruh negeri bersepakat tentang hukum dari masalah tersebut, maka jadilah itu ijma’.” (Lihat fatwa beliau di sini: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/2385)

Memajang Ucapan Selamat Natal

Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

اجتنبوا أعداء الله في عيدهم

“Jauhilah orang-orang kafir saat hari raya mereka” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi di bawah judul bab ‘terlarangnya menemui orang kafir dzimmi di gereja mereka dan larangan menyerupai mereka pada hari Nairuz dan perayaan mereka’ dengan sanadnya dari Bukhari, penulis kitab Sahih Bukhari sampai kepada Umar).

Nairuz adalah hari raya orang-orang qibthi yang tinggal di Mesir. Nairuz adalah tahun baru dalam penanggalan orang-orang qibthi. Hari ini disebut juga Syamm an Nasim. Jika kita diperintahkan untuk menjauhi hari raya orang kafir dan dilarang mengadakan perayaan hari raya mereka lalu bagaimana mungkin diperbolehkan untuk mengucapkan selamat hari raya kepada mereka.

Sebagai penguat tambahan adalah judul bab yang dibuat oleh Al Khalal dalam kitabnya Al Jaami’. Beliau mengatakan, “Bab terlarangnya kaum muslimin untuk keluar rumah pada saat hari raya orang-orang musyrik…”. Setelah penjelasan di atas bagaimana mungkin kita diperbolehkan untuk mengucapkan selamat kepada orang-orang musyrik berkaitan dengan hari raya mereka yang telah dihapus oleh Islam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam bukunya, Al Iqtidha’ 1: 454 menukil adanya kesepakatan para sahabat dan seluruh pakar fikih terhadap persyaratan Umar untuk kafir dzimmi, “Di antaranya adalah kafir dzimmi baik ahli kitab maupun yang lain tidak boleh menampakkan hari raya mereka … Jika kaum muslimin telah bersepakat untuk melarang orang kafir menampakkan hari raya mereka lalu bagaimana mungkin seorang muslim diperbolehkan untuk menyemarakkan hari raya orang kafir. Tentu perbuatan seorang muslim dalam hal ini lebih parah dari pada perbuatan orang kafir.”

Dan jelas saja, memajang ucapan selamat natal di toko termasuk dalam bentuk menyemarakkan perayaan non muslim.

Selaku muslim pun kita diperintahkan untuk tidak loyal pada orang kafir walaupun itu anggota kerabat, apalagi terkait dengan urusan agama mereka.

لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al Mujadilah: 22)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

Kaitan Tauhid Dengan Al Wala’ Wal Bara’

Kaitan Tauhid Dengan Al Wala’ Wal Bara’

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

al-Wala’ wal Bara’ atau loyalitas dan kebencian merupakan bagian penting di dalam Islam. Cinta dan benci karena Allah bahkan merupakan simpul keimanan yang paling kuat.

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mencintai pembela bid’ah maka Allah akan menghapuskan amalnya dan Allah akan mencabut cahaya Islam dari dalam hatinya.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/47])

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mendukung pembela bid’ah sesungguhnya dia telah membantu untuk menghancurkan agama Islam.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/47])

Mujahid rahimahullah berkata, “Sekuat-kuat simpul keimanan adalah cinta karena Allah dan membenci karena Allah.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1170)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara; barangsiapa yang ketiga hal itu ada pada dirinya niscaya dia akan merasakan manisnya iman. Orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya. Dia mencintai seseorang semata-mata karena kecintaannya kepada Allah. Dia tidak suka kembali kepada kekafiran setelah Allah selamatkan dia darinya, sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke dalam kobaran api.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Anas bin Malik radhiyallahu’anhu menceritakan, suatu ketika seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan hari kiamat terjadi?”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apa yang kamu persiapkan untuk menghadapinya?”. Ia menjawab, “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.” Nabi bersabda, “Kamu akan bersama orang yang kamu cintai.” Anas berkata, “Tidaklah kami bergembira setelah masuk Islam dengan kegembiraan yang lebih besar selain tatkala mendengar sabda Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.” Maka aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap bersama mereka -di akherat- meskipun aku tidak bisa beramal seperti mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas menunjukkan bahwa kecintaan yang bermanfaat itu meliputi:

