Arsip Blog

ADAB BERPAKAIAN & BERHIAS (iv) : Hukum Cincin, Bersisir, Mengecat uban, Memangkas jenggot & Wewangian

ADAB BERPAKAIAN DAN BERHIAS

Penulis Al-Ustadz Abu Muawiyah 

Di antara permasalahan yang dibahas dalam bab ini adalah:

11. Hukum memakai cincin bagi lelaki.

12. Beberapa sunnah dalam bersisir dan mencukur rambut.

13. Haramnya qaza’ dalam mencukur rambut.

14. Sunnah Merubah Warna Uban Dengan Selain Warna Hitam.

Penjelasan :

14. Bolehnya Memakai Cincin Bagi Laki-laki :

Boleh bagi laki-laki untuk memakai cincin perak bukan cincin emas karena hal itu haram bagi mereka. Dan tempat cincin disunnahkan di jari kelingking berdasarkan hadits Anas radhiallahu ‘anhu dia berkata : ” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah cincin dan beliau berkata : sesungguhnya kami membuat sebuah cincin dan kami ukir padanya sebuah ukiran, hingga seseorang tidak lagi mengukir pada cincin tersebut”.

Anas berkata : Maka sungguh saya melihat kilauannya di jari kelingking beliau”[1].

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakai cincin di jari tengah dan jari telunjuk, dari Ali radhiallahu ‘anhu dia berkata : ” Beliau melarang, yang beliau maksudkan adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk memakai cincin pada jari ini, atau yang ada setelahnya –Ashim[2] tidak mengetahui di jari mana keduanya- ….al-hadits”[3].

Berdasarkan ini maka disunnahkan bagi orang yang ingin memakai cincin agar meletakkannya di jari kelingkingnya, dan makruh baginya meletakkan cincin tersebut di jari tengah dan jari setelahnya dan bentuk kemakruhannya adalah makruh tanzih[4].

Dan adapun di tangan yang mana seseorang bisa memakai cincin maka ini adalah perkara yang diperselisihkan oleh ulama. Karena adanya atsar bolehnya memakai pada jari ini dan jari itu.

An-Nawawi berkata : “Adapun hukum dalam masalah ini menurut para ulama maka mereka sepakat atas bolehnya memakai cincin di tangan kanan dan di tangan kiri dan tidak ada kemakruhan pada salah satu diantara keduanya. Dan mereka berselisih yang mana dari keduanya yang lebih utama. Mayoritas ulama salaf memakai cincin di tangan kanan, dan banyak pula yang memakainya di tangan kiri…[5].

Perkara ini adalah perkara yang lapang walillahil hamd.

15. Sunnahnya Memakai Wangi-wangian :

Wangi-wangian  termasuk perhiasan yang menentramkan jiwa, dan membangkitkan semangat, dan Rasul kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling wangi.

Anas radhiallahu ‘anhu berkata : “tidaklah saya menyentuh kain sutra dan kain ad-diibaaj yang lebih lembut dari pada telapak tangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak pula saya pernah mencium bau wangi atau bau semerbak yang lebih wangi dari bau dan semerbak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Dan lafazh pada riwayat Ad-Darimi : “Dan tidak sekalipun  saya pernah mencium bau wangi yang lebih wangi dari bau wangi misk beliau dan tidak pula bau wangi yang lainnya”[6].

Sunnah memakai wangi-wangian adalah perkara yang mubah bagi laki-laki dan perempuan di atas satu batasan, akan tetapi haram bagi mereka berdua dalam keadaan  ihram ketika haji atau umrah berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, secara marfu’ –tentang sahabat yang ontanya menginjaknya- beliau bersabda : “Jangan kalian beri wangi-wangian padanya”[7].

Dan berdasarkan hadits Ibnu Umar –secara marfu’- radhiallahu ‘anhuma, tentang seorang laki-laki yang bertanya tentang pakaian yang dia pakai ketika muhrim, maka beliau berkata : “Janganlah kalian memakai satu pun dari pakaian terkena aroma wangi az-za’faran dan wangi al-wars mengenainya”[8].

Dan –juga-khusus bagi wanita larangan dari memakai wangi-wangian  pada dua keadaan, keadaan pertama : dalam keadaan muhaddah (ditinggal mati) suami maka wanita terhalang dari memakai wangi-wangian selama empat bulan sepuluh hari berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyyah dan selainnya, bahwa dia berkata : “Kami dahulu dilarang membatasi waktu berkabung di atas tiga hari kecuali karena kematian suami selama empat bulan sepuluh hari, kami tidak boleh memakai celak, memakai wangi-wangian, memakai pakaian yang dicelup kecuali pakaian ‘ashab- dari serat sejenis tumbuhan -, dan telah diberikan keringanan bagi kami ketika suci apabila salah seorang dari kami mandi dari masa haidnya pada perasan kisti azhfar, dan kami dilarang mengikuti jenazah”[9].

Dan keadaan lainnya : Apabila seorang wanita mendatangi sebuah tempat yang padanya laki-laki asing, walaupun hanya lewat di jalan mereka dan mereka mendapati wangi wanita tadi maka wanita tersebut masuk di dalam larangan –dan keadaan ini yang banyak diabaikan oleh kaum wanita dan mereka memudah-mudahkan hal ini.  Sementara adanya keterangan yang sangat jelas di dalam sejumlah hadits dan adanya ancaman keras pada perkara tersebut[10].

Berdasarkan hadits Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Perempuan mana pun yang memakai wangi-wangian dan melewati satu kaum yang mendapati bau wangi wanita tersebut maka dia adalah wanita pezina”[11].

Dan berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata : “Seorang wanita menemuinya dan dia mendapati dari wanita tersebut bau minyak wangi yang tertiup angin dan pada ujung kainnya, maka Abu Hurairah berkata : Wahai hamba Al-Jabbar apakah kamu datang dari masjid? Wanita itu berkata : Iya. Abu Hurairah berkata : Sesungguhnya saya mendengar kekasihku Abu Al-Qasim Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidak diterima shalat seorang wanita yang memakai wangi-wangian untuk datang ke masjid ini sampai dia kembali dan mandi sebagaimana mandi janabah”[12].

16. Sunnah Dalam Perkara Menyisir Dan Mencukur Rambut :

Disunnahkan bagi laki-laki untuk menghiasi, membersihkan dan memberi perhatian kepada rambutnya, dan dalil sunnah itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami untuk berziarah di rumah kami tiba-tiba beliau melihat laki-laki yang kusut rambutnya, maka beliau berkata : “Apakah orang ini tidak mendapatkan sesuatu yang dapat menata rambut kepalanya “.

Dan beliau melihat laki-laki yang padanya pakaian yang kotor, maka beliau berkata : “Apakah orang ini tidak mendapatkan sesuatu yang dapat mencuci bajunya”[13].

Dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Barang siapa memiliki rambut maka hendaknya dia muliakan rambutnya”[14].

Akan tetapi rambut tersembut tidaklah dihias-hiasi, dibersihkan, dimuliakan dengan cara berlebih-lebihan yang keluar dari batasan yang dibenarkan oleh nalar , sehingga lebih  menyerupai wanita. Karena berlebih-lebihan di dalam menghiasi dan memperhatikan rambut merupakan kekhususan wanita.

Abdullah bin Mughaffal meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Melarang bersisir kecuali kadang-kadang saja”[15].

Dan dari Abu Humaid bin Abdurrahman dia berkata: saya pernah bertemu salah seorang yang menemani  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Abu Hurairah menemani beliau selama empat tahun, sahabar tersebut berkata : ” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang salah seorang dari kami untuk menyisir setiap hari”[16].

Adapun mencukur rambut : Ketahuilah yang pertama bahwa yang paling utama membiarkan rambut dalam keadaan terlepas sampai kedua daun telinga sebagaimana itu adalah rambut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Barra bin Azib radhiallahu ‘anhu berkata : ” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seseorang yang berpundak bidang, yang jarak antara pundak beliau jauh, dan rambut beliau yang mencapai daun telinga beliau….al-hadits”

Pada riwayat Muslim : “Rambut beliau sangat lebat  jummahnya[17] sampai pada daun di telinga beliau”[18].

