Arsip Tag: ilmu agama

Belajar Ikhlas

Mengeja kata ikhlas adalah sesuatu yang bisa dilakukan oleh seorang anak yang masih balita yang baru belajar membaca, bahkan seorang yang mencari asal kata ikhlas secara bahasa adalah sangat mudah bagi mereka yang mempelajari bahasa Arab tingkat pemula. Lain halnya dengan penjagaan dan usaha untuk mengamalkan dari sebesar-besar perintah Allah tersebut, sebagaimana termaktub dalam firman Allah Ta’aala :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan bagi-Nya agama ini. (Al-Bayinah : 5).

Yaitu Manusia tidaklah diperintahkan untuk mengerjakan pada seluruh syari’atNya kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan hanya memaksudkan pada seluruh peribadatan tersebut yaitu Wajah Allah semata, apakah peribadatan yang dhahir dan yang bathin dan dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam tulisan singkat ini tidaklah akan membahas bab ikhlas secara panjang lebar yang wajib ada dalam setiap amalan, tetapi hanya kita sampaikan tentang pentingnya menjaga keikhlasan di dalam thalabul ilmi (belajar ilmu agama ini), yaitu belajar ikhlas dalam belajar ilmu agama.

Rasulullah shallallhu’alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dihasankan derajatnya oleh Asy-Syaikh Al-Albani –rahimahullah- dari sahabat ‘Abdullah bin Umar –radziallahu’anhuma.- :

مَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِيُبَاهيَ بِهِ العُلَماءَ وَيُمارِيَ بِهِ السُفَهاءَ أو ليَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إلَيهِ فَهوَ في النَّارِ

“Barangsiapa yang mencari ilmu dengan tujuan menyaingi dengannya para ulama, atau untuk mendebat orang-orang bodoh, atau untuk menjadikan wajah-wajah manusia menoleh kepadanya maka orang tersebut (nanti) di dalam api neraka.”

Mencari ilmu adalah seutama-utama amalan sholeh dan seutama-utama jenis peribadatan kepada Allah Ta’aala, maka menjadi suatu keharusan atas siapa saja yang mencari ilmu untuk menjaga keikhlasan niat karena Allah semata, dan tidak diinginkan dengannya selain Allah, apakah dari niatan mencari kesenangan dunia atau niatan-niatan sebagaimana disebutkan dalam hadits tersebut di atas. Termasuk di antaranya adalah belajar ilmu agama semata menghendaki gelar-gelar dan semata-mata mencari ijazah dan niatan dunia yang lain. Maka niatan-niatan semata-mata karena perkara tersebut hendaklah dikoreksi kembali untuk kemudian diluruskan semata karena Allah Ta’aala.

Syaikh Muhammad Bin Shalih Al’Utsaimin telah menorehkan tinta emasnya berkaitan dengan bab keikhlasan di dalam mencari ilmu syari’ah pada sebuah karya beliau yaitu Kitab Al-Ilmu : Seyogyanya seseorang menjadikan tujuan mencari ilmu adalah untuk mencari wajah Allah ‘Azza Wa Jalla semata dan untuk negeri akhirat. Karena Allah Ta’aala telah menganjurkan kepada para hamba-Nya terhadap perkara ini, dan Allah Ta’aala telah menjadikan cinta kepada tujuan seperti ini sebagaimana Firman-Nya :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada ilah yang berhak diibadahi melainkan Allah dan memintalah pengampunan atas dosa-dosamu “(Muhammad : 19)

Di dalam Al-Qur’an sangat dikenal tentang pujian Allah atas orang-orang yang berilmu. Dan apabila Allah memuji atas sesuatu atau jika Allah memerintahkan kepada sesuatu maka hal tersebut adalah merupakan bentuk ibadah. Maka dengan demikian wajib bagi setiap penuntut ilmu untuk mengikhlaskan niatnya semata karena Allah Ta’aala. Apabila seorang mencari ilmu syar’i demi mengharapkan ijazah yang menghantarkan seseorang tersebut terhadap suatu kedudukan-kedudukan tertentu, Bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sesungguhnya telah bersabda :

 

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْماً يُبْثَغَي بِهِ وَجْهُ الله لاَ يَتَعَلَّمُهُ إلا لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضاً مِنَ الدُنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَومَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa mencari ilmu yang seharusnya dengan niat dicari wajah Allah Ta’aala, akan tetapi seseorang tersebut mencarinya untuk bagian dari dunia, maka tidaklah ia akan mendapatkan baunya syurga di hari kiamat.

