Arsip Blog

Kebodohan dan Kezhaliman Adalah Pangkal Segala Keburukan (Tuntunan Syar’i dalam Menghadapi Fitnah)

Oleh Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray

Seorang sahabat yang mulia, seorang sahabat yang menghadapi banyak fitnah perselisihan di masanya, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata, “Andaikan orang yang tidak mengerti ilmu itu diam niscaya akan hilang perselisihan.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, 2/207)

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Sungguh telah berani berbicara tentang ilmu, orang-orang yang sebetulnya jika mereka diam dari sebagian ucapan mereka adalah lebih baik dan lebih selamat bagi mereka insya Allah.” (Ar-Risalah, hal. 41)

Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Tidak ada perusak ilmu dan ahlinya yang lebih berbahaya dari “Ad-Dukhala”, para penyusup yang berani berbicara tentang ilmu padahal mereka bukan ahlinya. Mereka itu bodoh namun menganggap diri mereka berilmu, mereka berbuat kerusakan namun menganggap diri mereka berbuat perbaikan.” (Al-Akhlaq was Siyar, hal. 4)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Perselisihan yang tercela di antara kedua belah pihak terkadang sebabnya adalah rusaknya niat, yaitu terdapat dalam diri-diri mereka kezaliman, hasad, keinginan untuk meninggikan diri di muka bumi dan yang semisalnya.”

Beliau rahimahullah juga berkata, “Dan terkadang perselisihan yang tercela itu disebabkan oleh kebodohan orang-orang yang berselisih tentang duduk perkara yang sebenarnya. Atau kebodohan tentang dalil yang dipegang oleh pihak lain. Atau kebodohan salah satu pihak tentang kebenaran yang berada pada pihak lain dalam hukum atau dalam dalil, meskipun dia tahu kebenaran yang ada pada dirinya baik secara hukum maupun dalil.”

Beliau rahimahullah memberikan kesimpulan, “Kebodohan dan kezaliman adalah pokok segala keburukan, sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Dan amanah tersebut akhirnya dipikul oleh manusia, sesungguhnya manusia itu zalim lagi bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72).” (Al-Iqthidho’, 1/148)

Mari kita renungkan firman Allah ta’ala,

تِلْكَ الدَّارُ‌ الْآخِرَ‌ةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِ‌يدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْ‌ضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Itulah negeri akhirat, kami jadikan untuk orang-orang-orang yang tidak menghendaki ketinggian di muka bumi dan tidak pula kerusakan, dan surga itu hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)

Kesimpulan Pertama: Orang yang memasuki perkara-perkara besar dalam keadaan dia bodoh dengan ilmu agama adalah orang yang merusak namun dia menyangka sedang melakukan perbaikan.

Dalam istilah ulama dikenal dengan Jahil Murakkab, bukan jahil biasa, yaitu orang jahil namun tidak sadar kalau dirinya jahil, bahkan dia merasa pantas untuk masuk dalam perkara tersebut.

Hal ini terjadi apabila dia memasuki perkara-perkara besar yang seharusnya dikembalikan kepada orang-orang yang berilmu, yaitu setiap perkara yang apabila dibicarakan akan berdampak luas, yang menimbulkan gejolak dan mempengaruhi keamanan maupunkekhawatiran dalam diri orang-orang yang beriman. Diantaranya berbicara tentang fitnah perpecahan antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Allah ta’ala telah mengajarkan bagaimana adab yang benar bagi si jahil apabila menghadapi perkara-perkara besar seperti ini, sebagaimana firman-Nya,

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Andaikan mereka menyerahkan urusannya kepada Rasul dan Ulil Amri (pemegang urusan dari kalangan umaro dan orang-orang berilmu) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (QS. An-Nisa’: 83)

Al-‘Allamah Al-Mufassir Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’dirahimahullah berkata,