  1. Cinta kepada Allah -yang sejati, bukan sekedar klaim/omong kosong-,
  2. Mencintai apa saja yang Allah cintai,
  3. Cinta terhadap sesuatu atau seseorang karena Allah (hubb lillah wa fillah) (lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 97 dan ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 214)

Kecintaan kepada Allah harus dibuktikan dengan mengikuti ajaran Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman,

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِى

Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku.” (QS. Ali Imran: 31)

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya -subhanahu wa ta’ala- ialah dengan melakukan ketaatan kepada-Nya dan tidak menyelisihi aturan-Nya, demikian pula halnya kecintaan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (lihat Syarh Muslim [2/96])

Kelezatan iman inilah yang akan mengokohkan pijakan keislaman seorang hamba. Sehingga dia tidak akan goyah karena iming-iming dunia atau ancaman senjata. Heraklius berkata kepada Abu Sufyan, “Aku pun bertanya kepadamu mengenai apakah ada diantara mereka -pengikut nabi- yang murtad karena marah terhadap ajaran agamanya setelah dia masuk ke dalamnya? Kamu menjawab, tidak ada. Maka demikian itulah yang terjadi apabila kelezatan iman telah merasuk dan teresap di dalam hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Ibnu Baththal rahimahullah mengatakan, “Adapun pertanyaan yang diajukan mengenai kemurtadan pengikutnya. Latar belakangnya adalah bahwa orang yang masuk (agama) tanpa dilandasi dengan bashirah/ilmu tentangnya niscaya ia akan mudah untuk kembali (murtad) dan goyah. Adapun orang yang masuk -ke dalam Islam- dengan landasan ilmu dan keyakinan yang benar maka hal itu akan menghalanginya dari kemurtadan.” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal [1/46])

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Pokok dan ruh ketauhidan adalah memurnikan rasa cinta untuk Allah semata, dan hal itu merupakan pokok penghambaan dan penyembahan kepada-Nya. Bahkan, itulah hakikat dari ibadah. Tauhid tidak akan sempurna sampai rasa cinta seorang hamba kepada Rabbnya menjadi sempurna, dan kecintaan kepada-Nya harus lebih diutamakan daripada segala sesuatu yang dicintai. Sehingga rasa cintanya kepada Allah mengalahkan rasa cintanya kepada selain-Nya dan menjadi penentu atasnya, yang membuat segala perkara yang dicintainya harus tunduk dan mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan bisa menggapai kebahagiaan dan kemenangannya.” (lihat al-Qaul as-Sadid Fi Maqashid at-Tauhid, hal. 95)

Sehingga tidak akan terkumpul pada diri seseorang antara keimanan dengan rasa cinta kepada musuh-musuh Allah. Allah ta’ala berfirman,

قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ۬ فِىٓ إِبۡرَٲهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ ۥۤ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِہِمۡ إِنَّا بُرَءَٲٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ الۡعَدَٲوَةُ وَالۡبَغۡضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِاللَّهِ وَحۡدَهُ

Sungguh telah ada teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya; Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari segala yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari kalian dan telah nyata antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selamanya sampai kalian mau beriman kepada Allah saja” (QS. al-Mumtahanah: 4)

Suatu ketika, Abdullah putra Abdullah bin Ubay bin Salul -gembong munafikin- duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu beliau sedang minum. Abdullah berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, tidakkah anda sisakan air minum anda untuk aku berikan kepada ayahku? Mudah-mudahan Allah berkenan membersihkan hatinya dengan air itu.” Nabi pun menyisakan air minum beliau untuknya. Lalu Abdullah datang menemui ayahnya. Abdullah bin Ubay bin Salul bertanya kepada anaknya, “Apa ini?”. Abdullah menjawab, “Itu adalah sisa minuman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku membawakannya untukmu agar engkau mau meminumnya. Mudah-mudahan Allah berkenan membersihkan hatimu dengannya.”Sang ayah berkata kepada anaknya, “Mengapa kamu tidak bawakan saja kepadaku air kencing ibumu, itu lebih suci bagiku daripada bekas air minum itu.” Maka dia -Abdullah- pun marah dan datang -melapor- kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apakah anda mengizinkan aku untuk membunuh ayahku?”. Nabi menjawab,“Jangan, hendaknya kamu bersikap lembut dan berbuat baik kepadanya.” (lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 54)

