Arsip Tag: rumah tangga

Wajibkah Suami Membelikan Rumah?

Wajibkah Suami Membelikan Rumah?

Syaikh Muhammad bin Muhammad Al Mukhtar Asy Syanqithi hafizhahullah, ketika membahas wajibnya nafkah bagi istri, beliau mengatakan:

Hak kedua yang diwajibkan Allah untuk diberikan para istri adalah hak nafkah. Hak nafkah ini diwajibkan dalam Al Kitab, As Sunnah dan Ijma’. Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya:

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلاَّ مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْراً .

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (QS. Ath Thalaq: 7).

Wajib menafkahi jika suami adalah orang kaya, sesuai dengan apa yang Allah karuniakan baginya. Jika suami miskin, maka semampunya sesuai dengan apa yang Allah berikan padanya dalam kondisi miskin tersebut. Para ulama menyatakan, dalam ayat yang mulia ini, ada 2 perkara penting:

  1. Wajibnya nafkah, yaitu dalam kalimat  لِيُنفِقْ. Sehingga memberi nafkah pada istri hukumnya wajib.
  2. Nafkah dikaitkan dengan keadaan si suami.  Jika suami adalah orang kaya, sesuai dengan apa yang Allah karuniakan baginya dari kekayaannya. Jika suami miskin, maka semampunya sesuai dengan apa yang Allah berikan padanya dalam kondisi miskin tersebut. Hal ini tersurat dalam kalimat :وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ

    Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya

Kemudian beliau membawakan dalil-dalil lain mengenai wajibnya nafkah dan membahas jenis-jenis nafkah yang wajib diberikan kepada istri. Ketika membahas mengenai nafkah tempat tinggal, Syaikh Muhammad Asy Syanqithi menjelaskan:

Wajib bagi suami untuk menyediakan tempat tinggal bagi istrinya. Tempat tinggal ini tentunya yang ma’ruf (baik). Jika si suami adalah orang kaya, maka hendaknya ia menyediakan tempat tinggal yang memadai. Namun jika si suami faqir, maka hendaknya ia menyediakan tempat tinggal sesuai kemampuannya. Tidak mengapa tempat tinggal yang disediakan itu milik sendiri ataupun menyewa atau rumah di daerah perbatasan atau semacamnya, jika memang kondisinya susah, sebagaimana disebutkan oleh para ulama.

Namun jika tempat tinggal yang disediakan tersebut itu di daerah perbatasan, atau di tempat tinggal yang digunakan tanpa membayar (misalnya kolong jembatan, pent.) atau rumah yang sangat murah, maka ini merupakan tempat yang membahayakan dan memberi gangguan bagi si istri. Sehingga dituntut secara syar’i untuk pindah dari situ dan wajib bagi si suami untuk menyediakan tempat tinggal yang layak bagi istrinya.

Mengenai hukum bagi suami menyediakan tempat tinggal, ini diperselisihkan oleh para ulama. Pendapat pertama mengatakan suami wajib menyediakan tempat tinggal sesuai kemampuan si suami, baik ia kaya maupun miskin. Pendapat kedua, wajib menyediakan tempat tinggal sesuai keadaan si istri. Jika seorang suami menikahi seorang wanita, maka ia wajib memberikan tempat tinggal pada istri, tidak boleh diberi tempat tinggalnya orang faqir dan miskin. Karena ini memberikan gangguan dan bahaya bagi si istri. Jadi pendapat pertama dan kedua berkebalikan.

Yang nampak lebih tepat bagiku, wal ‘ilmu ‘indallah, perkara ini dikaitkan dengan keadaan si suami (bukan si istri). Karena Allah Ta’ala mengaitkan masalah nafkah pada suami. Pendapat yang menyatakan bahwa masalah ini dikaitkan dengan keadaan si istri mereka berdalil dengan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

خذي من ماله ما يكفيك وولدك بالمعروف

ambilah harta suamimu yang mencukupi kebutuhan primermu dan anakmu dengan ma’ruf

maka dimaknai bahwa patokan cukup atau tidak itu dikembalikan pada keadaan si istri. Namun yang shahih adalah pendapat yang pertama. Adapun sabda Nabi “ambilah harta suamimu yang mencukupi kebutuhan primermu dan anakmu” itu jika dalam kondisi suami pelit (tidak menafkahi) bukan dalam kondisi asal yang berlaku umum sehingga dipaksa untuk mengeluarkan nafkah. Dengan demikian, suami hendaknya menyediakan tempat tinggal sesuai kemampuan hartanya namun yang tidak memberikan gangguan dan bahaya pada istrinya dengan terlalu sempitnya tempat tinggal. Juga tempat tinggal yang tidak memberi bahaya dan gangguan bagi si istri ketika sudah ditinggali dan juga setelah memanfaatkannya.