هذا تأديب من الله لعباده عن فعلهم هذا غير اللائق. وأنه ينبغي لهم إذا جاءهم أمر من الأمور المهمة والمصالح العامة ما يتعلق بالأمن وسرور المؤمنين، أو بالخوف الذي فيه مصيبة عليهم أن يتثبتوا ولا يستعجلوا بإشاعة ذلك الخبر، بل يردونه إلى الرسول وإلى أولي الأمر منهم، أهلِ الرأي والعلم والنصح والعقل والرزانة، الذين يعرفون الأمور ويعرفون المصالح وضدها. فإن رأوا في إذاعته مصلحة ونشاطا للمؤمنين وسرورا لهم وتحرزا من أعدائهم فعلوا ذلك. وإن رأوا أنه ليس فيه مصلحة أو فيه مصلحة ولكن مضرته تزيد على مصلحته، لم يذيعوه، ولهذا قال: { لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ } أي: يستخرجونه بفكرهم وآرائهم السديدة وعلومهم الرشيدة.

“Ini adalah pengajaran adab dari Allah ta’ala bagi hamba-hamba-Nya atas perbuatan mereka (tergesa-gesa menyebarkan berita-berita dan mengambil sikap, pen) yang tidak layak. Padahal yang seharusnya mereka lakukan, apabila datang kepada mereka berita tentang urusan besar dan berhubungan dengan kemaslahatan umum, yaitu yang berkaitan dengan keamanan dan perkara yang menyenangkan kaum mukminin atau ketakutan yang di dalamnya terkandung musibah atas mereka, maka hendaklah mereka melakukan tatsabbut (memastikan beritanya) dan tidak tergesa-gesa menyiarkan berita tersebut.

Akan tetapi hendaklah mereka kembalikan urusan itu kepada Rasul dan Ulil amri (pemegang urusan dari kalangan umaro dan orang-orang berilmu) di antara mereka, yaitu orang-orang yang memiliki pandangan, memiliki ilmu, memiliki nasihat (yakni yang pantas menasihati dalam masalah umum, pen), memiliki akal dan memiliki ketenangan (tidak tergesa-gesa dalam memutuskan). Merekalah yang mengetahui kemaslahatan dan kemudaratan.

Maka jika mereka memandang dalam penyiaran berita tersebut terdapat kemaslahatan, kemajuan dan kegembiraan terhadap kaum muslimin dan penjagaan dari musuh-musuh mereka, baru kemudian boleh disebarkan. Namun jika mereka memandang dalam penyiarannya tidak mengandung maslahat sama sekali, atau terdapat maslahat akan tetapi kemudaratannya lebih besar, maka mereka tidak menyiarkan berita tersebut. Oleh karena itu Allah ta’ala mengatakan, “Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri),” yakni, orang-orang yang mau mencari kebenaran dapat mengambilnya dari pemikiran dan pandangan mereka yang benar serta ilmu-ilmu mereka yang terbimbing.”

Beliau rahimahullah juga berkata,

وفي هذا دليل لقاعدة أدبية وهي أنه إذا حصل بحث في أمر من الأمور ينبغي أن يولَّى مَنْ هو أهل لذلك ويجعل إلى أهله، ولا يتقدم بين أيديهم، فإنه أقرب إلى الصواب وأحرى للسلامة من الخطأ. وفيه النهي عن العجلة والتسرع لنشر الأمور من حين سماعها، والأمر بالتأمل قبل الكلام والنظر فيه، هل هو مصلحة، فيُقْدِم عليه الإنسان؟ أم لافيحجم عنه؟

Dan dalam ayat ini terdapat dalil bagi kaidah adab, yaitu apabila terjadi pembahasan suatu permasalahan maka hendaklah diserahkan kepada ahlinya. Hendaklah diserahkan kepada orang yang berhak membahasnya, dan janganlah (orang yang jahil atau tidak mengerti urusan, pen) mendahului mereka, karena sikap seperti ini lebih dekat kepada kebenaran dan lebih dapat menyelamatkan dari kesalahan.

