Arsip Blog

Kisah Khalifah Ali bin Abi Thalib (Bagian 2)

KEUTAMAAN ALI BIN ABI THALIB RADHIYALLAHU ‘ANHU

Imam Ahmad, Ismail al-Qadhi, An-Nasa’i dan Abu Ali an-Naisaburi berkata, “Belum ada riwayat-riwayat shahih berkenaan dengan keutamaan sahabat yang lebih banyak daripada riwayat tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu.15

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Sebabnya adalah karena beliau adalah yang terakhir, yaitu khalifah rasyid yang terakhir. Banyak terjadi perselisihan pada zaman beliau, sebagian orang membangkang terhadap beliau. Itulah sebabnya riwayat-riwayat tentang keutamaan beliau tersebar, bersumber dari penjelasan para sahabat sebagai bantahan terhadap orang-orang yang menyelisihi beliau. Oleh karena itu Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandang penting untuk menyebarkan riwayat-riwayat tentang keutamaan beliau. Sehingga banyaklah para perawi yang menukilnya. Karena pada hakikatnya seluruh khalifah rasyid yang empat masing-masing memiliki banyak keutamaan-keutamaan.

Dan apabila ditimbang dengan mizan yang adil pasti tidak akan keluar dari perkataan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”16

Ibnu Katsir berkata,17 “Di antara keutamaannya, beliau merupakan salah satu dari sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk sorga yang paling dekat hubungan nasabnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam”

Di antara keutamaannya, khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam pada hari kedelapan belas Dzulhijjah pada haji wada’ di tempat yang bernama Ghadir Khum, dalam khutbahnya beliau berkata,

”Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai walinya maka sesungguhnya ia telah menjadikan Ali sebagai walinya.18

Dalam sebagian riwayat disebutkan:

“Ya Allah belalah siapa saja yang membelanya (yakni Ali), musuhilah siapa saja yang memusuhinya dan hinakanlah siapa saja yang menghinakannya.“

Namun yang shahih adalah yang pertama.

Ali termasuk salah seorang sahabat yang ikut serta dalam peperangan Badar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam telah berkata kepada Umar,

“Tahukah kamu, sesungguhnya Allah telah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh para peserta perang Badar. Allah mengatakan, ‘Lakukanlah sesukamu sesungguhnya Aku telah mengampuni kamu’.”19

Ali juga ikut serta dalam Bai’atur Ridhwan. Allah telah berfirman,

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.”(Al-Fath: 18).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda,

“Tidak akan masuk neraka orang-orang yang ikut dalam bai’at di bawah sebuah pohon (yakni Bai ‘at Ridhwan).“20

Berikut ini akan kami cantumkan keutamaan-keutamaan Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu yang lainnya yang kami ambil dari kitab Shahihain, berdasarkan metodologi yang kami pakai dalam menyebutkan keutamaan khalifah-khalifah sebelumnya ridwanulloh ‘alaihim jami’an.

Imam al-Bukhari berkata dalam Shahihnya21,

Bab: Keutamaan Ali bin Abi Thalib al-Qurasyi al-Hasyimi Abul Hasan rodhiyallohu ‘anhu.

Rasulullah saw. bersabda,

“Engkau bagian dariku dan aku adalah bagian darimu.”22

Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam wafat dalam keadaan beliau meridhainya.23

*Ali Termasuk Orang yang Mencintai Allah dan RasulNya

Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad rodhiyallohu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda,

“Demi Allah, niscaya akan kuserahkan bendera ini esok hari kepada seseorang yang mencintai Allah serta RasulNya dan dia dicintai Allah serta RasulNya. Semoga Allah memberikan kemenangan melalui tangannya.” Maka semalam suntuk orang-orang membicarakan siapakah di antara mereka yang akan diserahi bendera itu. Keesokan harinya mereka mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam masing-masing berharap dialah yang diserahi bendera itu. Lalu Rasulullah bersabda, “Di manakah Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu.?” Dijawab, “Dia sedang sakit pada kedua matanya.” Rasulullah bersabda,“Panggil dan bawa dia kemari.” Dan dibawalah Ali kehadapan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi was sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam lalu meludah pada kedua belah matanya seraya berdoa untuknya. Seketika saja dia sembuh seakan-akan tidak pernah terkena penyakit. Kemudian Rasulullah menyerahkan bendera itu kepadanya. Ali berkata, “Wahai Rasulullah, aku memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita.” Rasulullah bersabda, “Majulah ke depan dengan tenang! Sampai kami tiba ke tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan sampaikanlah kepada mereka hak-hak Allah ‘azza wa jalla  yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, sekiranya Allah ‘azza wa jalla memberikan petunjuk kepada seseorang melalui dirimu, sungguh lebih baik (berharga) bagimu daripada memiliki unta-unta merah.”24

* Kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam Kepada Ali rodhiyallohu ‘anhu dan Pemberian Kuniyah untuknya

Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad rodhiyallohu ‘anhu ia berkata, “Ali menemui Fathimah kemudian keluar lalu berbaring di masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bertanya, “Dimanakah putera pamanmu itu?” Fathimah menjawab, “Di masjid.”Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam keluar menemuinya dan mendapati selendangnya terjatuh dari pungungnya sehingga tanah mengotori punggungnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam menghapus tanah tersebut dari punggungnya seraya berkata,

“Duduklah wahai Abu Turab.”