Mencintai Para Sahabat Nabi

Dari Anas radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.” (HR. Bukhari)

Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah berkata, “Kami [Ahlus Sunnah] mencintai sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah seorang di antara mereka. Kami juga tidak berlepas diri/membenci terhadap seorang pun di antara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka, dan juga orang-orang yang menjelek-jelekkan mereka. Kami tidak menceritakan keberadaan mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah ajaran agama, bagian dari keimanan, dan bentuk ihsan. Adapun membenci mereka adalah kekafiran, sikap munafik dan melampaui batas/ekstrim.” (lihat Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 467 oleh Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Mereka -Ahlus Sunnah- mencintai para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga mengutamakan para sahabat di atas segenap manusia. Karena kecintaan kepada mereka [sahabat] itu pada hakikatnya adalah bagian dari kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bagian dari kecintaan kepada Allah…” (lihat Syarh al-’Aqidah al-Wasithiyah, Jilid 2 hal. 247-248)

Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah mengatakan, “Apabila kamu melihat ada seseorang yang menjelek-jelekkan salah seorang Sahabat Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang zindik. Hal itu dikarenakan menurut kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membawa kebenaran. Demikian pula, al-Qur’an yang beliau sampaikan adalah benar. Dan sesungguhnya yang menyampaikan kepada kita al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah ini adalah para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya mereka -para pencela Sahabat- hanyalah bermaksud untuk menjatuhkan kedudukan para saksi kita dalam rangka membatalkan al-Kitab dan as-Sunnah. Oleh sebab itu sebenarnya mereka itu lebih pantas untuk dicela, mereka itulah orang-orang zindik.” (lihat Qathful Jana ad-Daani Syarh Muqaddimah Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani, hal. 161)

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Termasuk Sunnah [pokok agama] adalah menyebut-nyebut kebaikan seluruh Sahabat Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, menahan diri dari perselisihan yang timbul diantara mereka. Barangsiapa yang mencela para Sahabat Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam atau salah seorang dari mereka, maka dia adalah seorang tukang bid’ah pengikut paham Rafidhah/Syi’ah. Mencintai mereka -para Sahabat- adalah Sunnah [ajaran agama]. Mendoakan kebaikan untuk mereka adalah ibadah. Meneladani mereka adalah sarana -beragama- dan mengambil atsar/riwayat mereka adalah sebuah keutamaan.” (lihat Qathful Jana ad-Daani, hal. 162)

Sumber ; http://muslim.or.id/aqidah/kaitan-tauhid-dengan-al-wala-wal-bara.html

Sering Diikuti Jin

Sering Diikuti Jin

mengenal jin

Ditaksir Jin Penunggu Kantor

Assalaamu’alaikum wr.wb..

Ustadz yg semoga dirahmati Alloh….. saya seorang karyawan baru di kantor swasta. Teman2 kantor di situ pernah bilang bahwa bangunan kantor itu dulunya adalah bekas rumah makan yang kemudian tutup dan tidak dihuni lama sekali. Teman2 percaya bahwa d gedung itu banyak penghuni “halus” nya. Nhah, ada salah satu teman kantor yang bilang bahwa dia bisa melihat jin disana, tapi hanya kadang2. Dia pernah mengaku beberapa kali melihat makhluk halus itu sering duduk di samping saya dan mengikuti saya ketika saya berjalan. Dia bilang ke saya, dan di hadapan teman2 yang lain katanya makhluk itu “naksir” saya dan sering menggoda saya.