Dalam ayat ini juga terdapat larangan tergesa-gesa dan terburu-buru untuk menyebarkan suatu berita setelah mendengarkan berita tersebut. Dan (dalam ayat ini) terdapat perintah untuk meneliti dan mempelajari dengan baik sebelum berbicara; apakah pembicaraannya itu adalah kemaslahatan sehingga boleh dia lakukan? Ataukah mengandung kemudaratan sehingga patut dijauhi?”

(Taysirul Kariimir Rahman fi Tafsiri Kalaamil Mannan, hal, 184, Maktabah Al-Ma’arif Riyadh)

‘Alimul Yaman, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushobi hafizhahullah setelah menyebutkan ayat di atas (QS. An-Nisa’: 83) dalam Muqaddimah Al-Ibanah, beliau berkata,

“Akan tetapi sangat disayangkan sekali, tidaklah datang suatu fitnahkecuali engkau melihat banyak manusia, khususnya para pemuda -kecuali yang dirahmati oleh Allah ta’ala- segera berkerumun mengitarinya bagaikan belalang yang mengitari api, dalam keadaan pura-pura bodoh dengan keberadaan para ulama (untuk dijadikan rujukan dalam masalah tersebut) dan mereka berpaling dari pengarahan dan nasihat para ulama. Mereka pun menceburkan diri dan tenggelam ke dalam fitnah.

Kemudian mereka mulai membuat kaedah-kaedah dan ushul-ushulsendiri, maka akhirnya mereka meletakkan perkara-perkara bukan pada tempatnya. Dan di atas itulah mereka menancapkan Al-Wala’ wal Bara’. Maka kemudian engkau melihat diantara orang-orang yang tergesa-gesa tersebut terdapat orang yang mulai berani mencerca, memfasikkandan membid’ahkan setiap orang yang menyelisihinya (Al-Jarh). Sebaliknya, dia memuji, men-ta’dil dan merekomendasi siapa saja yang menyepakatinya dan menolongnya.” (Al-Ibanah, Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Imam, hal. 3)

Kesimpulan Kedua: Perbedaan Antara Membela Sunnah dan Menjatuhkan Kehormatan Ahlus Sunnah

Sesungguhnya batas antara cemburu terhadap al-haq danmencederai para da’i yang menyampaikan al-haq sangat jelas bagi orang yang berilmu. Akan tetapi bagi orang jahil keadaan itu bisa berbailk. Sikap dan tidakannya yang melampaui batas terhadap kehormatan para da’i Ahlus Sunnah wal Jama’ah malah dianggapnya sebagai kecemburuan terhadap kebenaran. Bahkan tidak jarang mengesankan seakan-akan dirinyalah yang paling cemburu terhadap kebenaran.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Imam hafizhahullah berkata,

“Kecemburuan terhadap Islam tidaklah akan terealisasi dengan benar kecuali dengan kecemburuan terhadap para da’i pembawa Islam, sebab Islam tidak akan mungkin dikenal kecuali dengan para da’i tersebut. Maka membicarakan kejelekan para da’i tersebut menafikan kecemburuan yang benar.

Dan diantara prinsip Ahlus Sunnah adalah tidak mencela para sahabat dikarenakan adanya rekomendasi dari Allah dan Rasul-Nya untuk mereka. Demikian pula membicarakan kejelekan orang-orang yang berilmu, yang dikenal dengan kejujurannya pada umat, ketakwaannya dan ittiba’nya kepada minhaj nubuwwah.

Sesungguhnya Allah ta’ala telah men-ta’dil mereka secara umum, dan Allah jadikan mereka sebagai perantara untuk menyampaikan kebenaran dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dan Allah ta’ala menjadikan mereka sebagai hujjah atas manusia. Maka orang yang mencela mereka tidaklah dapat dikatakan sebagai orang yang cemburu terhadap Islam.