Bahkan para ulama mengatakan, wajib memberi tempat tinggal yang manusiawi yang sesuai dengan keadaan si suami baik ia kaya maupun miskin, sebagaimana telah saya jelaskan. Dengan demikian, jika suami memberi istri tempat tinggal yang sempit, padahal ia sanggup memberi yang luas, maka qadhi dapat memaksanya dan mengeluarkan fatwa untuknya. Perbuatan ini adalah perbuatan zhalim dan qadhi dapat mewajibkan ia untuk pindah ke tempat yang luas.

Diringkas dari: http://shankeety.net/Alfajr01Beta/index.php?module=Publisher&section=Topics&action=ViewTopic&topicId=346

Sumber : http://kangaswad.wordpress.com/2013/09/30/wajibkah-suami-membelikan-rumah/

Ketika Suami Mengatakan “Tiada Maaf Bagimu”

Tiada Maaf Bagimu

Pertanyaan:

Apakah hukum seorang suami yang marah dan naik pitam hanya karena urusan yang amat sepele dan tidak ingin berembug dalam permasalahan apapun, walau dia tahu bahwa istrinya mengerahkan usahanya yang maksimal untuk membuatnya ridha dan menenangkannya?

Bahkan istrinya sampai menyalahkan dirinya sendiri, meski dia dalam posisi benar sekalipun. Namun suami tetap tidak mau ridha terhadap hal itu dan terus marah dalam beberapa hari, yang terkadang mencapai dua bulan; sementara di saat yang sama, istrinya terus berusaha membuatnya rida. Permasalahannya tersebut selalu terjadi, apalagi bila istri tidak menekan dirinya; maka hal itu bisa terjadi dua atau tiga kali dalam seminggu. Dan hal-hal itu terjadi hingga dalam kehidupan suami-istri yang khusus.

Jawaban:

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 228)

Allah Tabaraka wa Ta’ala menjelaskan bahwa masing-masing suami-istri memiliki hak atas yang lainnya dan mewajibkan masing-masing pihak untuk memenuhi kewajibannya. Sebab hal itu merupakan satu-satunya penyebab ketenangan dan ketenteraman jiwa, serta tersebarnya cinta, kasih sayang, dan kebahagiaan suami-istri dan keberlangsungan itu semua.

Bila ini sudah terwujud, maka hendaknya suami tahu bahwa hak istri atas suami yang pertama dan terpenting adalah memuliakannya, memperlakukan dan mempergaulinya dengan patut, memberikan hal-hal yang memungkinkan diberikan kepadanya yang membuat hatinya lunak, serta menumbuhkan kebahagiaan dan ketenangan ke dalam hatinya. Allah Ta’ala berfirman:

Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisah: 19)

Indikasi yang menunjukkan kesempurnaan akhlak dan meningkatnya iman adalah sikap lembut seorang suami kepada istrinya dan lunak kepadanya, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sedangkan yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik sikapnya kepada istri-istrinya.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan dia berkata: Hadis hasan shahih)

Memuliakan wanita juga menjadi tanda sempurnanya kepribadian seseorang; sementara menghinakan wanita menjadi tanda kerendahan dan kekejiannya. Maka tidak memuliakan wanita kecuali orang yang mulia, dan tidak menghinakannya kecuali orang yang hina. Terakhir kalinya, aku nasihati wanita penanya ini untuk bersabar menghadapi suaminya dan mengabaikan semua perlakuan buruknya yang memungkinkan untuk diabaikan.

Tambahan, dia harus bersungguh-sungguh membuat suaminya ridha dan mengingatkannya akan hak-haknya atas suaminya dengan lembut dan halus, di mana suami mesti bertanggung jawab atas itu semua. Kami berharap kepada Allah Ta’ala agar memberikan petunjuk kepada semuanya dan memberikan taufik menuju segala hal yang di dalamnya terkandung kebaikan dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

Mauqi’ asy-Syabakah al-Islamiyyah

Sumber: Setiap Problem Suami-Istri Ada Solusinya, Solusi atas 500 Problem Istri dan 300 Problem Suami oleh Sekelompok Ulama: Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, Syaikh bin Baz, Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Syaikh Abdullah bin Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Jibrin dll, Mitra Pustaka, 2008

 
Sumber konsultasisyariah re-publikasi abuabdurrohman