Arsip Blog

Hukum Mempelajari Kitab Taurat Dan Injil

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang seorang muslim yang membuka-buka kitab Taurat dan Injil serta membacanya hanya sekadar ingin tahu saja, tidak ada tujuan yang lainnya. Haruskah kita mengimani keduanya?

Dijawab oleh syaikh kurang lebihnya demikian:

Wajib bagi setiap muslim untuk beriman kepada kitab-kitab tersebut; Tauratnya, Injilnya maupun Zaburnya. Maka kita wajib mengimaninya bahwa kitab-kitab tersebut telah diturunkan Allah kepada para nabi-Nya. Dan Allah juga telah menurunkan lembaran-lembaran yang berisikan perintah dan larangan, ancaman dan peringatan, berita-berita yang telah terjadi di masa lalu, berita tentang surga dan neraka, juga yang semisal dengan itu.

Akan tetapi bukan berarti boleh dipakai, karena kitab-kitab tersebut telah mengalami penyelewengan, pergantian maupun perubahan. Dan bukan juga berarti boleh melihat-lihat kitab Zabur, Taurat dan Injil atau membacanya. karena yang demikian amatlah berbahaya, karena terkadang isinya mendustakan kebenaran atau membenarkan kebathilan. Karena kitab-kitab ini telah diselewengkan dan telah diubah, juga telah disusupkan ke dalamnya oleh mereka-mereka dari kalangan kaum Yahudi maupun Nasrani maupun selain mereka baik dengan perubahan, penyelewengan, pendahuluan maupun penundaan. Dan cukuplah bagi kita kitab suci kita sebagai pedoman; yaitu Al-Qur’an.

Dan telah diriwayatkan dari Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bahwasanya:

 رأى في يد عمر شيئا من التوراة فغضب وقال: أفي شك أنت يا ابن الخطاب ؟ لقد جئتكم بها بيضاء نقية لو كان موسى حيا ما وسعه إلا اتباعي

Beliau pernah melihat di tangan Umar sebagian dari lembaran kitab Taurat, maka marahlah Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam seraya berkata: “Apakah engkau dalam keraguan wahai Ibnal Khoththob? Sungguh aku telah membawakan kepadamu cahaya putih yang bersih. Kalaulah sekiranya Musa masih hidup, maka tidak ada keringanan baginya melainkan harus mengikuti aku.” (Musnad Imam Ahmad 3/387, Sunan Ad-Darimi di dalam mukadimahnya 435)

Yang kami maksud: Kami nasehatkan anda dan orang-orang selain anda untuk tidak mengambil dari kitab-kitab tersebut sedikitpun, tidak dari Taurat, dari Zabur dan tidak pula dari Injil. Dan jangan anda melihat-lihatnya, dan jangan membacanya sedikitpun. Bahkan apabila anda memiliki sebagiannya saja dari kitab-kitab tersebut maka tanamlah atau bakarlah. Karena kebenaran yang ada padanya telah dicukupkan oleh Kitabulloh Al-Qur’an, dan perubahan maupun penggantian yang ada di dalamnya merupakan kebatilan dan kemungkaran.

Maka yang wajib bagi setiap mukmin untuk mawas diri yang demikian, dan memperingatkan dari membuka-buka kitab-kitab tersebut. Terkadang isinya membenarkan kebatilan dan mendustakan kebenaran, sehingga jalan selamatnya ialah dengan menimbunnya atau membakarnya.

Kendati demikian, terkadang dibolehkan bagi seorang alim yang memiliki pandangan yang luas melihat kitab-kitab tersebut, demi membantah musuh-musuh islam baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh nabi untuk menghadirkan kitab Taurat manakala Yahudi mengingkari hukum rajam agar melihatnya kembali kepada kitab Taurat, hingga mereka pun mengakuinya.

Maksudnya: Bahwa para ulama yang luas pengetahuannya terkadang mereka butuh untuk mengkaji kitab Taurat, Injil atau Zabur untuk tujuan yang Islami; seperti membantah musuh-musuh Islam atau menjelaskan keutamaan Al-Qur’an dan kebenaran serta petunjuk yang ada di dalamnya. Adapun orang yang awam atau yang serupa dengannya, maka mereka tidak berhak melakukan yang demikian. Bahkan kapanpun mereka mendapati sebagian dari Taurat atau Injil maupun Zabur, maka yang wajib baginya ialah menimbunnya atau membakarnya agar jangan ada satupun yang menjadi tersesat karenanya.

(Nur ‘alad Darb, Ibnu Baz 1/11)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Abduh hafidzhahullahu Ta’ala

Disalin dari artikel blog Rizky Abu Salman untuk blog Abu Abdurrohman

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.556 pengikut lainnya.