Bahkan yang pantas dikatakan kepadanya, bahwa sesungguhnya dengan celaannya kepada orang-orang yang berilmu maka dia telah mengundang peperangan Allah terhadap dirinya. Allah ta’ala berfirman dalam hadits qudsi,

“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang terhadapnya.” (HR. Al-Bukhari, no. 6502)

Dan juga, mencela orang-orang yang berilmu berarti membuka pintu untuk tidak diterimanya ilmu mereka oleh umat dan umat pun tidak merujuk kepada mereka. Maka yang terjadi, kebatilan akan mendominasi kebenaran, tersebarlah hal itu di tengah-tengah kaum muslimin, sehingga ahlul bid’ah pun semakin bebas menyebarkan kesesatannya.

Demikian pula, mencela kehormatan orang-orang yang berilmu terhadap sunnah adalah salah satu tanda besar dari tanda-tanda ahlul bid’ah dan hizbiyah.

Maka barangsiapa yang menjatuhkan kehormatan orang-orang yang zhohirnya sunnah, minimalnya dia adalah orang yang menyerupai ahlul bid’ah dan hizbiyah.” (Al-Ibanah, hal. 160)

Dari penjelasan ulama Ahlus Sunnah di atas muncul satu pertanyaan besar kepada orang yang menjatuhkan kehormatan para da’i Ahlus Sunnah:

Para da’i Ahlus Sunnah yang kita kenal telah mencurahkan tenaga dan waktunya untuk berdakwah menyebarkan tauhid dan sunnah, apakah mereka da’i Ahlus Sunnah yang harus dimuliakan ataukah ahlul bid’ah wal hizbiyah yang boleh dijatuhkan kehormatannya?

Jika jawabannya YA mereka Ahlul Bid’ah wal Hizbiyah, maka silahkan datangkan ucapan para ulama Ahlus Sunnah yang telah mengeluarkan mereka dari Ahlus Sunnah dengan berdasarkan ilmu. Terlebih jika ternyata para da’i tersebut dekat dengan para ulama dan walhamdulillah di zaman ini dengan mudahnya kita bisa menghubungi para ulama untuk meminta fatwa.

Jika jawabannya TIDAK mereka masih Ahlus Sunnah, maka haram atasmu menjatuhkan kehormatan mereka. Justru menjatuhkan mereka adalah sifat Ahlul Bid’ah wal Hizbiyah.

Adapun jika mereka memiliki kesalahan yang patut dinasihati maka engkau pun tahu bagaimana cara menasihati mereka, sebagaimana engkau tahu perbedaan antara nasihat dan menjatuhkan kehormatan seorang yang mulia.

Kesimpulan Ketiga: Jangan Hanya Menerima Informasi dari Satu Pihak

Ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang telah kita sebutkan pada bagian pertama, yaitu:

“Dan terkadang perselisihan yang tercela itu disebabkan oleh kebodohan orang-orang yang berselisih tentang duduk perkara yang sebenarnya. Atau kebodohan tentang dalil yang dipegang oleh pihak lain. Atau kebodohan salah satu pihak tentang kebenaran yang berada pada pihak lain dalam hukum atau dalam dalil, meskipun dia tahu kebenaran yang ada pada dirinya baik secara hukum maupun dalil.” (Al-Iqthido, 1/148)

Yang nampak bagi kami bahwa maksud beliau adalah, hendaklah kita berusaha memberi udzur kepada saudara kita yang menyelisihi kita ataupun menyelisihi guru kita, dan berusaha mencari tahu apa dalil yang mendasarinya serta bagaimana sisi pendalilannya.

Jangan hanya memandang penyelisihan tersebut dari sudut pandang kita saja, walaupun kita juga memandang dengan dalil dan sisi pendalilan yang kita yakini benar. Bisa jadi setelah kita mengetahui dalil dan sisi pendalilan saudara kita maka kita dapat menerimanya sebagai sebuah perbedaan pendapat yang tidak tercela dalam Ahlus Sunnah.

Oleh karena itu, bagi seorang penuntut ilmu, bagaimana seharusnya dia bersikap dalam menghadapi perselisihan antara da’i Ahlus Sunnah?

Apakah dia harus membela fulan karena fulan adalah gurunya? Dan mencerca setiap lawan-lawannya meskipun mereka masih Ahlus Sunnah? Tanpa sedikitpun berusaha memahami hujjah orang yang menyelisihi gurunya?

