Memajang Ucapan Selamat Natal

Memajang Ucapan Selamat Natal

Sebagian pedagang muslim pun demi menghormati customer-nya, ia sengaja memajang ucapan selamat natal atau merry christmas, berupa stiker, spanduk atau tempelan lainnya di tokonya. Inilah yang biasa kita saksikan di bulan Desember ini. Apakah seperti ini dibolehkan dilakukan oleh seorang muslim?

Toleransi dalam Islam

Islam sangat menjunjung toleransi. Namun toleransi yang dimaksud adalah masih dibolehkannya bermuamalah dengan non-muslim. Juga kita diperintahkan untuk membiar saja non-muslim beribadah tanpa turut campur. Ingat prinsip kita sebagaimana yang telah tertera dalam ayat,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (QS. Al Kafirun: 6)

Juga disebutkan dalam ayat lain,

أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus: 41)

لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ

Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu.” (QS. Al Qashshash: 55)

Prinsip ini berarti kita biarkan non-muslim berhari raya, tanpa ada peran serta dari kita untuk membantu, mengucapkan selamat, atau memberi hadiah.

Sepakat Ulama: Seorang Muslim Haram Mengucapkan Selamat Natal

Klaim ijma’ haramnya mengucapkan selamat pada hari raya non-muslim terdapat dalam perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah berikut ini, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.

Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 441)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan pula, “Ucapan selamat hari natal atau ucapan selamat lainnya yang berkaitan dengan perayaan agama orang kafir adalah haram berdasarkan sepakat ulama” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 3: 45).

Syaikhuna, Syaikh Dr. Sholih Al Fauzan hafizhohullah berkata dalam fatwanya, “Hal-hal yang sudah terdapat ijma’ para ulama terdahulu tidak boleh diselisihi bahkan wajib berdalil dengannya. Adapun masalah-masalah yang belum ada ijma’ sebelumnya maka ulama zaman sekarang dapat ber-ijtihad dalam hal tersebut. Jika mereka bersepakat, maka kita bisa katakan bahwa ulama zaman sekarang telah sepakat dalam hal ini dan itu. Ini dalam hal-hal yang belum ada ijma sebelumnya, yaitu masalah kontemporer. Jika ulama kaum muslimin di seluruh negeri bersepakat tentang hukum dari masalah tersebut, maka jadilah itu ijma’.” (Lihat fatwa beliau di sini: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/2385)

Memajang Ucapan Selamat Natal

Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

اجتنبوا أعداء الله في عيدهم

“Jauhilah orang-orang kafir saat hari raya mereka” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi di bawah judul bab ‘terlarangnya menemui orang kafir dzimmi di gereja mereka dan larangan menyerupai mereka pada hari Nairuz dan perayaan mereka’ dengan sanadnya dari Bukhari, penulis kitab Sahih Bukhari sampai kepada Umar).

Nairuz adalah hari raya orang-orang qibthi yang tinggal di Mesir. Nairuz adalah tahun baru dalam penanggalan orang-orang qibthi. Hari ini disebut juga Syamm an Nasim. Jika kita diperintahkan untuk menjauhi hari raya orang kafir dan dilarang mengadakan perayaan hari raya mereka lalu bagaimana mungkin diperbolehkan untuk mengucapkan selamat hari raya kepada mereka.

Sebagai penguat tambahan adalah judul bab yang dibuat oleh Al Khalal dalam kitabnya Al Jaami’. Beliau mengatakan, “Bab terlarangnya kaum muslimin untuk keluar rumah pada saat hari raya orang-orang musyrik…”. Setelah penjelasan di atas bagaimana mungkin kita diperbolehkan untuk mengucapkan selamat kepada orang-orang musyrik berkaitan dengan hari raya mereka yang telah dihapus oleh Islam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam bukunya, Al Iqtidha’ 1: 454 menukil adanya kesepakatan para sahabat dan seluruh pakar fikih terhadap persyaratan Umar untuk kafir dzimmi, “Di antaranya adalah kafir dzimmi baik ahli kitab maupun yang lain tidak boleh menampakkan hari raya mereka … Jika kaum muslimin telah bersepakat untuk melarang orang kafir menampakkan hari raya mereka lalu bagaimana mungkin seorang muslim diperbolehkan untuk menyemarakkan hari raya orang kafir. Tentu perbuatan seorang muslim dalam hal ini lebih parah dari pada perbuatan orang kafir.”