Dan mencukur rambut terkadang menjadi perkara yang wajib, atau haram, atau sunnah atau mubah.

Hukum  wajib mencukur habis rambut : Apabila seseorang dalam haji dan umrah, dan orang yang melaksanakannya tidak dipendekkan rambutnya, atau tergolong penyerupaan kepada gaya rambut selain orang muslim….dan haram hukumnya mencukur rambut : Apabila tujuannya untuk beragama atau beribadah selain ibadah haji dan umrah sebagaimana yang diperbuat oleh sebagian orang-orang sufi … Sunnah mencukur rambut : Apabila seorang kafir masuk islam –terlebih lagi apabila rambutnya tebal. Atau apabila telah berlalu tujuh hari umur bayi yang lahir. Disunnahkan bagi walinya untuk mencukur kepalanya dan bersedekah dengan timbangan rambut tersebut.

Atau apabila rambut  telah sangat panjang yang mana telah melewati kadar rambut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam….dan disunnahkan mencukur rambut kepala –juga- apabila orang yang mencukur menutup kegantengan yang menjadi sumber fitnah sama saja apakah bagi laki-laki ataukah bagi perempuan…..Dan diperbolehkan mencukur rambut : Apabila seseorang tidak mampu memperhatikannya karena kesibukannya dengan urusan-urusan lainnya dan urusan-urusan tersebut lebih penting daripada mencukur rambut……(Al-Imam Ahmad berkata : “ Mencukur adalah Sunnah, kalau kami sanggup tentunya kami akan amalkan , akan tetapi mencukur memiliki tanggungan dan beban). Dan boleh mencukur rambut kepala untuk pengobatan[19].

Perhatian : Telah nampak ditengah-tengah pemuda cukuran rambut di atas keadaan yang syariat melarangnya, yaitu mencukur bagian kepala dan membiarkan yang lainnya, dan cukur itu dikenal di dalam sisi syar’i dan bahasa dengan cukur Al-Qaza’[20].

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma : Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “melarang dari perbuatan Al-Qaza’) dan dalam riwayat Muslim : ” Saya berkata kepada Nafi’ : Apakah Al-Qaza’ itu?  Dia berkata : Mencukur sebagian kepala anak kecil dan membiarkan sebagian lainnya”[21].

Ibnul Qayyim berkata : “ Al-Qaza’ ada beberapa macam : salah satunya : mencukur satu bagian dari kepala dari sini dan sini. Diambil dari gumpalan awan, yaitu yang bergumpal-gumpal. Kedua : mencukur tengahnya dan membiarkan sisi-sisinya, sebagaimana penjaga geraja kaum nashara lakukan. Ketiga : mencukur sisi-sisinya dan membiarkan tengahnya. Sebagaimana kebanyakan dari rakyat jelata dan rendahan lakukan. Keempat : mencukur bagian depan kepala dan membiarkan bagian akhir, dan semua macam tadi masuk bagian dari Al-Qaza’ wallahu a’lam.[22].

Faedah : Disunnahkan bagi yang ingin mencukur rambutnya pertama-tama hendaknya memulai dari sisi kanan dari rambut kemudian yang kiri. Yang demikian itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Mina, kemudian mendatangi Al-Jumrah dan melontar Jumrah, kemudian mendatangi rumah beliau di Mina dan menyembelih kurban, kemudian berkata kepada tukang cukur; ambillah seraya menunjuk kepada sisi kanan kepala, kemudian sisi kiri, maka mulailah beliau memberikan pelajaran kepada manusia lainnya”[23]

17. Sunnah Bagi Laki-laki Melebatkan Jenggot Dan Memotong Kumis :

Sunnah yang wajib bagi laki-laki adalah melebatkan jenggot dan membiarkannya tumbuh, dan memendekkan kumis dan mencukurnya.

Dan perkara ini bukan perkara yang lapang bagi kita sehingga kita bisa mengamalkannya sesuka kita dan meninggalkannya sesuka kita, bahkan perkara ini adalah perkara yang wajib bagi kita, maka wajib mengamalkan dan ta’at padanya.

Allah ta’ala berfirman :

“ Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin laki-laki dan tidak juga wanita, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, bagi mereka memilih perkara lainnya bagi mereka. Dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata “(Al-Ahzab : 36 ).

Yaitu tidak sepatutnya dan tidak pantas, bagi orang yang disifatkan dengan keimanan kecuali bersegera kepada keridhaan Allah dan Rasulnya, dan menjauhi dari kemurkaan Allah dan rasulnya, dan melaksanakan perintah keduanya, dan menjauhi larangan keduanya. Maka tidak layak bagi laki-laki dan perempuan yang beriman :  “Apabila Allah dan rasulnya menetapkan satu perkara” [Al-Ahzab : 36] dari perkara-perkara agama yang ada, dan mewajibkannya serta mengharuskannya :

” adanya pilih memilik dari perkara tersebut” [Al-Ahzab : 36] : Yaitu : pilihan, apakah mereka laksanakan atau tidak? Bahkan seorang mukmin dan mukminah mengetahui bahwa Rasul lebih utama akan hal tersebut daripada dirinya, maka janganlah ia menjadikan sebagian hawa nafsunya menjadi penghalang dirinya dengan Allah dan Rasulnya, demikian dari  perkataan Ibnu Sa’di[24].

Dan hadits-hadits tentang perintah memelihara jenggot dan memotong kumis dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat banyak dan lafazh-lafazhnya bermacam-macam diantaranya : “Lebatkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis”[25].

Dan lafazh lainnya : “Habiskanlah kumis dan biarkanlah jenggot”[26].

Dan lafazh lainnya : “Selisihilah orang-orang musyrik, potonglah kumis dan peliharalah jenggot”[27].

Dan diantaranya : “Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot. Dan selisihilah orang-orang Majusi”[28].

Perintah memelihara jenggot dan memotong kumis ada mengandung dua perkara : Yang pertama : Perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib yang tidak ada yang memalingkan dari kewajiban tersebut. Perintah yang tidak boleh seorang mukmin menyelisihinya bagaimanapun juga. Kedua : Perintah menyelisihi orang-orang musyrik, dan telah diketahui dari nash-nash syariat bahhwa meniriu-niru mereka adalah perkara yang haram. Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim kembali dengan segera kepada perintah Allah dan Rasulnya dan tidak menyelisihi perintah mereka berdua sampai tidak terjadi fitnah atau mendapatkan adzab yang pedih. Allah ta’ala berfirman:

“ Dan hendaknya mereka yang menyelisihi perintah Rasul berhati-hati, akan tertimpa fitnah bagi mereka ataukah mereka akan ditimpakan adzab yang pedih “(An-Nuur : 63).

Sebagian ulama  mengulas pembahaan tentang mengambil sebagian dari jenggot panjang dan lebarnya, berpegang dengan atsar para salaf yang mulia, akan tetapi lafazh-lafazh yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat jelas dan cukup untuk masalah ini, dan hujjah ada pada perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pada perkataan atau perbuatan sahabat dan pengikut beliau.

Pendapat yang terpilih adalah membiarkan jenggot sesuai keadaannya, dan agar tidak memendekkannya sesuai hukum asalnya, dan pendapat yang terpilih di dalam masalah kumis adalah tidak menghabiskannya dan menyisakan sedikit pada ujung bibir. Wallahu a’lam, Demikian dikutip dari perkataan An-Nawawi[29].

18. Sunnah Merubah Warna Uban Dengan Selain Warna Hitam :

Disunnahkan bagi yang rambut kepala dan wajahnya telah beruban untuk merubah warnanya dengan mencat, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Yahudi dan Nashrani tidak mencat rambut-rambut mereka maka selisihilah mereka”[30].