Ini adalah ancaman yang sangat keras. Akan tetapi apabila seseorang yang mencari ilmu mengatakan : Aku menghendaki ijazah bukan karena menginginkan dengannya bagian dari dunia, namun karena keadaan di masa sekarang ini manusia menqiyaskan seorang yang memiliki ilmu dengan ijazahnya. Maka kami mengatakan : Apabila memang niatnya mencari ijazah itu untuk memberikan kemanfaatan kepada makhluk dari sisi mengajarkan ilmu atau terkait dengan administrasi maka niat yang demikian ini adalah niat yang selamat dan tidak memudharatkan dikarenakan niatnya benar.

Para pembaca hafidhakumullah.

Demikian faedah emas dari seorang ulama Rabbani yang patut dicamkan, yang senantiasa berusaha membimbing umat agar tidak keliru berniat pada amalan yang sangat utama dan sangat mulia yaitu dalam menuntut ilmu (bisa dibaca pula dengan : dalam bersekolah). Dari sini diketahui bahwa niatan mencari ijazah sebagaimana penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin karena hal yang dijelaskan di atas adalah suatu yang diperbolehkan.

Tinggalah kita melihat kepada niatan diri-diri kita di dalam kita menuntut ilmu untuk mencari ijazah tersebut. Kalau dalam belajar agama ini semata mencari ijazah untuk mengharapkan kedudukan-kedudukan dunia maka masuklah dalam ancaman yang keras sebagaimana disebutkan dalam hadits yang beliau –rahimahullah- bawakan sebagaimana penjelasan beliau di atas. Dan yang perlu untuk diperhatikan pula dalam upaya meraih selembar ijazah tersebut adalah kejujuran-kejujuran pada perjalanan untuk meraihnya. Karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu akan menghantarkan kedalam syurga, sebaliknya kedustaan itu akan menyeret kepada berbagai bentuk perbuatan fajir. Dan kefajiran itu akan menyeret ke dalam api neraka. Sehingga marilah kita bersama untuk senantiasa mempelajari bab keikhlasan.

Para pembaca hafidzakumullah,

Terlebih kedudukan kita sebagai seorang suami atas isterinya, sebagai orang tua atas anak-anaknya, sebagai seorang isteri dalam tanggung jawabnya sebagai isteri untuk mendampingi suaminya, sekaligus sebagai ibu atas anak-anaknya. Di pundak-pundak kita semuanya tanggung jawab tarbiyyah terhadap generasi anak-anak kita untuk mengemban dakwah ilallah. Berilah kepada anak-anak kita pembelajaran untuk senantiasa belajar ikhlas dalam belajar agama ini. Sebagai penutup atas pesan tulisan singkat ini. kita hendaklah senantiasa mengingat permohonan Nabi Ibrahim dalam doanya :

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Ya Rabb kami jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari beribadah kepada patung (Ibrahim : 35)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Rabb jadikanlah kami adalah orang-orang yang menegakkan sholat dan demikian pula anak keturunan kami ( Ibrahim 40)

Disalin dari artikel Ustadz Marwan untuk blog Abu Abdurrohman

KEUTAMAAN “BELAJAR AGAMA” & MENGAJARKANNYA : Semut dan Ikan pun turut Mendo’akannya| Hukum Belajar Agama dari Buku dan Kaset

Semut dan Ikan pun Turut Berdo’a

Al-Ustadz Abu Nashim Mukhtar “iben” Rifa’i

Pembaca,rahimakallahu…

Berbondong gelombang demi gelombang langkah kaki diarahkan. Ayunan tangan turut menyertai setiap hembusan nafas manusia-manusia hebat di atas hamparan bumi. Jarak bukanlah penghalang walau jauh tak terkira. Panas dan hujan bagi mereka adalah sahabat dekat. Terik matahari tidak mereka hiraukan. Ya,manusia-manusia hebat itu. Ada apa dengan mereka?