Ataukah yang seharusnya bagi dia untuk tidak ta’ashshub terhadap pendapatnya dan pendapat gurunya? Tetapi hendaklah dia mempelajari dalil-dalil kedua belah pihak dan hujjah-hujjah mereka? Sehingga perpecahan akan dapat dihilangkan, bukannya menambah berkobarnya api perselisihan.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Imam hafizhahullah berkata,

“Diantara sebaik-baiknya cara untuk menghilangkan perselisihan adalah mengumpulkan antara orang yang mencela dan orang yang dicela (maksudnya untuk mendengar hujjah-hujjah kedua belah pihak).”

“Apabila sampai kepada seseorang, sebuah celaan untuk saudara-saudaranya maka yang dituntut baginya untuk mengumpulkan antara orang yang mencela dan yang dicela. Hendaklah dia mendengarkan dari kedua belah pihak, ini lebih selamat untuk mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya (kemudian beliau menyebutkan dalil-dalilnya).” (Lihat Al-Ibanah, hal. 82)

Maka apabila kita dapati adanya perselisihan antara Ahlus Sunnah yang harus kita lakukan adalah tidak tergesa-gesa untuk menyalahkan pihak lain sampai kita mempelajarinya dengan baik atau diserahkan kepada para Ulama Ahlus Sunnah untuk memberikan keputusan yang ilmiah.

Sebagian orang salah memahami larangan para ulama Ahlus Sunnah untuk tabayun terhadap Ahlul Bid’ah. Sehingga mereka terapkan hal ini pun kepada Ahlus Sunnah yang berselisih. Benar ulama melarang untuk tabayun kepada Ahlul Bid’ah atas penyimpangan-penyimpangan mereka yang ditahdzir oleh para ulama, sebab apabila seseorang mendengarkan uapan-ucapan Ahlul Bid’ah maka bisa jadi dia terpengaruh dengan kesesatannya.

Adapun terhadap Ahlus Sunnah, yang sama-sama berjalan di atas Sunnah, maka terkadang perbedaan-perbedaan itu muncul karena satu pihak tidak mengetahui dalil dan sisi pendalilan saudaranya, oleh karena itu perlu untuk tabayun terhadap saudaranya yang dicela tersebut. Perlu ditanyakan dalil-dalil dan hujjah-hujjahnya.

Kesimpulan Keempat: Sikap At-Ta’anni (Menahan Diri, Tidak Tergesa-gesa) dalam Menghukumi adalah Sifat Seorang Penuntut Ilmu Ketika Terjadi Fitnah Perpecahan

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepada Asyaj Abdil Qois,

إنَّ فيكَ لَخَصْلَتَيْن يُحِبُّهُمَا اللهُ الْحِلْمُ وَالأنَاةُ

“Sesungguhnya pada dirimu ada dua akhlak yang dicintai Allah, yaitu al-hilm (menahan diri ketika marah, tidak tergesa-gesa menyikapi suatu masalah) dan al-anaah (berhati-hati dalam menghadapi suatu masalah, menahan diri dan tidak terburu-buru).” (HR. Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma)

Hal ini sangat diperlukan sekali, karena orang-orang yang berselisih (khususnya Ahlus Sunnah) pada umumnya memiliki dalil dan hujjah, sehingga seorang penuntut ilmu hendaklah bersabar dan menahan dirinya, tidak tergesa-gesa menghukumi satu pihak.

Kita masuk pada contoh kasus. Jika seorang da’i Ahlus Sunnah dituduh dan dicela karena menyampaikan ceramah atau dauroh yang diadakan oleh hizbiyun.

Maka hendaklah seorang penuntut ilmu tidak tergesa-gesa untuk ikut-ikutan menuduh dan mencerca seorang da’i Ahlus Sunnah. Hendaklah dia menahan dirinya sampai dia mengetahui hakikatnya dari keterangan para ulama.