Akan tetapi hendaknya warna hitam dijauhi berdasarkan larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari mencat dengan warna tersebut. Pada tahun Futuh Makkah ketika Abu Qahafah didatangkan kepada beliau dan kepala dan jenggotnya putih maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Rubahlah warna rambut ini dengan sesuatu dan jauhilah warna hitam”[31].

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Jauhilah warna hitam” adalah nash yang pasti tentang pengharaman. Maka warna putih dirubah dengan warna apa saja selain warna hitam, dan larangan ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan dengan batasan yang sama.

Ditanyakan kepada Al-Imam Ahmad : Apakah engkau membenci mencat rambut dengan warna hitam? Beliau berkata : “ Iya demi Allah; dikarenakan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  kepada  ayah Abu Bakar radhiallahu ‘anhuma “Jauhilah warna hitam”[32].

Faedah :

Wahai laki-laki yang ubannya dihitamkan

Supaya dianggap sebagai pemuda

Berhentilah walaupun setiap burung merpati putih dihitamkan

Tidaklah ia dianggap bagian dari burung gagak[33]

Bersambung ke Bagian 5 (Terakhir) : Pembahasan Tentang Bercelak :


[1] HR. Al-Bukhari (5874) dan lafazh hadits lafazh dari riwayat beliau, Muslim (2092) Ahmad (12309) At-Tirmidzi (2718) An-Nasaa’i (5201) dan Abu Daud (4214).

[2] Dia adalah Ashim bin Kulaib salah satu yang meriwayatkan hadits ini.

[3] HR. Muslim (2078) Abu Daud (4225) di dalam riwayat Abu Daud adanya penyebutan secara jelas tentang jari-jari yang perawi ragu padanya, dia berkata : (dan beliau melarang saya untuk meletakkan cincin di jari ini dan jari ini, telunjuk dan jari tengah –Ashim ragu- ..).

[4] Lihat Syarh Muslim karya An-Nawawi jilid 7 (14/59).

[5] Syarah Muslim karya An-Nawawi  jilid ketujuh (14/59).

[6] HR. Al-Bukhari (3561) dan Ad-Darimi (61).

[7] HR. Al-Bukhari (1850) lafazh hadits dari lafazh beliau, Muslim (1206) Ahmad (1853) At-Tirmidzi (951) An-Nasaa’i (1904) Abu Daud (3238) Ibnu Majah (3084) dan Ad-Darimi (1852).

[8] HR. Al-Bukhari (5803) Muslim (1177) Ahmad (4468) At-Tirmidzi (833) An-Nasaa’i (2666) Abu Daud (1823) Ibnu Majah (2932) Malik (717) dan Ad-Darimi (1758).

[9] HR. Al-Bukhari (313) Muslim (938) Ahmad (20270) An-Nasaa’i (3534) Abu Daud (2302) Ibnu Majah (2087) dan Ad-Darimi (2286).

[10] Dan diantara perkara yang sebagian wanita meremehkannya –semoga Allah memberi hidayah kepada mereka- adalah mereka berkendaran bersama supir-supir- yang ajnabi (yang bukan mahram)- dan mereka dalam keadaan memakai wangi-wangian!, dan kami tidak tahu mereka anggap apa supir itu? Apakah dia itu perempuan yang boleh berdua-duaan dengannya dan boleh memakai wangi-wangian di sisinya, ataukah dia laki-laki –ajnabi (bukan mahram)- yang haram berada di sisinya sebagaimana haramnya berada di sisi laki-laki ajnabi lainnya?.

[11] HR. Ahmad (19248) An-Nasaa’i (5126) dan Al-Albani menghasankannya dengan no. (4737), Abu Daud (4173) At-Tirmidzi (2786) dan Ad-Darimi (2646).

[12] HR. Muslim (444) Abu Daud (4174) dan lafazh hadits ini lafazh beliau, Ahmad (7309) dan An-Nasaa’i (5128).

[13] HR. Ahmad (14436) An-Nasaa’i (5236) Abu Daud (4062) dan Ibnu Abdil Bar membawakan sanadnya di dalam At-Tamhid (5/51), dan Ibnu Hajar berkata tentang hadits tersebut : Abu Daud dan An-Nasaa’i mengeluarkannya dengan sanad hasan (Al-Fath 10/379-380). Dan Al-Albani menshahihkan riwayat Abu Daud dan An-Nasaa’i.

[14] HR. Abu Daud (4163) dan Al-Albani berkata : “hadits hasan shahih”.

[15] HR. Ahmad (16351) At-Tirmidzi (1756)  Abu Daud (4189) Al-Albani menshahihkannya. Dan An-Nasaa’i (5055).

[16] HR. An-Nasaa’i (5053) Abu Daud (28) Ibnu Hajar berkata : An-Nasaa’i mengeluarkannya dengan sanad yang shahih”. Dan Al-Albani menshahihkannya. Dan riwayat An-Nasaa’i dengan no. (4679).

[17] Al-Jummah adalah bagian dari rambut kepala : apa yang terurai di atas pundak. (Lisan Al-Arab 12/107) bahasan: ج م م.

[18] HR. Al-Bukhari (3551) Muslim (2337) Ahmad (18086) At-Tirmidzi (1723) An-Nasaa’i (5070) dan Abu Daud (4183).

[19] Sya’ru ar-Ra`si (Ahkaam wa fawaa`id mutanawwi’ah ‘an Syi’ir Ar-Ra`si ) karya Al-Akh Sulaiman Al-Kharrasyi. (dengan sedikit perubahan). Dan merupakan makalah yang baik dalam babnya. Cetakan Daar Al-Qasim. Cetakan pertama 1419 Hijriyah- dan perkataan Al-Imam Ahmad penulis menyuntingnya dari Hasyiah kitab Ar-Raudh (1/162). Dan juga kamu akan mendapatinya di dalam Al-Adab Asy-Syar’iyyah (3/328).

[20] Di dalam Al-Lisan : Al-Quzza’ah/Al-Quz’ah : salah satu bentuk dari model rambut yang dibiarkan pada kepala anak kecil seperti jambul-jambul yang terpisah di ujung kepala. Al-Qaza’ : Mencukur kepala anak kecil dan membiarkan sebagian lainnya pada beberapa tempat dari kepala sedangkan rambutnya terpisah-pisah, dan hal tersebut dilarang. (8/271-272) Bahasan : ق ف ذ

[21] HR. Al-Bukhari (5921) Muslim (2120) Ahmad (4459) An-Nasaa’i (5050) Abu Daud (4194) dan Ibnu Majah (3637).

[22] Tuhfat Al-Waduud Bi-Ahkaam Al-Maulud. (hal. 119) cetakan Daar Al-Jiil. Cetakan pertama 1408 H.

[23] HR. Muslim (1305) At-Tirmidzi (612) dan Abu Daud (1981).

[24] Tafsir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan. (6/222-223).

[25] Al-Bukhari (5892).

[26] Al-Bukhari (5893).

[27] Muslim (259)/54.

[28] Muslim (259)/55.

[29] Syarah Muslim jilid ke dua (3/123).

[30] HR. Al-Bukhari (5899) Muslim (21003) Ahmad (7233) An-Nasaa’i (5069) Abu Daud (4203) dan Ibnu Majah (3621).

[31] HR. Muslim (2102) Ahmad (1399) An-Nasaa’i (5076) Abu Daud (4204) dan Ibnu Majah (3624).

[32] Al-Adaab As-Syar’iyyah (3/334-335).

[33] Al-Adaab As-Syar’iyyah (3/336).