Dan jelas saja, memajang ucapan selamat natal di toko termasuk dalam bentuk menyemarakkan perayaan non muslim.

Selaku muslim pun kita diperintahkan untuk tidak loyal pada orang kafir walaupun itu anggota kerabat, apalagi terkait dengan urusan agama mereka.

لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al Mujadilah: 22)

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

Apakah Setiap yang Haram itu Najis?

Apakah Setiap yang Haram itu Najis?

Apakah setiap yang haram itu najis? Misal saja khomr (miras) yang sudah kita pahami haramnya, apakah dihukumi pula najis sehingga tidak boleh disentuh.

Ibnu Taimiyah rahimahullah telah memberikan kita kaedah mudah untuk memahami najis dan haram. Beliau berkata,

كُلُّ نَجِسٍ مُحَرَّمَ الْأَكْلِ وَلَيْسَ كُلُّ مُحَرَّمِ الْأَكْلِ نَجِسًا

Setiap najis diharamkan untuk dimakan, namun tidak setiap yang haram dimakan itu najis.” (Majmu’atul Fatawa, 21: 16).

Kaedah ini bermakna setiap yang najis haram dimakan. Sedangkan sesuatu yang haram, belum tentu najis, bisa jadi pula suci.

Penerapan Kaedah

1- Racun haram untuk dikonsumsi karena memberikan dhoror (bahaya) pada tubuh. Namun jikalau haram, tidak semata-mata dihukumi najisnya. Karena keharaman belum tentu mengkonsekuensikan najis.

2- Makanan yang dicuri diharamkan untuk dikonsumsi karena tidak ada izin si empunya atau pula tidak diizinkan oleh syari’at. Akan tetapi sesuatu yang haram ini tidak menunjukkan najisnya.

3- Khomr sudah disepakati haramnya, namun -menurut pendapat terkuat- khomr tidaklah najis. Karena hukum asal segala sesuatu itu suci sampai ada dalil yang najisnya. Imam Asy Syaukani rahimahullah berkata mengenai firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah kotor termasuk perbuatan syaitan” (QS. Al Maidah: 90). Khomr di sini dikaitkan dengan anshob (berhala) dan azlam (anak panah). Ini sudah mengindikasikan bahwa yang dimaksud adalah kotor maknawi dan bukan najis syar’i (Lihat Ad Daroril Mudhiyyah Syarh Ad Duroril Bahiyyah, hal. 62-63).

4Darah -yang dialirkan- dihukumi haram berdasarkan ayat,

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 115).

Yang dimaksudkan darah yang dialirkan disebutkan dalam ayat,

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.” (QS. Al An’am: 145).

Namun meskipun darah diharamkan tetapi tidaklah najis. Hukum darah itu kembali pada hukum asal segala sesuatu yaitu suci sampai ada dalil yang menyatakan najisnya. Darah yang dianggap najis hanyalah darah haidh, selain itu dihukumi akan sucinya. Lihat pembahasan Imam Asy Syaukani dalam Ad Daroril Mudhiyyah, hal. 61.