Sebab kenyataan di lapangan banyak sekali kemungkinan yang terjadi, diantaranya:

1. Bisa jadi penuduh melakukan kesalahan, sebab ternyata panitia yang dituduh sebagai hizbiyun tersebut adalah Ahlus Sunnah. Walaupun mungkin terkadang ada kesalahan-kesalahan padanya yang perlu dinasihati, akan tetapi belum terpenuhi syarat-syarat untuk menghukumi mereka sebagai hizbiyun atau ahlul bid’ah.

2. Atau bisa jadi antara penuduh dan si da’i terjadi perbedaan pendapat dalam menghukumi mereka, dan ini adalah hal yang biasa dalam al-jarh wat ta’dil. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Imam hafizhahullah berkata,

“Apabila ikhtilaf banyak terjadi dalam pembahasan hukum-hukum fiqh padahal ia dibangun di atas ucapan Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, apalagi dalam masalah-masalah yang dihasilkan dari ucapan Ahlul jarh wat ta’dil yang didasari oleh ilmu mereka dan ijtihad mereka.” (Al-Ibanah, hal. 173)

Perhatikan ucapan Syaikh hafizhahullah, bahwa al-jarh dan at-ta’dil lahir dari ilmu yang dimiliki seseorang dan ijtihadnya, bukan wahyu yang diwahyukan kepadanya. Artinya:

  • Pertama: Seseorang harus memiliki ilmu tentang al-jarh wat ta’dil. Tidak setiap orang yang boleh berbicara padanya.
  • Kedua: Setelah memiliki ilmunya barulah dia berijtihad padanya.

Dan yang namanya ijtihad bisa benar dan bisa salah, dan bisa pula terjadi perbedaan antara ijtihad seorang ‘alim dan ijtihad ‘alim lainnya. Maka dalam menyikapi hal tersebut perlu ada sikap menahan diri dan tidak tergesa-gesa.

Dan hukum asalnya seorang yang ilmu dan ijtihadnya membawa dia untuk menta’dil orang yang kita jarh adalah diberi ‘udzur. Sampai tegak hujjah atasnya tentang kesalahannya. Atau bahkan bisa jadi dia yang benar dan kita yang salah.

Dan perlu dipahami bahwa kaidah, “Al-Jarhul Mufassar Muqoddamun ‘alat Ta’dil” tidak bisa secara otomatis diterapkan dalam kasus seperti ini, sebab ada syarat-syarat yang dijelaskan para ulama untuk menggunakan kaidah tersebut (yang insya Allah ta’ala dalam kesempatan lain akan kami terangkan).

3. Jika ternyata tuduhan terhadap panitia sebagai hizbiyun itu benar, apakah da’i Ahlus Sunnah itu mengetahui keadaan mereka? Bisa jadi dia tidak mengetahuinya dalam keadaan dia mengenal mereka sebagai Ahlus Sunnah. Maka yang harus dilakukan oleh si penuduh atau orang yang mengetahui adanya tuduhan itu adalah menasihati si da’i dengan menjaga adab-adab Ahlus Sunnah dalam menasihati.

4. Jika si da’i Ahlus Sunnah tersebut ternyata tahu bahwa mereka adalah hizbiyun, bolehkah baginya untuk menyampaikan ceramah di tengah-tengah mereka? Jawabannya bisa jadi boleh bisa jadi tidak boleh.

Orang yang menjawab tidak boleh tentunya akan berdalil dengan larangan-larangan bermajelis dengan Ahlul Bid’ah. Dan dalil-dalil tersebut benar bahkan disepakati oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Akan tetapi bisa jadi dalil-dalil tersebut tidak tepat dalam penerapannya.

Adapun orang yang membolehkan maka hukum pembolehannya perlu diperinci:

  • Pertama: Jika dia membolehkan secara mutlak maka ini jelas salah, menyelisihi ijma’ ulama tentang larangan bermajelis dengan ahlul bid’ah.
  • Kedua: Jika dia membolehkan dalam keadaan-keadaan yang sangat khusus maka terkadang hal itu justru disyari’atkan.