            Kampung halaman, Siapa di antara kita yang tak merindukan negeri kelahiran? Ada sejuta kenangan di sana,tempat setiap insan besar dan dibesarkan. Namun bagi mereka,manusia-manusia hebat itu,berpisah dan meninggalkan kampung halaman adalah mengasikkan. Walau berat memang,meski pahit tentunya. Waktu bukanlah alasan walau terasa lama. Mereka,manusia-manusia hebat itu,yang selalu dinantikan,”Di purnama bulan apa kalian akan kembali?”. Mengapa mereka melawan arah rindu yang terkekang?

            Sungguh,mereka benar-benar manusia hebat. Mereka adalah para pengembara dari satu negeri menuju negeri selanjutnya. Tidak ada tujuan yang dicari kecuali ilmu agama,firman Allah dan sabda rasul Nya.Mereka adalah para pecinta ilmu yang sedang mengemban misi suci ,thalabul ilmi. Untuk apa?

            Sejarah telah diukir dan terlukis indah dengan kisah-kisah mengharu biru tentang mereka,para ulama’ panutan umat. Perjuangan berat dan pengorbanan yang sulit telah mereka lalui.Dan kita pun pasti bertanya-tanya,”Demi apa mereka lakukan itu semua?”

Pembaca,hafidzakallahu…

Alangkah bahagianya seseorang yang selalu didoakan dengan kebaikan dan dimohonkan ampunan. Siapa yang tak ingin?

Pernahkah terbayang jika yang mendoakan adalah makhluk sejagat? Yang ada di langit berlapis dan yang hidup di atas permukaan bumi,semuanya turut berdoa untuk kebaikan untuk Anda. Bahkan semut-semut di sarangnya juga ikan-ikan di air tempat hidupnya tak ketinggalan untuk mendoakan kebaikan. Untuk siapa?

Semua mendoakan kebaikan kepada hamba yang selalu mengajarkan ilmu dan kebaikan kepada masyarakatnya. Sungguh menyenangkan! Dan,hanya ada satu tangga untuk meraihnya yaitu thalabul ilmi.

Maka,terjawablah sudah tanda tanya yang sempat lahir di atas tadi!

Mereka,manusia-manusia hebat itu,rela melakukan perjalanan jauh berbulan bahkan bertahun dengan meninggalkan kampung halaman dan sanak kerabat, salah satu sebabnya adalah harapan yang selalu hadir di dalam hati dengan sabda Rasulullah,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

“Sesungguhnya Allah,para malaikat Nya,penduduk langit dan bumi sampai pun semut di sarangnya dan ikan di lautan turut mendoakan kebaikan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia”[1]

Subhanallah!

Pembaca,baarakallahu fiik…

Jangan heran dan jangan kaget! Allah Maha Mampu untuk menjadikan makhluknya dapat berbicara dan berdoa.Amatlah mudah bagi Allah untuk mengijinkan semut dan ikan turut mendoakan kebaikan untuk para pemilik ilmu agama.

Allah berfirman dalam ayat Nya,

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَاْلأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّيُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِن لاَّتَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

            Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS. 17:44)

Ibnu Katsir menjelaskan,

“Tidak ada satu pun makhluk kecuali ia pasti bertasbih dengan memuji Allah. Namun,kalian tidak dapat mengerti tasbih mereka,wahai segenap manusia. Sebab,berbeda  dengan bahasa kalian.

Hal ini berlaku secara umum untuk hewan binatang,pohon tetumbuhan dan benda-benda mati.