Mengenai kaedah di atas dijelaskan pula oleh Imam Ash Shon’ani,

“Sesuatu yang najis tentu saja haram, namun tidak sebaliknya. Karena najis berarti tidak boleh disentuh dalam setiap keadaan. Hukum najisnya suatu benda berarti menunjukkan haramnya, namun tidak sebaliknya. Diharamkan memakai sutera dan emas (bagi pria), namun keduanya itu suci karena didukung oleh dalil dan ijma’ (konsensus para ulama). Jika engkau mengetahui hal ini, maka haramnya khomr dan daging keledai jinak sebagaimana disebutkan dalam dalil tidak menunjukkan akan najisnya. Jika ingin menyatakan najis, harus didukung dengan dalil lain. Jika tidak, maka kita tetap berpegang dengan hukum asal yaitu segala sesuatu itu suci. Siapa yang mengklaim keluar dari hukum asal, maka ia harus mendatangkan dalil. Sedangkan bangkai dihukumi najisnya karena dalil mengatakan haram sekaligus najisnya.” (Lihat Subulus Salam, 1: 158).

Semoga kaedah yang dikaji di pagi ini oleh Muslim.Or.Id, bermanfaat bagi kaum muslimin sekalian.

Hanya Allah yang memberi taufik.

 

Referensi:

1- Ad Daroril Mudhiyyah, Al Imam Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1432 H.

2- Al Harom fii Syari’atil Islamiyyah, Dr. Quthb Ar Risuni, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1432 H.

3- Majmu’atul Fatawa, Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah Al Harroni, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan keempat, tahun 1432 H.

4- Subulus Salam Al Muwshilah ila Bulughil Marom, Muhammad bin Isma’il Al Amir Ash Shon’ani, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan kedelapan, tahun 1432 H.

Dirampungkan di pagi hari penuh berkah @ Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang-Gunungkidul, 17 Rajab 1434 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

Haruskah Mandi Ketika Masuk Islam?

Haruskah Mandi Ketika Masuk Islam?

Alhamdulillah washshalatu wassalaamu ‘ala nabiyyihi almukhtar min khalqihi muhammad wa ‘ala alihi wa as-habih wa man tabi’ahu ittiba-an shahihan ikhlashan.

Para ulama berbeda pendapat apakah orang kafir yang masuk Islam wajib atau disunnahkan untuk mandi. Tulisan ini akan sedikit memaparkan pendapat para ulama beserta dalil-dalil yang mereka gunakan dalam berargumen. Namun hal penting yang harus diketahui bahwa di balik perbedaan pendapat ini, mereka bersepakat bahwa orang kafir yang masuk Islam disyariatkan untuk mandi.[1]

Pendapat Pertama

Wajib bagi orang kafir yang masuk Islam untuk mandi baik ia sedang haidh, junub dan lain-lain yang mewajibkan mandi maupun ia tidak sedang berada pada kondisi tersebut.

Dalil-dalil yang menjadi pijakan

Pertama:

عن أبي هريرة رضي الله عنه في قصة ثمامة بن أثال عندما أسلم وأمره النبي صلى الله عليه وسلم أن يغتسل. رواه عبد الرزاق وأصله متفق عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang kisah Tsumaamah Ibnu Utsal ketika ia masuk Islam dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya untuk mandi[2].

Kedua:
Qais ibnu ‘Ashim menuturkan:

أتيت النبي صلى الله عليه وسلم أريد الإسلام فأمرني أن أغتسل بماء وسدر

“Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku ingin masuk Islam. Lantas beliau memerintahkan aku mandi dengan air dan bidara”[3]

Selain Tsumaamah bin Utsal dan Qais bin ‘Ashim, sebagian sahabat yang diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mandi adalah Watsilah bin Asqa’, Qatadah dan ‘Uqail bin Abi Thalib[4].

Kedua hadits di atas dijadikan dalil oleh sebagian ulama bahwa orang kafir wajib mandi ketika masuk Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan mereka untuk mandi. Berdasarkan kaidah bahwa hukum asal perintah adalah wajib maka mandi yang menjadi perintah Nabi shallahu ‘alaihi wasallam di atas hukumnya adalah wajib[5].

Pendapat ini dipegang oleh imam Ahmad dan imam Malik[6]. Inilah pula pendapat yang dikuatkan Ibnu Mundzir, al-Khaththabiy, Asy-Syaukaniy dan lain-lain[7].