Satu contoh (dan bukan pembatasan): Orang yang berilmu menghadapi orang-orang jahil dari kalangan ahlul bid’ah, bahkan mungkin mereka mengundangnya untuk menyampaikan dakwah tauhid dan sunnah di satu majelis, maka tidak diragukan lagi hal ini boleh dan bahkankesempatan besar untuk mendakwahi mereka, dan bahkan bisa jadi hal itu adalah kewajiban.

Oleh karena itu, hal ini terkadang dilakukan oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari kalangan sahabat dan para ulama setelahnya, diantaranya kisah sahabat yang mulia Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma mendatangi markaz khawarij untuk menasihati mereka, dan hasilnya tidak kurang dari 2000 orang Khawarij yang bertaubat.

Maka janganlah kita tergesa-gesa menuduh jelek terhadap seorang da’i Ahlus Sunnah, apatah lagi hanya berdasarkan informasi dari satu pihak.

وبالله التوفيق

Tulisan ini kami kumpulkan dari status facebook Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray hafizhahullah:

Oleh rizkytulus.wordpress.com

Tambahan: Download rekaman dauroh Cilacap dengan Tema Sebab Perpecahan Ahlussunnah dan Sikap Al-Wala’ wal Bara’ bersama Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray, http://wp.me/pixpt-tn

INILAH DO’A/BACAAN KETIKA MENYERAHKAN/MEMBAYAR & MENERIMA ZAKAT : “Allahummaj’alhaa maghnaman walaa taj’alhaa maghraman.” | Allahumma shalli ‘alaih | Allahumma baarik fiihi wa fii maalihi

Doa Ketika Berzakat

Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad al-Makassari

 

Sebagian ulama menyatakan disunnahkan bagi pemilik zakat untuk berdoa saat menyerahkan zakatnya. Menurut mereka, doanya adalah:

“Allahummaj’alhaa maghnaman walaa taj’alhaa maghraman.” (Ya Allah, jadikanlah zakat ini bermanfaat bagiku dan janganlah engkau menjadikannya sebagai kerugian)

Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah rahimahullah. Namun, hadits ini dihukumi sebagai hadits palsuoleh al-Albani dalam Dha’if Sunan Ibni Majah no. 1797 dan Irwa’ al-Ghalil no. 852, karena sumber periwayatannya adalah al-Bakhtari bin ‘Ubaid yang tertuduh pendusta. Wallahu a’lam.

Adapun pihak imam (penguasa), petugas pemerintah yang memungut zakat atau pihak penerima zakat, disunnahkan untuk mendoakan pemilik zakat yang memberinya dengan membaca:

“Allahumma shalli ‘alaih.” (Ya Allah, bershalawatlah atasnya).

Atau membaca:

“Allahumma baarik fiihi wa fii maalihi.” (Ya Allah, berkahilah dia dan hartanya)

Dalil doa yang pertama adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Hendaklah engkau (wahai Muhammad) mengambil zakat dari harta-harta mereka yang dengannya engkau membersihkan mereka dari dosa dan memperbaiki keadaan mereka, serta bershalawatlah untuk mereka.” (At-Taubah: 10d)

Demikian pula hadits Ibnu Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu: Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika didatangi oleh suatu kaum yang menyerahkan zakat mereka, beliau berkata, “Ya Allah, bershalawatlah atas mereka.” Datanglah ayahku menyerahkan zakatnya, beliau pun berkata, “Ya Allah, bershalawatlah atas keluarga Abu Aufa.” (HR. Al-Bukhari no. 1497 dan Muslim no. 1078)

Dalil doa yang kedua adalah hadits Wa’il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu, disebutkan di dalamnya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan seorang lelaki yang datang menyerahkan zakat untanya:

“Ya Allah, berkahilah dia dan hartanya.” (HR. An-Nasa’i, dishahihkan sanadnya oleh al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa’i no. 2458)

Tatkala ayat dan hadits menunjukkan disunnahkannya hal itu bagi imam (penguasa) dan petugasnya, menjadi sunnah pula bagi pihak penerima zakat yang menerimanya langsung dari pemilik zakat, sebab imam (penguasa) dan petugasnya merupakan wakil pihak penerima zakat. Jadi, hukumnya sunnah, bukan wajib!