Pendapat ini adalah yang paling masyhur dibanding pendapat lain”[2]

Pembaca,arsyadakallahu…

Al Imam Al Bukhari meriwayatkan sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud,beliau berkata,

“Dulu kami dapat mendengar tasbih dari makanan yang sedang disantap”

Dalam sebuah riwayat,sahabat menceritakan bahwa Rasulullah pernah mengambil beberapa butir kerikil lalu meletakkannya di atas telapak tangan beliau,ternyata kerikil-kerikil tersebut bertasbih.Kemudian beliau meletakkan kembali di atas tanah dan kerikil-kerikil itu pun diam.

Lalu Rasulullah mengambil kerikil-kerikil tersebut dan meletakkannya di atas telapak tangan Abu Bakar,ternyata kerikil-kerikil itu bertasbih. Kemudian beliau meletakkan kembali di atas tanah dan kerikil-kerikil itu pun diam.

Lalu Rasulullah mengambil kerikil-kerikil tersebut dan meletakkannya di atas telapak tangan Umar,ternyata kerikil-kerikil itu bertasbih. Kemudian beliau meletakkan kembali di atas tanah dan kerikil-kerikil itu pun diam.

Lalu Rasulullah mengambil kerikil-kerikil tersebut dan meletakkannya di atas telapak tangan Utsman,ternyata kerikil-kerikil itu bertasbih.Kemudian beliau meletakkan kembali di atas tanah dan kerikil-kerikil itu pun diam.[3]

Luar biasa,bukan?

Pembaca,rahimakallahu…

Thalabul ilmi akan membawa kita menuju sebuah dunia yang dipenuhi dan dihiasi oleh doa-doa seluruh makhluk sejagat raya.

Dan Anda? Di manakah letak Anda dari peta kebaikan semacam ini? Duduk terdiam tanpa terbersit untuk menjadi seperti mereka,yang pandai dan mengerti tentang agama? Tidakkah Anda ingin berada di barisan shaf terdepan?

Bersemangatlah,Saudaraku,untuk mempelajari ilmu-ilmu agama Islam! Sebab untuk orang semacam Anda,semut dan ikan pun turut berdoa. Baarakallahu fiik

[1] Hadits Abu Umamah Al Bahili riwayat Tirmidzi () di shahihkan oleh Al Albani.

[2] Tafsir Ibnu Katsir

[3] Dishahihkan oleh Al Albani dalam Dzilalul Jannah

Sumber : http://www.salafy.or.id/siroh/semut-dan-ikan-pun-turut-berdoa/

*********************

Hukum Belajar Agama dari Buku dan Kaset

al-adab-al-mufradAsy-Syaikh Al-’Utsaimin ghafarallahu lahu ditanya: Bolehkah mempelajari ilmu hanya melalui kitab-kitab, bukan kepada para ulama, khususnya jika ia mengalami kesulitan untuk mempelajari ilmu tersebut dari mereka, karena jarangnya (sedikitnya) jumlah mereka. Bagaimana pendapat anda dengan ucapan seorang yang menyatakan, “Barangsiapa yang syaikhnya adalah kitab, maka kekeliruannya lebih banyak daripada kebenarannya?”Beliau rahimahullah menjawab: 

Tidak diragukan bahwa ilmu bisa diraih dengan jalan menimbanya dari para ulama atau dari kitab-kitab. Karena kitab seorang ulama adalah ulama itu sendiri, ia akan berdialog denganmu dengan kitabnya tersebut. Apabila ia tidak (bisa) menuntut ilmu melalui seorang ulama, maka ia (bisa) menuntut ilmu melalui kitab-kitab. Tapi perolehan ilmu lewat jalan para ulama lebih dekat (efektif) dibandingkan perolehan ilmu lewat kitab.

Karena orang yang memperoleh ilmu melalui jalan kitab lebih melelahkannya dan membutuhkan usaha yang sangat keras, kendati demikian terkadang tersamarkan beberapa perkara bagi orang tersebut, seperti pada kaidah-kaidah syari’at dan patokan-patokannya yang telah dirumuskan oleh para ulama. Jadi, ia harus mempunyai seorang ulama yang dijadikan rujukan sebatas kemampuannya.