SUMBER : http://al-atsariyyah.com/?p=640

ADAB BERPAKAIAN & BERHIAS (iii) : Hukum Pakaian bersalib, bergambar, warna putih dan merah

ADAB BERPAKAIAN DAN BERHIAS

Penulis Al-Ustadz Abu Muawiyah 

Di antara permasalahan yang dibahas dalam bab ini adalah:

6. Haramnya Memakai Pakaian Yang Ada Padanya tanda salib atau Gambar bernyawa.

7. Apakah sah shalat orang yang shalat dengan pakaian yang ada padanya gambar-gambar atau salib?

8. Beberapa Sunnah Dalam Memakai Sandal.

9. Sunnahnya Memakai Pakaian Putih.

10. Hukum memakai pakaian berwarna merah.

Penjelasan :

9. Haramnya Memakai Pakaian Yang Ada PadanyaShalban (SALIB) Atau Gambar :

Maksud kata Shalban adalah apa yang ada padanya gambar salib, dan maksud gambar disini adalah gambar bernyawa. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingkari Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anha ketika Aisyah membuatkan bantal yang bergambar sesuatu yang bernyawa untuk beliau.

Dari Al-Qasim dari Aisyah radhiallahu ‘anha : “Bahwa Aisyah membeli bantal yang ada padanya gambar-gambar, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di pintu dan tidak masuk, maka aku (Aisyah) berkata : “Saya bertaubat kepada Allah dari dosa yang kuperbuat.” Beliau berkata : “ Bantal apa ini?” Aisyah berkata : “Untuk engkau duduk di atasnya dan engkau jadikan bantal ”. Beliau berkata : “Sesungguhnya pembuat bantal ini akan diadzab di hari kiamat, dikatakan kepada mereka hidupkanlah oleh kalian apa yang telah kalian ciptakan, dan sesungguhnya malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang ada padanya gambar”[1].

An-Nawawi mengatakan : “ Ulama berkata : sebab terhalangnya mereka (yaitu malaiakat) dari rumah yang ada padanya gambar karena keberadaannya adalah perbuatan maksiat yang keji, dan ada padanya penyamaan terhadap makhluk ciptaan Allah ta’ala, dan sebagian gambar tersebut adalah sesuatu yang disembah selain Allah ta’ala ”[2].

Dari Imran bin Haththan bahwa Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan kepadanya, beliau berkata : “Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan sesuatu pun di dalam rumah yang ada padanya salib kecuali beliau melepaskannya”[3]. Dan lafazh riwayat Ahmad : “ Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  meninggalkan pakaian yang bergambar salib dirumah eliau kecuali beliau melepaskannya “

Dari apa yang telah lalu menjadi jelaslah bagi kita dengan sejelas-jelasnya haramnya memakai pakaian yang ada padanya gambar yang bernyawa atau salib, dan barang siapa yang dicoba dengan salah satu dari perkara tersebut maka hendaknya dia bertakwa kepada Allah dan agar menghapusnya dan merubah perilakunya. Kemudian apabila dia kehendaki dia dapat mempergunakannya dan mengambil memanfaatkannya, sebagaimana yang dilakukan Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata : ” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari suatu perjalanan dan saya telah memasang tirai dengan kain tipis bergambar bernyawa milik saya pada bagian atas lubang angin rumah saya. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya beliau menyobeknya, dan beliau berkata : “ Manusia yang paling keras adzabnya di hari kiamat adalah orang-orang yang menyaingi ciptaan Allah “. Aisyah berkata : “ Maka kami menjadikan kain tersebut menjadi satu atau dua bantal”[4].

Masalah : Apakah sah shalat orang yang shalat dengan pakaian yang ada padanya gambar-gambar atau salib?

Jawaban : Al-Lajnah Ad-Daa`imah berkata di dalam salah satu fatwanya : tidak boleh seseorang shalat dengan memakai pakaian yang ada padanya gambar-gambar bernyawa apakah gambar manusia, burung, hewan-hewan ternak atau selainnya yang bernyawa, dan tidak boleh bagi seorang muslim untuk memakainya pada selain shalat.  Namun seseorang yang shalat dengan memakai pakaian yang ada padanya gambar bernyawa, shalatnya sah, namun dia berdosa, jikalau mengetahui hukum syar’i ….(pada jawaban lain tentang memakai jam atau salib Al-Lajnah menyatakan : ) Tidak boleh memakai jam atau salib, tidak di dalam shalat tidak pula pada selainnya sampai salib itu dihilangkan apakah dengan mengeruknya atau dengan sesuatu yang menutupinya, akan tetapi apabila seseorang shalat dan jam tangan/salib itu ada padanya maka shalatnya shahih, dan wajib atasnya bersegera menghilangkan salib, karena hal itu bagian dari syi’ar Nashrani, dan tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyerupai mereka[5].

10. Termasuk Perkara Sunnah Mendahulukan Bagian Yang Kanan Ketika Memakai Pakaian dan Yang Semisalnya :

Dalil amalan tersebut adalah hadirts Aisyah, Ummul mukminin radhiallahu ‘anha, beliau berkata : ” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai mendahulukan kanan di dalam bersuci, menyisir dan memakai sandal”. Pada lafazh Muslim : ” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammenyukai mendahulukan kanan di dalam bersendal, menyisir dan bersuci”[6].

An-Nawawi  berkata : “Ini adalah aturan baku didalam syariat, yaitu apabila suatu amalan tergolong sebagai penghormatan dan pemuliaan, seperti memakai pakaian, celana, sepatu, masuk masjid, siwak, bercelak, memotong kuku, memendekkan kumis, menyisir rambut, mencabut ketiak, mencukur rambut, salam di dalam shalat, mencuci anggota bersuci, keluar dari wc, makan dan minum, bersalaman, mecium hajar aswad, dan selain itu dari perkara yang termasuk dari makna tadi yang disunnahkan mendahulukan yang kanan, adapun perkara yang merupakan kebalikan dari yang telah disebutkan seperti masuk wc, keluar dari masjid, membuang ingus, al-istinja` – membersihkan dubur atau qubul setelah buang hajat -, melepas baju, celana dan sepatu, dan yang semisalnya yang disunnahkan mendahulukan bagian yang kiri padanya, dan semua itu disebabkan untuk memuliakan bagian yang kanan, wallahu a’lam[7].

11. Sunnah Dalam Memakai Sandal :

Disunnahkan seseorang memasukkan bagian yang kanan terlebih dahulu kemudian bagian yang kiri, dan ketika melepaskan kedua kaki bagian yang kiri terlebih dahulu kemudian yang kanan.

Sunnah itu disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah radhilallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila salah seorang diantara kalian memakai sandal hendaknya dia memulai dengan yang kanan, dan apabila dia melepaskannya hendaknya dia mulai dengan yang kiri, hendaknya bagian yang kanan yang pertama yang dipakaikan sandal dan yang terakhir dilepas”[8].

Dan dimakruhkan bagi seorang muslim untuk berjalan dengan satu sandal Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila tali sandal salah seorang diantara kalian putus maka janganlah ia berjalan dengan memakai satu sandal sampai dia memperbaikinya”[9].

Dan dari beliau radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah salah seorang dari kalian berjalan dengan satu sandal hendaknya dia melepaskan keduanya atau memakai keduanya”[10].

Dan semua yang disebutkan agar diketahui hukumnya sebatas sunnah dan tidak sampai derajat wajib, maka barang siapa yang menghadapi suatu kejadian atau sandal atau sepatunya putus hendaknya dia berhenti sampai dia memperbaiki sandalnya atau melepas sandal yang satunya dan menyelesaikan perjalanannya. Tidak sepatutnya bagi seorang mukmin menyelisihi larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun hanya perkara yang makruh tidak sampai pada perkara yang haram.

Hendaknya seseorang itu membiasakan dirinya agar berada di atas petunjuk Nabi bagi secara zhahir maupun secara bathin, dan agar meraih kemulian ittiba’ yang hakiki.

Ketahuilah bahwa ulama menyebutkan beberapa sebab larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan dengan satu sandal. An-Nawawi berkata : “ Ulama berkata : Sebabnya karena hal itu perkara yang buruk dan hukuman serta menyelisihi kewibawaan, karena memakai satu sandal menjadikan yang satu menjadi lebih tinggi dari yang lainnya maka jalannya menjadi susah bahkan hal itu menjadi sebab seseorang tergelincir[11] dan selainnya.