Yang saya tanyakan ustadz:

  1. Apakah saya harus mempercayai teman saya tersebut? Karena saya pernah mendengar dari seorang ustadz bahwa manusia biasa tdk bisa melihat jin secara kasat mata, kecuali dengan bantuan jin itu sendiri. Bagaimana ustadz?
  2. Kalau apa yang dikatakan oleh teman saya tersebut adalah benar, lalu apa yang harus saya lakukan ustadz? Apakah saya harus  berpindah meja kantor seperti yang dia sarankan? Bagaimana agar jin tersebut tdk lagi mengikuti saya?
  3. Kalau benar pernyataan ustadz yg saya dengar tadi. Berarti teman saya td pun bisa jd mendapat gangguan jin ustadz? Apakah benar? Lalu bagaimana sikap saya sebaiknya terhadap dia?
  4. Saya terfikir untuk megusulkan pada atasan agar mengundang seorang ustadz ruqyah supaya trmpat tsb berkurang dari gangguan makhluk halus. Tetapi usulan tersebut belum saya sampaikan. Menurut ustadz bagaimana, apakah usulan tersebut baik?

Demikian ustadz, saya menunggu jawaban dr ustadz,
Jazakumullaahu khaiir…..

Dari: Rose

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Pertama, bahwa pada dasarnya manusia tidak bisa melihat jin, juga tidak bisa mendeteksinya dengan indera yang lain. Allah tegaskan melalui firman-Nya,

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya iblis dan para pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang (di sana) kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya, Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Qs. Al-A’raf:27)

Inilah sifat asli manusia dan sifat asli jin. Manusia tidak bisa melihat jin, sebaliknya jin tidak bisa dilihat manusia, pada bentuk mereka yang asli.

Akan tetapi jin bisa menjelma menjadi makhluk yang lain, sehingga bisa terindra oleh manusia. Baik dengan dilihat, didengar, atau diraba. Sebagaimana kisah Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pada hadis berikut,

Selama beberama malam, beliau ditugasi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga bahan makanan hasil zakat ramadhan. Malam harinya datang seorang pencuri dan mengambil makanan. Dia langsung ditangkap oleh Abu Hurairah. “Akan aku laporkan kamu ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Orang inipun memelas. Minta dilepaskan karena dia sangat membutuhkan dan punya tanggungan keluarga. Dilepaslah pencuri ini. Siang harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Hurairah tentang kejadian semalam. Setelah diberi laporan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia dusta, dia akan kembali lagi.”

Benar, di malam kedua dia datang lagi. Ditangkap Abu Hurairah, dan memelas, kemudian beliau lepas. Malam ketiga dia datang lagi. Kali ini tidak ada ampun. Orang inipun minta dilepaskan. “Lepaskan aku, nanti aku ajari bacaan yang bermanfaat untukmu.” Si jin mengatakan:

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ، فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ: {اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ}، حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ

“Jika kamu hendak tidur, bacalah ayat kursi sampai selesai satu ayat. Maka akan ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.”

Pagi harinya, kejadian ini dilaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. kemudian beliau bersabda: “Kali ini dia benar, meskipun aslinya dia pendusta.” (HR. Bukhari 2311).

Kedua, setiap manusia selalui diikuti seorang jin dan malaikat.

Jin yang selalu menyertai manusia namanya jin qarin. Dia mengikuti manusia kemanapun sasarannya ini pergi.

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ، إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ

“Setiap orang di antara kalian telah diutus untuknya seorang qorin (pendamping) dari golongan jin.” (HR. Muslim 2814).

Keterangan selengkapnya, bisa anda pelajari di: Mengenal Jin Qorin

Sementara itu, Allah juga menugaskan malaikat penjaga untuk menjaga semua hamba Allah dari hal buruk yang belum ditakdirkan baginya.

Dalam surat Ar-Ra’d, Allah berfirman,

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللهِ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ibnu Abbas menjelaskan,

هم الملائكة يحفظونَهُ بأمرِ الله ، فإذا جاء القدر خَلُّوْا عنه

“Mereka adalah para malaikat yang menjaga manusia dengan perintah Allah, jika ada takdir yang akan menimpanya maka malaikat ini menyingkir darinya” (Tafsir At-Thabari, no.20217)

Selengkapnya bisa anda pelajari di: Malaikat Pendamping

Ketiga, kuatkan mental dengan banyak berdzikir

Ada banyak sebab jin akan merasuki tubuh seseorang. Namun ini bisa dihalangi dengan melakukan pencegahan sejak dini.

Karena kita tidak bisa melihat jin, kita tidak mungkin tarung dan berduel dengan mereka. Yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan mereka. Baik gangguan lahiriyah mapun batin.