Adapun ucapan mereka: “Barangsiapa penuntunnya adalah kitabnya maka kekeliruannya lebih banyak dari kebenarannya.” (Pernyataan) ini tidak benar secara mutlak dan tidak juga salah secara mutlak. Adapun orang yang mengambil ilmu dari kitab manapun yang dia lihat dari manapun, tidak diragukan lagi dia akan banyak terjerumus pada kekeliruan.

Adapun orang yang berpedoman dalam proses belajarnya pada kitab-kitab yang disusun oleh para ulama yang sudah dikenal ketsiqahannya (terpercaya), sifat amanah, dan keilmuannya. Hal tersebut tidak akan banyak kesalahannya, bahkan bisa jadi dia mencocoki kebenaran pada kebanyakan ucapannya.

* * *
Asy-Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullah ditanya: Apa yang anda nasehatkan kepada seseorang yang ingin menuntut ilmu syariat akan tetapi keberadaannya jauh dari ulama dan diketahui bahwa ia memiliki sejumlah kitab-kitab di antaranya kitab-kitab ushul dan kitab-kitab mukhtasharat (ringkasan/pendek)?

Beliau rahimahullah menjawab:

Saya nasehatkan kepada orang itu untuk terus tekun (konsisten) dalam menuntut ilmu dan memohon pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla kemudian meminta bimbingan para ulama. Sebab, pada hakekatnya seseorang yang belajar melalui bimbingan seorang ulama akan dapat menghemat waktu daripada dia menelaah sendiri sejumlah kitab dan mendapati beragam pendapat di dalamnya.

Saya tidak mengatakan sebagaimana orang yang mengatakan bahwa seseorang tidak mungkin memperoleh ilmu kecuali melalui seorang ulama (syaikh). Ini tidak benar, karena kenyataan yang ada menafikan hal tersebut. Tetapi dengan engkau belajar melalui seorang syaikh, dia akan memberikan penerangan pada jalanmu dan cara tersebut lebih efektif.

147* * *
Asy-Syaikh Al-’Utsaimin juga ditanya: Bisakah kaset rekaman dianggap sebagai suatu jalan untuk memperoleh ilmu dan bagaimanakah cara terbaik untuk bisa menimba manfaat dari kaset rekaman tersebut?

Beliau rahimahullah menjawab:

Tidak ada seorangpun meragukan bahwa kaset rekaman merupakan salah satu sarana yang bisa digunakan untuk memperoleh ilmu. Kita tidak menafikan nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepada kita dengan kaset rekaman ini yang kita telah banyak mengambil manfaat ilmu darinya. Sebab kaset rekaman tersebut dapat mentransfer ucapan ulama kepada kita di manapun kita berada.

Di rumah-rumah kita, boleh jadi didapati adanya keuntungan positif yang kita dapatkan dari seorang ulama, mudah bagi kita untuk mendengarkan ucapan ulama lewat media kaset rekaman tersebut. Kenikmatan ini adalah dari sekian nikmat yang Allah Azza wa Jalla karuniakan kepada kita. Pada hakekatnya (kaset rekaman tersebut) bisa memberikan keuntungan bagi kita atau (sebaliknya) bisa menjadi bencana bagi kita. Sesungguhnya ilmu telah tersebar secara luas melalui media kaset rekaman ini.

Adapun bagaimana caranya untuk mengambil manfaat dari rekaman kaset tersebut, ini kembali pada keadaan orang yang bersangkutan. Di antara manusia ada yang bisa mengambil manfaat dari kaset rekaman tersebut tatkala ia sedang mengendarai mobil. Di antaranya ada yang menyimaknya pada saat dia makan siang, makan malam atau tatkala minum kopi. Yang penting, bagaimana cara menimba manfaat dari kaset tersebut, hal itu kembali kepada diri masing-masing orang. Kita tidak mungkin mengatakan patokan umum dalam hal itu.

Sumber: Tuntunan Ulama Salaf dalam Menuntut Ilmu Syar’i karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin (penerjemah: Abu Abdillah Salim bin Subaid), penerbit: Pustaka Sumayyah, hal. 151,173-174 dan 232-233.