Kemudian saya mendapati bahwa Syaikh Al-Albani rahimahullah membawakan di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah hadits yang diriwayatkan oleh At-Thahawi di dalam Musykil Al-Atsar : Dari hadits  Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Sesungguhnya syaithan berjalan dengan mengenakan satu sandal”[12]. Berpedoman dengan hadits ini akan menjadi jelas bagi kita sebab larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari berjalan di atas satu sandal, dan bahwa hal itu merupakan jalannya syaithan. Apabila hal itu telah shahih dalam syariat Islam cukuplah bagi kita dari segala upaya untuk menguak sebab dari larangan tersebut..

Faedah : termasuk perkara sunnah adalah bertelanjang kaki – kadang-kadang- yaitu berjalan dalam keadaan tidak memakai alas kaki.

Dari Abu Buraidah radhiallahu ‘anhu bahwa salah seorang dari sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadakan perjalanan mengunjungi Fudhalah bin Ubaid dan dia ada di Mesir. Lalu sahabat tadi tiba kepadanya dan berkata : “Adapun saya tidak datang ziarah kepadamu akan tetapi saya dan kamu saling mendengar satu hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya harap ilmu ada padamu tentang hadits tersebut. Fudhalah berkata : Apakah itu? Sahabat tadi berkata : Begini dan begitu. Sahabat itu berkata : Mengapa saya melihat kamu dalam keadaan kusut sedangkan kamu adalah pemimpin suatu daerah ? Fudhalah berkata : sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami dari sering bermewah-mewah. Sahabat tadi berkata : Mengapa saya tidak melihat engkau memakai sepatu? Fudhalah berkata : adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami agar bertelanjang kaki sekali waktu”[13].

12. Apa Yang Diucapkan ketika Memakai Sesuatu Yang Baru :

Ada beberapa doa-doa yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau ucapkan ketika memakai sesuatu yang baru diantaranya :

a. “Ya Allah milikmulah segala pujian engkaulah yang memakaikannya kepadaku, aku memohon kepadamu dari kebaikan benda ini dan kebaikan yang dia dibuat karenanya, dan aku berlindung kepadamu dari kejelekan benda ini dan kejelekan yang dia dibuat karenanya”.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu dia berkata : ” Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemukan pakaian beliau menamakannya dengan nama pakaian tersebut, apakah itu berupa gamis ataukah imamah kemudian mengucapkan : ” Ya Allah milikmulah segala pujian engkaulah yang memakaikan pakaian ini kepadaku, aku memohon kepadamu dari kebaikan pakaian ini dan kebaikan yang dia dibuat karenanya, dan aku berlindung kepadamu dari kejelekan pakaian ini dan kejelekan yang dia dibuat karenanya…al-hadits”[14].

b. “Segala puji bagi Allah yang telah memakaikan pakaian ini kepadaku dan yang telah merizkikannya kepadaku tanpa adanya usaha dariku dan tidak pula kekuatan”.

Dari Mu’adz bin Anas, beliau  : Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Barang siapa yang memakan makanan kemudian berkata : Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepadaku makanan ini dan memberikan rizki ini kepadaku tanpa adanya usaha dariku dan tanpa kekuatan, niscaya dosa-dosanya yang terdahulu [dan yang akan datang] diampuni baginya, dan barang siapa yang memakai pakaian dan mengucapkan : Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku dan memberikan rizki ini kepadaku tanpa ada usaha dariku dan tanpa kekuatan, niscaya dosa-dosanya yang terdahulu dan [yang akan datang] diampuni baginya”[15].

Dan disunnahkan bagi orang yang memakai pakaian yang baru untuk mengucapkan :

a. “Pakailah yang baru, hidup mulialah, dan matilah dalam keadaan syahid”.

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : ” Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Umar mengenakan pakaian putih, maka beliau berkata : “ Pakaianmu ini apakah sudah dicuci ataukah baru ?” Umar berkata : Tidak, bahkan dia pakaian yang sudah dicuci[16].

Beliau berkata : “ Pakailah yang baru, dan hiduplah yang mulia dan matilah dalam keadaan syahid“[17].

Dan perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Pakailah yang baru” : bentuk perintah namun yang diinginkan dengannya adalah doa agar Allah berkenan memberikan kepadanya rizki berupa pakaian baru[18].

b. “Jikalau telah usang semoga Allah ta’ala menggantikannya”.

Ummu Khalid bintu Khalid bin Sa’id meriwayatkannya dan berkata : “Didatangkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pakaian Khamishah yang berwarna hitam yang kecil. Beliau bersabda : “Siapa menurut kalian yang sesuai dengan pakaian ini ? “ Orang-orang yang ada semuanya terdiam. Beliau berkata : “ Datangkan kepadaku Ummu Khalid ”.  Maka didatangkan kepada beliau Ummu Khalid maka beliau mengambil kain khamishah tadi dan memakaikannya kepadanya dan bersabda : “Kalaulah kain ini telah usang semoga Allah menggantikannya.”

Dan pada kain tersebut gambar berwarna hijau atau berwarna kuning, beliau berkata : wahai Ummu Khalid ini bagus, ini bagus (dalam bahasa Habasyah)”[19].

Abu Nadhrah berkata tentang hadits Abu Sa’id Al-Khudri –yang lalu- : Apabila salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai pakaian baru maka dikatakan kepadanya : Apabila telah usang semoga Allah ta’ala menggantikannya“[20].

Faedah : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ummu Khalid dengan kunyahnya bukan dengan namanya, dalam hal ini adanya penjelasan tentang perhatian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak kecil dan baiknya kelembutan beliau kepada mereka. Memanggil anak kecil yang laki-laki maupun yang perempuan dengan kunyah sebagai pengganti nama mereka, memberi kesan bagi mereka akan adanya perhatian kepada mereka dan bahwa mereka juga memiliki derajat dan kedudukan sebagaimana orang besar. Barang siapa yang mencoba hal ini akan mengetahui hal tersebut.

Catatan penting: Wajib untuk merealisasikan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hal mendahulukan kanan, dan disini disunnahkan mendahulukan bagian kanan ketika memakai sesuatu dan mendahulukan kiri ketika melepas sesuatu.

13. Sunnahnya Memakai Pakaian Putih :

Masalah ini dit rangkan didalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Pakailah oleh kalian pakaian kalian yang putih karena pakian putih adalah sebaik-baik pakaian kalian, dan kafanilah pada kain putih itu jenazah-jenazah kalian…al-hadits”[21].

Dan dari jalan Samrah bin Jundab radhiallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Pakailah dari pakaian kalian yang putih karena pakaian putih itu lebih suci dan lebih baik, dan kafanilah pada kain putih itu jenazah-jenazah kalian”[22].

Dan yang berlawanan dengan putih Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakai pakaian mu’ashfar – pakaian yang diberi pewarna kuning – dan pakaian yang dicelup dengan warna merah[23].

Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash dia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat saya mengenakan dua pakaian yang mu’ashfar maka beliau berkata : sesungguhnya pakaian ini adalah pakaian orang kafir maka janganlah kamu memakainya” dan di dalam lafazh yang lain : Beliau berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat saya mengenakan dua pakaian yang mu’ashfar. Maka beliau berkata : “Apakah ibumu yang memerintahkan kamu memakai pakaian ini?”

Saya berkata : Saya akan mencuci keduanya. Beliau berkata : “Bahkan bakarlah keduanya”[24].

Perkataan beliau : “Apakah ibumu yang memerintahkan kamu memakai baju ini?” maknanya bahwa pakaian ini termasuk pakaian wanita, seragam dan akhlak mereka, adapun perintah untuk membakar dikatakan bahwa hal itu adalah hukuman dan sikap keras dan teguran kepada Abdullah bin Amru bin Al-Ash dan juga kepada selainnya dari semisal perbuatan ini, sebagaimana An-Nawawi katakan[25].