Beliau mengucapkannya dua kali.25

*Keterangan Abdullah bin Umar Tentang Keutamaan Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu

Diriwayatkan dari Sa’ad bin Ubaidah, ia berkata, “Seorang lelaki datang menemui Abdullah bin Umar dan bertanya kepadanya tentang Utsman. Ibnu Umar menyebutkan kebaikan-kebaikan Utsman. Beliau berkata, ‘Barangkali kamu tidak menyukainya?’ ‘Benar!’ Sahutnya.

‘Semoga Allah menghinakanmu.’

Kemudian ia bertanya tentang Ali. Ibnu Umar menyebutkan kebaikan-kebaikannya. Beliau berkata, ‘Begitulah keutamaannya, rumahnya berada di tengah-tengah rumah-rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam’ Kemudian beliau berkata, ‘Barangkali kamu tidak menyukainya.’

‘Benar!’ sahutnya.

Abdullah bin Umar pun berkata, ‘Semoga Allah menghinakanmu, menjauhlah kamu dariku sejauh-jauhnya’.”

*Kedudukan Ali di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam dan Apa yang Telah Rasulullah Pilihkan Buat Beliau.

Diriwayatkan dari al-Hakam, ia berkata, “Aku mendengar Ibnu Abi Laila berkata, Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu ia bercerita kepada kami,

‘Fathimah datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam untuk meminta pembantu (khadim) namun ia tidak bertemu dengan beliau. Ia bertemu dengan ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha dan mengabarkan maksud kedatangannya. Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu menuturkan, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam datang menemui kami ketika kami telah berada di pembaringan. Aku ingin bangkit menyambut beliau, namun beliau berkata, ‘Tetaplah ditempat kalian,’ beliau duduk di antara kami hingga aku merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau berkata,

‘Maukah kalian aku ajari sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta? Apabila kalian mendatangi pembaringan kalian ucapkanlah Allahu akbar sebanyak 34 kali, subhanallah sebanyak 33 kali dan alhamdulillah sebanyak 33 kali. Sesunggidinya itu lebih baik bagi kalian daripada seorang khadim’.”

Diriwayatkan dari Sa’ad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin ‘Auf ia berkata, Aku mendengar Ibrahim bin Sa’ad bin Abi Waqqash meriwayatkan dari ayahnya, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bahwa beliau berkata kepada Ali,

“Apakah engkau tidak ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun disisi Musa?”26

*Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu Membenci Perselisihan

Diriwayatkan dari Abidah bin Amru as-Salmani dari Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu ia berkata, “Putuskanlah hukum seperti kalian memutuskannya dahulu. Sesungguhnya aku membenci perselisihan. Upayakanlah agar kaum muslimin satu jama’ah, atau aku mati sebagaimana sahabat-sahabatku mati.”

Ibnu Sirin menyimpulkan bahwa hampir seluruh riwayat yang dinukil dari Ali adalah dusta.27

*Wasiat Supaya Berpegang Teguh dengan Kitabullah dan Memelihara Hak Ahli Bait.

Imam Muslim berkata, “Zuhair bin Harb dan Syuja’ bin Makhlad telah menceritakan kepada kami dari Ibnu Ulayyah, Zuhair berkata, Ismail bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Abu Hayyan telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Yazid bin Hayyan telah bercerita kepada kami, ‘Aku bersama Hushain bin Sabrah dan Umar bin Muslim berangkat menemui Zaid bin Arqam. Ketika kami duduk bersamanya. Hushain berkata kepadanya, ‘Engkau telah memperoleh kebaikan yang sangat banyak wahai Zaid! Engkau telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam engkau telah mendengar hadits-hadits beliau, berperang bersama beliau dan shalat di belakang beliau. Engkau telah memperoleh kebaikan yang sangat banyak wahai Zaid. Maka dari itu sampaikanlah kepada kami hadits-hadits yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam ’ Zaid pun berkata, ‘Wahai saudaraku, demi Allah usiaku telah lanjut, ajalku sudah dekat dan aku sudah lupa sebagian yang dahulu aku hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam. Terimalah hadits yang aku sampaikan ini kepada kalian. Dan apa-apa yang tidak aku sampaikan maka janganlah kalian bebani aku dengannya.’ Kemudian Zaid berkata,