Cara yang sangat mujarab untuk melindungi diri dari gangguan jin adalah merutinkan dzikir setiap pagi dan sore. Pagi dibaca setelahsubuh dan sore dibaca setelah asar. Berikut beberapa dzikir pagi petang untuk melindungi diri dari gangguan jin:

1. Membaca ayat kursi. Orang yang membacanya di waktu pagi maka akan dijaga sampai sore, dan siapa yang membacanya di waktu sore, akan dijaga sampai pagi.

Suatu ketika Ubay pernah menangkap jin yang mencuri makanannya. Ubay bin Ka’ab berkata kepada Jin: “Apa yang bisa menyelamatkan kami (manusia) dari (gangguan) kalian?”. Si jin menjawab: “Ayat kursi… Barangsiapa membacanya di waktu sore, maka ia akan dijaga dari (gangguan) kami hingga pagi, dan barangsiapa membacanya di waktu pagi, maka ia akan dijaga dari (gangguan) kami hingga sore”. Lalu paginya Ubay menemui Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- untuk menuturkan hal itu, dan beliau menjawab: “Si buruk itu berkata benar”. (HR. Hakim, Ibnu Hibban, Thabarani dan lainnya, Albani mengatakan: Sanadnya Thabarani Jayyid)

2. Membaca doa berikut 3 kali:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ، فِي الْأَرْضِ، وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

BISMILLAHIL-LADZI LAA YADHURRU MA’AS-MIHII SYAI-UN FIL ARDHI WA LAA FIS SAMAA’ WA HUWAS-SAMII-UL ‘ALIIM.

“Dengan nama Allah… yang bila nama-Nya disebut, segala sesuatu yang berada di bumi dan di langit tidak akan berbahaya, Dialah yang maha mendengar lagi maha mengetahui.”

Dari Utsman bin Affan, Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:

ما من عبد يقول في صباح كل يوم ومساء كل ليلة بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم ثلاث مرات لم يضره شيء

“Orang yang membaca dzikir ini setiap pagi dan sore sebanyak tiga kali, tidak akan ada sesuatu yang membahayakannya” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya, di-shahih-kan oleh Albani)

3. Membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (masing-masing 3 kali), akan dijaga dari semua marabahaya.

Rasulullah mengatakan kepada Abdullah bin Khubaib:

قل قل هو الله أحد والمعوذتين حين تمسي وحين تصبح ثلاث مرات تكفيك من كل شيء

“Bacalah Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas, di waktu pagi dan sore, sebanyak 3 kali! Itu cukup bagimu untuk mencegah semua marabahaya” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, di-shahih-kan oleh Albani)

4. Membaca kalimat berikut 10 kali:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dari Abu Ayyub Al-Anshari, Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:

من قال حين يصبح لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد يحيي ويميت وهو على كل شيء قدير عشر مرات كتب الله له بكل واحدة قالها عشر حسنات وحط الله عنه بها عشر سيئات ورفعه الله بها عشر درجات وكن له كعشر رقاب وكن له مسلحة من أول النهار إلى آخره ولم يعمل يومئذ عملا يقهرهن فإن قال حين يمسي فمثل ذلك

“Barangsiapa ketika pagi membaca dzikir ini 10 kali, maka Alloh mencatat 100 kebaikan baginya, menghapus 100 keburukan darinya, menaikkannya 100 derajat, (pahala) dzikir ini sebanding dengan memerdekakan 10 budak, dzikir ini bisa menjadi pelindung baginya dari pagi hingga sore, dan pada hari itu tidak akan ada pekerjaan yang memupuskannya… Apabila ia membacanya ketika sore, maka baginya keutamaan yang sama seperti itu. (HR. Ahmad dan Thabarani, di-shahih-kan oleh Albani)

Semoga kita dimudahkan untuk merutinkannya dan mendapat perlindungan Allah dari segala yang membahayakan di dunia dan akhirat.

Terkait informasi dari teman anda, bisa jadi benar atau bisa jadi dusta. Namun apapun itu, sebaiknya tidak perlu terlalu anda pikirkan. Fokuskan pada rutinitas di atas, semoga Allah melindungi kita semua dari kejahatan seluruh makhluk-Nya.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.551 pengikut lainnya.