Dan terkadang larangan memakai mu’ashfar dikarenakan adanya bentuk tasyabbuh (penyerupaan) kepada orang-orang kafir, dan hal ini lebih utama untuk dibawakan kepadanya dikarenakan hadits yang menerangkan tentang hal itu : “Sesungguhnya ini adalah pakaian orang-orang kafir maka janganlah kamu memakainya”.

Masalah : Bagaimana menggabungkan antara larangan memakai pakaian yang dicelup dengan warna merah, dan dengan hadits yang shahih dalam riwayat Al-Bukhari dari hadits Al-Barra’ radhiallahu ‘anhu bahwa dia berkata : ” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk dengan menyilangkan kaki beliau, dan saya melihat beliau memakai kain Hullahyang berwarna merah dan saya tidak pernah melihat sesuatu yang lebih bagus dari pakaian tersebut”[26] .

Jawab : Bahwa larangan tersebut berlaku bagi pakaian yang murni berwarna merah, adapun apabila pada pakaian tersebut terdapat gambar dari warna-warna lain maka hal itu tidak mengapa. Ibnu Hajar mengemukakan di dalam Al-Fath tujuh pendapat tentang hukum memakai pakaian berwarna merah, kami menyebutkan pendapat yang kami anggap mendekati kebenaran di dalam masalah ini –dan pendapat ini adalah pendapat yang kuat-.

Beliau berkata : “ Larangan dikhususkan pada pakaian yang dicelup seluruhnya, adapun yang ada padanya warna lainnya selain warna merah seperti putih, hitam dan selain keduanya maka tidak mengapa, maka berdasarkan pendapat ini, hadits-hadits yang menyebutkan kain hullah yang berwarna merah digiring kepada makna ini, karena kain hullah Yaman kebanyakannya memiliki garis-garis merah dan warna lainnya.

Ibnul Qayyim berkata : “ Sebagian ulama memakai pakaian yang dicelup warna merah dan menyangka bahwa hal itu mengikuti sunnah, ini adalah kekeliruan, karena kainhullah yang berwarna merah terbuat dari burdah Yaman dan kain burdah tidak dicelup dengan warna merah polos[27].

Bersambung ke Bagian iv : Bolehnya Memakai Cincin Bagi Laki-laki :


[1] HR. Al-Bukhari (5957) Muslim (2107) Ahmad (25559) dan Malik (1803).

[2] Syarh Muslim jilid ke tujuh (14/69).

[3] HR. Al-Bukhari (5952) Ahmad (23740) dan Abu Daud (4151).

[4] HR. Al-Bukhari (5954) dan lafazh hadits lafazh beliau, Muslim (2107), Ahmad (24197) An-Nasaa’i (761) dan Ibnu Majah (3653).

[5] Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah nomer (5611) (6/179) dan nomer (2615) (6/183).

[6] HR. Al-Bukhari (5854) Muslim (268) Ahmad (24106) At-Tirmidzi (608) An-Nasaa’i (421) Abu Daud (4140) dan Ibnu Majah (401).

[7] Syarah Shahih Muslim jilid kedua (3/131).

[8] HR. Al-Bukari (5856) Muslim (2097) Ahmad (7753) At-Tirmidzi (1779) Abu Daud (4139) Ibnu Majah (3616) dan Malik (1702).

[9] HR. Muslim (2098) Ahmad (9199) dan An-Nasaa’i (5369).

[10] HR. Al-Bukhari (5855) Muslim (2098) Ahmad (7302) At-Tirmidzi (1774) Abu Daud (4136) Ibnu Majah (3617) dan Malik (1701).

[11] Syarh shahih Muslim jilid 7 (14/62).

[12] Al-Albani berkata setelah membawakan sanadnya : hadits ini sanadnya shahih dan perawinya seluruhnya tsiqah dan merupakan para perawi yang dipergunakan oleh As-Syaikhani selain Ar-Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi dan dia perawi yang tsiqah. Lihat As-Silsilahtus Ash-Shahihah dengan no. (348) (1/616-617).

[13] HR. Ahmad (23449) Abu Daud (4160) lafazh hadits lafazh beliau dan Al-Albani menshahihkannya.

[14] HR. At-Tirmidzi (1767) Abu Daud (4160) dan lafazh hadits lafazh beliau dan Al-Albani menshahihkannya.

[15] HR. Abu Daud (4023) dan lafazh hadits lafazh darinya, dan Al-Albani menghasankannya tanpa adanya tambahan [dan yang akan datang] pada dua tempat. Dan Ad-Darimi (2690).

[16] Al-Albani berkata : dan di dalam riwayat lain (baru). Shahih Ibnu Majah (3/188). Cet. Maktabah Al-Ma’arif. Ar-Riyadh cetakan pertama untuk cetakan yang baru 1417 H.

[17] HR. Ahmad (5588) Ibnu Majah (3558) dan lafazh hadits lafazhnya, dan Al-Albani menshahihkan dengan no. (2879).

[18] Lihat Syarah Sunan Ibnu Majah karya As-Sindi atas hadits ini (3558).

[19] HR. Al-Bukhari (5833) Ahmad (26517) dan Abu Daud (4023).

[20] HR. Abu Daud (4020) dan hadits ini penyempurna hadits Abu Sa’id Al-Khudri yang telah berlalu penyebutannya.

[21] HR. Ahmad (2220) Abu Daud (3061) Al-Albani berkata : “shahih”, Ibnu Majah (1472) dan At-Tirmidzi (994).

[22] HR. Ahmad (19599) An-Nasaa’i (5322) Al-Albani menshahihkannya dengan no. (4915), dan Ibnu Majah (35 67).

[23] Al-Mu’ashfar : kain yang dicelup dengan celupan warna kuning. Dan Ibnu Hajar berkata : kebanyakan dicelup dengan ashfar menjadi merah. (lihat Fathul Bari 10/318).

[24] HR. Muslim (2077) dan lafazh hadits ini lafazh beliau, Ahmad (6477) dan An-Nasaa’i (5316).

[25] Syarhu Muslim jilid ketujuh (14/45).

[26] HR. Al-Bukhari  (95901), Muslim (2337) Ahmad (1819) At-Tirmidzi (1724) An-Nasaa’i (5060) dan Abu Daud (4183).

[27] Fathul Bari (10/319). Saya katakan : dan berdasarkan pendapat ini maka (pakaian Asy-Syammagh merah) yang penduduk negeri Najed memakainya tidak termasuk di dalam larangan karena bukan merah yang dirubah.

SUMBER : http://al-atsariyyah.com/?p=640

ADAB BERPAKAIAN & BERHIAS (i) : Apakah Paha laki-laki Adalah Aurat?

ADAB BERPAKAIN DAN BERHIAS

Penulis Al-Ustadz Abu Muawiyah

 

Di antara permasalahan yang dibahas dalam bab ini adalah:

1. Apakah Paha laki-laki Adalah Aurat?

2. Haramnya Laki-laki Menyerupai Wanita Dan Wanita Menyerupai Laki-laki.

3. Haramnya isbal (Menyeret Kain sampai di bawah mata kaki).

4. Haramnya Pakaian Syuhroh (agar menjadi terkenal karena pakaian tersebut) dan apa yang dimaksud dengannya.

5. Haramnya Emas Dan kain Sutra bagi Laki-laki Kecuali Ada Udzur.

6. Haramnya Memakai Pakaian Yang Ada Padanya tanda salib atau Gambar bernyawa.

7. Apakah sah shalat orang yang shalat dengan pakaian yang ada padanya gambar-gambar atau salib?

8. Beberapa Sunnah Dalam Memakai Sandal.

9. Sunnahnya Memakai Pakaian Putih.

10. Hukum memakai pakaian berwarna merah.

11. Hukum memakai cincin bagi lelaki.

12. Beberapa sunnah dalam bersisir dan mencukur rambut.

13. Haramnya qaza’ dalam mencukur rambut.

14. Sunnah Merubah Warna Uban Dengan Selain Warna Hitam.

15. Perhiasan Apa Saja Yang Haram Atas Wanita?

16. Haramnya menyambung rambut, mentato, menyambung rambut dan mengukir gigi untuk terlihat bagus.

Allah -Ta’ala- berfirman :

“Wahai bani Adam, telah kami turunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi auratkalian dan juga perhiasan. Sedangkan pakaian takwa , demikian itu lebih baik. Demikian itu adalah salah satu dari ayat-ayat Allah, agar mereka mau mengingatnya. Wahai Bani Adam, janganlah sampai syaithan menimpakan fitnah kepada kalian sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua orang tua kalian dari surga, dan meninggalkan pakaian mereka berdua sehingga auratnya tersingkap. Sesungguhnya syaithan, dia dan pengikutnya dapat melihat kalian dari tmepat yang kalian tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan para syaithan sebagai wali bagi orang-orang yang tidak beriman “( Al-A’raf : 26 – 27 ).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiallahu ‘anhuma, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : ” Makan, minum, bersedekah dan berpakainlah kalian tanpa berlebih-lebihan dan berbuat kesombongan”[1].