‘Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam menyampaikan khutbah di sebuah mata air bernama Khum28 yang terletak antara Makkah dan Madinah. Setelah memanjatkan puja dan puji kepada Allah, memberi peringatan dan nasehat beliau berkata,

‘Amma ba’du, ketahuilah wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia, hampir tiba masanya kedatangan seorang utusan Rabbku dan aku akan menyambut panggilannya. Sungguh, aku telah tinggalkan padamu dua perkara, pertama Kitabullah, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Ambillah pedoman dari Kitabullah dan pegang teguhlah ia. Beliau memerintahkan untuk berpegang teguh kepada Kitabullah dan mencintainya, kemudian beliau bersabda, ‘ Dan aku peringatkan kepada Allah agar kalian menjaga ahli baitku’ Beliau ulangi sebanyak tiga kali.’

Al-Husain berkata kepadanya, ‘Siapakah ahli bait nabi wahai Zaid? Bukankah istri beliau termasuk ahli bait?’ Zaid berkata, ‘Istri beliau termasuk. Ahli bait, dan juga termasuk ahli bait adalah karib kerabat beliau yang diharamkan menerima zakat’

‘Siapakah mereka?’ Tanya al-Husain lagi.

Zaid menjawab, ‘Keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas. ‘

Apakah mereka diharamkan menerima zakat?’ Tanya al-Husain lagi.

‘Benar!’ jawab Zaid.”29

Diriwayatkan dari Zirr bin Hubaisy dari Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu. ia ber-kata,

“Demi Allah yang menumbuhkan biji-bijian dan menciptakan jiwa, ini merupakan pesan nabi yang ummi shallallahu ‘alaihi was sallam kepadaku bahwasanya tidaklah seseorang mencintaiku melainkan ia seorang mukmin dan tidaklah membenciku melainkan ia seorang munafik.”30

Bersambung..

Artikel Blog Abu Abdurrohman

————————————————————————————————————–

Fote Note:

15 Fathul Bari, 7/71.

16 Fathul Bari, yakni tingkat keutamaan mereka sama seperti posisi mereka dalam urutan khilafah.

17 Al-Bidayah wan Nihayah, 11/29.

18 Diriwayatkan melalui beberapa jalur sanad dan jalan-jalan yang banyak hingga adz-Dzahabi berkata, “Hadits yang berbunyi: “Barangsiapa menjadikan aku sebagai walinya maka sesungguhnya ia telah menjadikan Ali sebagai walinya” adalah hadits mutawatir, kami yakin Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam. telah mengucapkannya.” Lihat al-Bidayah wan Nihayah, 7/681, akan tetapi di dalamnya terdapat tambahan-tambahan yang mungkar. Al-Hafizh adz-Dzahabi dan Ibnu Katsir telah memperingatkannya. Silahkan lihat Silsilah al-ahadits ash-Shahihah karya Syaikh al-Albani hadits nomor 1750.

19 Hadits muttafaqun ‘alaihiriwayat al-Bukhari, 3983 dan Muslim, 2494.

20 Hadits muttafaqun ‘alaihi riwayat al-Bukhari, 4840 dan Muslim, 1856.

21 Yakni dalam kitab Shahih, kitab Fadhail’ ash-Shahabah, Bab Fadhail Ali, 7/70-71 dari kitab FathulBari.

22 Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitab Fathul Bari, 7/72, “Riwayat ini telah diriwayatkan secara maushul (tersambung sanadnya) oleh penulis dalam kisah perjanjian Hudaibiyah dan kisah Umratul Qadha’ secara lengkap. Dan ini bukanlah keistimewaan yang hanya dimiliki oleh beliau seperti yang dikira oleh sebagian orang. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam juga berkata kepada kaum Asy’ariyyin, ‘Mereka adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari mereka.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam juga berkata kepada Julaibib, ‘Engkau adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darimu’.”

23 Hadits riwayat al-Bukhari nomor 37 dalam bab Manaqib Utsman

24 Hadits riwayat Muslim dari hadits Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu nomor 4205 dan dari hadits Sahal bin Sa’ad rodhiyallohu ‘anhu  nomor 2406.