Wallahu a’lam.

[Faedah ini diambil dari artikel "Adab Pembayaran Zakat" oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad al-Makassari dalam majalah Asy Syariah no. 62/VI/1431 H/2010, hal. 20]

Cara Mudah Mempelajari Aqidah Islam (1)

بسم الله الرحمن الرحيم

Cara Mudah Mempelajari Aqidah Islam (1)

Inilah cara mudah dalam mempelajari Aqidah Islam, dari tanya jawab bersama Kibarul Ulama di Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil ‘Ilmiyah wal Ifta’ (Komite Tetap untuk Pengkajian Ilmiah dan Fatwa). Kami terjemahkan dari website resminyawww.alifta.com yang disertai dengan link sumber-sumber fatwa untuk memudahkan pembaca mempelajari dalil-dalil dan penjelasannya secara detail. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadi amal shalih bagi yang menerjemahkannya, mempelajarinya dan menyebarkannya.

الرقم 

No

الحالة 

Masalah

الحكم 

Hukum

المرجع 

Sumber

1 من يعتقد تصرف أحد في الكون غير الله تعالى 

Seorang yang meyakini ada selain Allah yang mengatur alam ini

من يعتقد ذلك كافر 

Barangsiapa meyakini seperti itu kafir

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 57 – 58
2 جماعة تستغيث بغير الله 

Sekelompok orang ber-istighotsah(meminta pertolongan ketika musibah) kepada selain Allah

يشركون شركا أكبر 

Mereka telah berbuat syirik besar

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 102 – 103
3 الاستغاثة بالغائب الميت 

Istighotsah kepada orang yang tidak hadir, serta orang mati

شرك أكبر 

Syirik besar

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 110
4 من يستغيث بأصحاب القبور، أو ينذر لهم هل يصلى خلفه 

Bolehkah sholat menjadi makmum kepada orang yang ber-istighotsahkepada penghuni kubur?

لا يصح أن تصلي خلفه؛ لأنه مشرك 

Tidak sah sholat dengan bermakmum kepadanya, karena dia seorang yang menyekutukan Allah

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 118 – 119
5 هل يجوز أن يقول في الدعاء : (أجيبوا أو توكلوا يا خدام هذه الأسماء الحسنى بقضاء الحاجة) 

Bolehkah seorang berdoa: “Jawablah wahai para pengawal asmaul husna untuk mengabulkan hajatku?”

شرك أكبر؛ لأنه نداء غير الله 

Syirik besar, karena itu adalah doa kepada selain Allah

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 133 – 134
6 طلب المدد من شخص ميت 

Minta tolong kepada orang mati

شرك أكبر؛ لأنه طلب من غير الله تعالى 

Syirik besar, karena itu adalah doa (permohonan) kepada selain Allah

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 137
7 طلب المدد من الحي الذي ليس بحاضر 

Minta tolong dari seorang yang tidak hadir

ينصح فإن لم يقبل فهو مشرك 

Hendaklah dinasihatkan, jika pelaku tidak meninggalkan kesyirikan itu maka dia musyrik

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 137
8 ذكر الله جماعة بصوت واحد على طريقة الصوفية. 

Dzikir berjama’ah dengan satu suara (koor) seperti cara kaum Sufi

بدعة 

Bid’ah

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 138 – 139
9 دعاء غير الله من الأولياء والصالحين 

Berdoa kepada selain Alah seperti kepada para wali dan orang-orang shaih

شرك أكبر يخرج من الإسلام 

Syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 140 – 142
10 ادعاء علم الغيب 

Mengaku tahu ilmu ghaib

كفر 

Kufur

فتاوى اللجنة – المجموعة الأولى – ج: 1 ص: 140 – 142

Sumber Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.557 pengikut lainnya.