Diantara adab-adab mengenakan pakaian dan berhias :

 

1. Wajibnya Menutup Aurat :

Allah telah memberikan nikmat kepada hamba-hambanya yang mana Allah menutup mereka dengan pakaian yang hakiki, kemudian membimbing mereka kepada pakaian lainnya yang ma’nawi yang lebih besar kedudukannya daripada pakaian yang pertama, Allah Jalla wa ‘Ala :

“Wahai bani Adam, telah kami turunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi auratkalian dan juga perhiasan. Sedangkan pakaian takwa , demikian itu lebih baik. Demikian itu adalah salah satu dari ayat-ayat Allah, agar mereka mau mengingatnya. Wahai Bani Adam, janganlah sampai syaithan menimpakan fitnah kepada kalian sebagaimana dia telah mengeluarkan kedua orang tua kalian dari surga, dan meninggalkan pakaian mereka berdua sehingga auratnya tersingkap. Sesungguhnya syaithan, dia dan pengikutnya dapat melihat kalian dari tmepat yang kalian tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan para syaithan sebagai wali bagi orang-orang yang tidak beriman “( Al-A’raf : 26 – 27 ).

Ibnu Katsir berkata – di dalam menafsirkan ayat ini – Allah memberikan nikmat kepada hamba-hambanya dengan apa yang telah dia jadikan bagi mereka berupa libas(pakaian) dan risyah (perhiasan), libas yang menutup aurat dan aurat adalah as-sauaat, dan Ar-Risy adalah apa yang dipakai untuk berhias secara zhahir, maka yang pertama termasuk perkara yang darurat dan Ar-Risy termasuk perkara yang sekunder dan berupa kebutuhan tambahan[2].

Dan menutup aurat termasuk dari adab-adab yang agung yang diperintahkan didalam agama Islam, bahkan laki-laki dan perempuan dilarang melihat kepada aurat sebagian mereka dikarenakan akan mengakibatkan mafsadah . Syariat telah mengantisipasi setiap pintu yang dapat menghantarkan kepada kejelekan, dan aurat merupakan seuatu yang oleh seorang manusia tidak senang menampakkannya, melihatnya. Karena kata aurat itu diambil dari kata al-aur yang artinya adalah al-aib (yang memalukan), dan setiap sesuatu yang kamu tidak suka memandang kepadanya, karena memandang kepadanya dianggap sebagai sesuatu yang aib (memalukan), sebagaiman perkataan Ibnu Utsaimin[3].

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : ” Janganlah seorang laki-laki memandang kepada aurat laki-laki, dan jangan pula wanita memandang kepada aurat wanita, dan janganlah seorang laki-laki berselimut dengan laki-laki lain dalam satu kain, dan janganlah seorang wanita berselimut dengan wanita lainnya di dalam satu kain[4]“[5].

Dari Al-Miswar bin Makhramah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : “ Saya datang dengan batu berat yang saya bawa sedangkan saya mengenakan sarung yang tipis, beliau berkata : “Tiba-tiba sarung saya terlepas sedangkan ada bersamaku batu yang tidak dapat saya letakkan di tempatnya sampai saya membawanya ke tempatnya, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Kembali engkau ke kainmu dan kenakanlah. Jangan kamu berjalan dalam keadaan telanjang”[6].

Dan Dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya dia berkata : “Saya berkata wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Manakah aurat kami yang kami harus jaga dan yang boleh kami tampakkan ? Beliau berkata : “ Jagalah auratmu kecuali dari istrimu atau budak yang kamu miliki. Beliau berkata : “Saya berkata : wahai Rasulullah apabila ada satu kaum sebagian mereka berada bersama sebagian lainnya ? Beliau berkata : “ Apabila kamu mampu agar tidak seorang pun dapat melihat auratmu maka jangan sampai mereka melihatnya. Beliau berkata : “ Saya berkata : Wahai Rasulullah : Apabila salah seorang dari kami dalam keadaan bersendiri ?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Allah lebih berhak untuk seseorang malu dari-Nya daripada manusia”[7].

Aurat laki-laki yang diperintahkan untuk menutupnya – selain dari suami dan budak perempuannya – mulai dari pusar sampai ke lutut. Dan wanita seluruh badannya adalah aurat – kecuali kepada suaminya – adapun kepada mahramnya maka bagi mereka boleh melihat keapa apa yang selalu nampak seperti wajah, kedua tangan, rambut, leher dan yang semisal dengan hal tersebut, dan aurat wanita bersama anak-anak wanita yang sejenisnya mulai dari pusar sampai ke lutut.

 

Masalah : Apakah Paha laki-laki Adalah Aurat?

Jawaban : Al-Lajnah Ad-Daa`imah menyatakan : “ Jumhur Fuqaha’ berpendapat bahwa paha laki-laki adalah aurat, mereka berdalil dengan hadits-hadits yang sanad hadits-hadits tersebut tiada yang luput dari kritikan ulama, apakah sanadnya bersambung atau tidak, atau tentang kedhaifan pada sebagian perawinya, akan tetapi sebagian hadits-hadits tersebut saling menguatkan satu sama lainnya sehingga menjadikan derajatnya naik dengan menggabungkan seluruh riwayat yang ada untuk dijadikan hujjah atas masalah yang dibahas. Diantara hadits-hadits tersebut hadits yang diriwayatkan oleh Malik di dalam Al-Muwathta’, Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi dari hadits Jarhad Al-Aslami radhiallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah lewat dan ketika itu saya memakai burdah dan paha saya tersingkap, maka beliau berkata : ” Tutuplah pahamu karena sesungguhnya paha itu aurat” At-Tirmidzi menghasankan hadits ini[8].

Dan sbeagian ulama lainnya berpendapat bahwa paha laki-laki bukan aurat, mereka berdalil dengan hadits riwayat Anas radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammembuka sarung dari pahanya sehingga saya sungguh melihat putih paha beliau. Ahmad dan Al-Bukhari meriwayatkan dan berkata hadits Anas lebih bagus sanadnya dan hadits Jarhad lebih hati-hati[9], dan pendapat mayoritas ulama lebih hati-hati karena hadits-hadits yang pertama merupakan ketentuan dalam pembahasan ini, sedangkan hadits Anas radhiallahu ‘anhu masih ada masih relatif [10].

Masalah Lainnya : Sebagian wanita sengaja memakai sebagian pakaian yang menampakkan tempat-tempat fitnah dari tubuhnya dan perhiasannya bagian dalam, seperti menampakkan punggung atau paha atau bahagian darinya, atau memakai pakaian yang memperlihatkan tubuhnya, atau sempit yang menonjolkan bagian-bagian yang dapat menimbulkan fitnah, dan sebagian mereka beralasan bahwa aurat yang diperintahkan untuk menutupnya diantara wanita adalah mulai dari pusar sampai ke lutut, dan bahwa mereka hanya memakai pakaian tersebut di perkumpulan wanita saja, maka apa jawaban atas pernyataan tersebut?