25 Hadits riwayat Muslim dalam Shahihnya nomor 2409.

26 Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab al-Maghazi Bab Perang Tabuk hadits nomor 4416 dengan lafal yang lebih lengkap dari ini, di dalamnya ditambahkan, “Hanya saja tidak ada nabi setelahku.” Diriwayatkan juga oleh Muslim nomor 2404. Al-Qadhi Iyadh berkata, “Hadits ini termasuk dalil yang dipakai oleh kaum Rafidhah, Imamiyah dan seluruh kelompok Syi’ah bahwasanya kekhalifahan adalah hak Ali rodhiyallohu ‘anhu, dan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam telah mewasiatkan jabatan khalifah kepadanya.Kemudian mereka berselisih pendapat. Kaum Rafidhah mengkafirkan seluruh sahabat karena telah mendahulukan selain Ali. Sebagian mereka bahkan mengkafirkan Ali bin Abi Thalib karena menurut anggapan mereka Ali tidak menuntut haknya. Mereka ini adalah kelompok yang paling buruk madzhabnya dan paling rusak akalnya, ucapan mereka tidak perlu dibantah lagi dan tidak perlu didebat.”

Al-Qadhi melanjutkan, ‘Tidak syak lagi tentang kafirnya orang yang mengatakan seperti itu. Karena orang yang mengkafirkan seluruh umat dan generasi pertamanya berarti ia telah membatalkan penukilan syariat dan telah merubuhkan Islam. Adapun selain kelompok radikal ini tidaklah berpandangan seperti itu. Kaum Imamiyah dan sebagian Mu’tazilah mengatakan, ‘Mereka (para sahabat) telah keliru karena mendahulukan selain Ali, bukan kafir.’ Sebagian kaum Mu’tazilah bahkan mengatakan bahwa mereka (para sahabat) tidak keliru, karena menurut mereka boleh saja mendahulukan yang tidak utama daripada yang utama.”

Hadits ini bukanlah hujjah bagi mereka. Bahkan ini merupakan penetapan keutamaan Ali bin Abi Thalib rodhiyallohu ‘anhu. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam telah menunjuk beliau sebagai khalifah sementara di kota Madinah saat beliau mengikuti perang Tabuk. Hal ini dikuatkan pula dengan kenyataan bahwa Harun bukanlah khalifah setelah Musa, bahkan Harun wafat pada saat nabi Musa masih hidup, yakni beliau wafat empat puluh tahun sebelum nabi Musa wafat. Berdasarkan keterangan yang masyhur dari pakar sejarah, mereka berkata, “Nabi Musa menunjuknya sebagai khalifah ketika beliau pergi untuk bermunajat kepada Rabbnya.”

Saya katakan, Penunjukan Ali sebagai khalifah pengganti di Madinah adalah bersifat khusus untuk mengurus dan memelihara keluarga beliau saat beliau pergi ke peperangan Tabuk. Adapun khalifah pengganti yang bersifat umum untuk kota Madinah kala itu adalah Muhammad bin Maslamah al-Anshari seperti yang telah disebutkan oleh ulama sejarah.

27 Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari, 7/73, “Maksudnya adalah ucapan-ucapan yang diriwayatkan oleh kaum Rafidhah dari Ali bin Abi Thalib, di antaranya yang berisi penyelisihan beliau terhadap Abu Bakar dan Umar rodhiyallohu ‘anhu. Maksudnya bukanlah riwayat-riwayat yang dinukil dari beliau tentang masalah-masalah hukum syar’i. Ibnu Sa’ad telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abdullah bin Abbas rodhiyallohu ‘anhu ia berkata, “Jika seorang tsiqah menyampaikan kepada kami dari Ali sebuah fatwa maka kami tidak akan melangkahinya.”

28 Khum adalah mata air yang terletak tiga mil dari Juhfah, mata air yang dikenal dengan sebutan Ghadir Khum. Silahkan lihat Mu’jam al-Buldan, 2/389

29 Saya katakan, Mereka adalah Bani Hasyim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam memasukkan Bani Abdul Muthailib bin Abdi Manaf ke dalam bagian karib kerabat, tidak seluruh anak keturunan Abdi Manaf. Karena mereka adalah sekutu Bani Hasyim yang tidak pernah terpisahkan baik pada masa jahiliyah maupun setelah datangnya Islam. Silakan lihat Tafsirlbnu Katsir, 3/63 dan 64.

30 Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya dalam Kitabul Iman nomor 78 dan dalam Sunan an-Nasa’i kitab Fadhail ash-Sahabah nomor 50.

===============================

Sumber: kisahislam.net
Judul Asli: Tartib wa Tahdzib Kitab al-Bidayah wan Nihayah
Penulis: al-Imam al-Hafizh Ibnu Katsir
Pennyusun: Dr.Muhammad bin Shamil as-Sulami
Penerbit: Dar al-Wathan, Riyadh KSA. Cet.I (1422 H./2002 M)
Edisi Indonesia: Al-Bidayah wan-Nihayah Masa Khulafa’ur Rasyidin
Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari
Muraja’ah: Ahmad Amin Sjihab, Lc
Penerbit: Darul Haq, Cetakan I (Pertama) Dzulhijjah 1424 H/ Pebruari 2004 M.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.628 pengikut lainnya.