 

Jawabannya : Tidak diragukan lagi bahwa aurat perempuan bersama perempuan lainnya adalah apa saja yang ada diantara pusar dan lutut, akan tetapi hal ini disyaratkan apabila aman dari fitnah, dan yang terjadi pada kebanyakan wanita pada hari ini mereka melewati batasan di dalam menutup aurat mereka[11].

Bahkan keadaan ini membawa kepada terfitnahnya sebagian wanita kepada sebagian lainnya. Sekian banyakkisah yang populer berkaitan dengan mereka – kaum wanta – ini. Ada yang tahu dan ada pula yang tidak mengetahuinya. Perkumpulan wanita bukanlah alasan di dalam memakai pakaian yang tidak halal bagi wanita untuk memakainya, bahkan kapan saja pakaian itu sebagai faktor terjadinya fitnah dan sebagai penggerak tabiat yang jelek maka hal itu diharamkan walaupun hal itu di tengah-tengah para wanita.

As-Syaikh Ibnu Utsaimin memiliki perkataan tentang memakai pakaian yang sempit, alangkah baiknya untuk kami sebutkan hal tersebut, beliau berkata : “Memakai pakaian yang sempit yang menampakkan bagian-bagian tubuh yang dapat menimbulkan fitnah dari tubuh wanita adalah perkara yang diharamkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : ” Dua golongan dari penduduk neraka yang belum saya lihat : sekelompok laki-laki yang ada bersama mereka cambuk seperti ekor-ekor sapi, mereka memukulkannya kepada manusia – maksudnya karena kezhaliman dan aniaya – , dan wanita yang berpakaian lagi telanjang yang menyimpang dari ketaatan Allah dan memakai sanggul yang miring”[12].

Dan perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “mereka berpakaian lagi telanjang” bahwa mereka memakai pakaian yang pendek tidak menutupi apa yang wajib ditutup dari aurat, dan ditafsirkan bahwa mereka memakai pakaian yang tipis yang tidak menghalangi pandangan apa yang ada dibaliknya dari kulit wanita, dan ditafsirkan bahwa mereka memakai pakaian yang sempit yang mana dia menutupi dari pandangan akan tetapi menampakkan lekuk-lekuk tubuh wanita, dan berdasarkan ini tidak boleh bagi wanita untuk memakai pakaian yang sempit kecuali kepada orang yang boleh baginya menampakkan auratnya di sisinya dan dia adalah suaminya karena tidak ada antara suami dan istri aurat berdasarkan firman Allah ta’ala :

“Dan mereka – orang-orang yang beriman – adalah yang menjaga kemaluan mereka. Kecuali bagi  para istri mereka ataukah kepada budak yang mereka milik, karena mereka itu tidak akan dicela karenanya “( Al-Mu’minun : 5 – 6 )

Aisyah berkata : ” Saya dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  mandi dari satu bejana tangan-tangan kami berganti-gantian mengambil air pada bejana itu”[13].

Maka seseorang antara dia dan istrinya tidak ada batasan aurat, adapun antara wanita dan mahramnya maka wajib bagi wanita menutup auratnya, dan pakaian yang sempit tidak boleh digunakan di hadapan mahram tidak pula di hadapan para wanita apabila pakaian itu sangat sempit yang menampakkan bagian tubuh wanita yang menggoda[14].

 

Faedah : termasuk perkara adab bersama Allah subhanahu wa ta’ala, seseorang yang ingin mandi hendaknya menutup dirinya dengan sesuatu yang dapat menutupinya, lebih khusus lagi orang yang berada di tempat-tempat yang terbuka yang tidak ada suatu pun yang menghalanginya. Ya’la radhiallahu ‘anhu telah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallampernah melihat seorang laki-laki mandi di Al-Baraz[15] tanpa memakai sarung, maka beliau naik ke mimbar dan bertahmid serta memuji Allah kemudia berkata : “sesungguhnya Allah Azza wa Jalla maha pemalu dan Maha menutupi yang mencintai rasa malu dan sifat menutup diri, maka apabila salah seorang dari kalian mandi hendaknya dia menutup dirinya (dari pandangan orang lain)”[16].

Dan di dalam hadits Hakim dari ayahnya dari kakeknya dia berkata : “….Saya berkata wahai apabila salah seorang dari kami bersendiri? Beliau berkata : Allah lebih berhak untuk kalian malu kepadanya dari pada kepada manusia”[17].

Bersambung ke Bagian 2. Haramnya Laki-laki Menyerupai Wanita Dan Wanita Menyerupai Laki-laki:


[1] HR. An-Nasaa’i (2559) Al-Albani menghasankannya (shahih Sunan An-Nasaa’i dengan no. ( 2399), dan Ahmad meriwayatkannya (6656), Ibnu Majah (3606) dan hadits ini ada pada riwayat Al-Bukhari secara mu’allaq di awal kitab Al-Libas.

[2] Tafsir Al-Qur`an Al-Azhim (2/217) cetakan Daar Al-Kutub Al-Ilmiyah – Beirut – 1418 H.

[3] Asy-Syarh Al-Mumti’ (2/133).

[4] Yaitu janganlah mereka berdua berbaring dalam keadaan telanjang di bawah satu kain, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Tuhfat Al-Ahwadzi syarah Jami At-Tirmidzi.

[5] HR. Muslim (338), Ahmad (11207), At-Tirmidzi (2793) dan Ibnu Majah (661).

[6] HR. Muslim (341) dan Abu Daud (4016).

[7] HR. Abu Daud (4017) dan Al-Albani menghasankannya no.(3391), dan At-Tirmidzi meriwayatkannya (2794) dan Ibnu Majah (1920).

[8] Al-Albani menshahihkan riwayat Abu Daud dengan no. (3389).

[9] Lihat shahih Al-Bukhari, Kitab Ash-Shalat. Bab : Maa yudzkar fii Al-Fakhdz.

[10] Fatwa Lajnah Ad-Daa`imah no.(2252) (6/167 – 165).

[11] Kabar-kabar tentang mereka tidak mengembirakan orang yang beriman, dan kita membersihkan telinga-telinga dan mata-mata kalian dari perkara yang mendatangkan kabar-kabar tersebut, dan barang siapa yang ingin mengetahui hal tersebut maka dia bisa menanyakannya kepada wanita karena ada pada mereka banyak kabar tentang keadaan mereka yang sebenarnya, wallahul musta’an.

[12] HR. Muslim (2128), Ahmad (8351), Malik (1694), dan lafazhnya yang sempurna ada pada riwayat Muslim : (kepala-kepala mereka seperti punuk onta yang miring, mereka tidak masuk ke dalam surga dan tidak pula mendapatkan baunya dan sungguh bau wangi surga didapatkan dari jarak sekian dan sekian).

[13] HR. Al-Bukhari (261) Muslim (316) dan selain keduanya.

[14] Fatawa As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin (2/825 – 826) cetakan Daar ‘Alam Al-Kutub – Riyadh – cetakan pertama 1411 Hijriyah.

[15] Al-Baraz dengan harakat fathah : tempat yang lapang dari tanah yang jauh lagi luas, dan apabila maunsia keluar menuju tempat tersebut maka akan dikatakan :baraza yabruzu buruzan, yaitu dia keluar menuju al-baraz. Dan Al-Baraz juga dengan fathah :adalah tempat yang tidak ada padanya….(afwan tdk jelas bela) dari pepohonan dan tidak pula selainnya…(Lisan Al-Arab 5/309) Bahasan : ب ر ز

[16] HR. Abu Daud (4012) dan Al-Albani menshahihkannya, dan Ahmad (17509) dan An-Nasaa’i (406).

[17] Takhrijnya telah berlalu.

SUMBER : http://al-atsariyyah.com/?p=640

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.556 pengikut lainnya.