Pendapat Kedua

Tidak wajib bagi orang yang masuk Islam untuk mandi kecuali jika ia sedang haidh, junub dan lain-lain saat berada dalam kekafirannya. Kondisi inilah yang mewajibkan mereka untuk mandi. Jika mereka tidak pada kondisi ini maka disunnahkan untuk mandi[8]. Inilah pendapat yang pegang oleh Imam Asy-Syafi’i[9]. Begitu pula, seperti diungkapkan oleh Al-Khatthtabiy, kebanyakan para ulama memilih pendapat ini[10].

Pendapat Ketiga

Tidak wajib mandi sama sekali. Inilah pendapat yang dipegang oleh Imam Abu Hanifah[11].

Argumen Pendapat Kedua Dan Ketiga

Pertama

Banyak dari kalangan sahabat kala itu yang masuk Islam namun tidak dinukil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan mereka untuk mandi. Sekiranya ini adalah perkara yang wajib maka ini akan menjadi suatu yang banyak dinukil dan masyhur. Sekiranya wajib, hal ini pula tidak akan dikhususkan hanya teruntuk sebagian yang masuk Islam. Ini menjadi indikasi bahwa status hukum wajib mengarah ke hukum sunnah[12].

Begitu pula ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Mu’adz ke Yaman. Beliau berpesan:

ادعهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله. . .

Serulah mereka menuju syahadat ‘Tidak ada ilaah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba sekaligus utusan-Nya…”[13]

Mereka berpendapat, sekiranya mandi setelah masuk Islam sesuatu yang wajib maka tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan memerintahkan mereka untuk mandi sebagai kewajiban pertama dalam Islam[14].

Kedua

Dalam kisah keIslaman Tsumaamah bin ‘Utsal memiliki dua riwayat. Riwayat pertama telah disebutkan di atas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya untuk mandi. Namun pada riwayat kedua yang terdapat dalam Shahihain bahwa Tsumaamah bin ‘Utsal sendiri yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian mandi tanpa perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah itu dia masuk Islam. Ini mengindikasikan bahwa mandi, pada riwayat ini, adalah taqrir / penetapan / persetujuan dari Nabi tanpa ada perintah dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga mandi bukanlah suatu yang wajib. Ini sebagaimana dalam pandangan ahli ushul[15].

Kesimpulan

Sebagai penutup, kami lebih memilih pendapat pertama yaitu wajibnya mandi bagi mereka yang masuk Islam. Menjawab argumen pendapat kedua dan ketiga, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengungkapkan bahwa dasar hukum sebuah perintah adalah wajib. Ketiadaan penukilan bahwa setiap orang yang masuk Islam tidak diperintahkan untuk mandi, saat itu, bukanlah sebuah dalil yang menunjukkan bahwa mereka tidak mandi[16]. Ketiadaan penukilan perintah mandi pada setiap orang yang masuk Islam saat itu tidak menunjukkan ketiadaan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena memang perkara ini adalah perkara yang masyhur[17].

Begitu pula hadits yang termaktub dalam Shahihain, seperti yang diketahui, Tsumaamah bin ‘Utsal sendiri yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mandi tanpa perintah beliau kemudian masuk Islam. Ini tak ada bedanya baik dia mandi sendiri maupun diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan terkadang, proses mandi Tsumaamah, dalam riwayat ini, adalah menjadi bagian dari perintah nabi yang masyhur[18].

Tentu saja yang terbaik bagi orang kafir yang masuk Islam adalah mandi. Para ulama yang memilih sunnah juga menyarankannya karena ini lebih hati-hati sehingga keluar dari perselisihan ulama. Berdasarkan kaidah para ulama bahwa keluar dari perselisihan ulama begitu dianjurkan selama tak masuk ke dalam perselisihan yang lain. Perlu dan sangat penting diketahui bahwa di balik perbedaan pendapat ini, mereka bersepakat bahwa orang kafir yang masuk Islam disyariatkan untuk mandi[19].

Lebih dari itu, mandi setelah masuk Islam tentu saja memiliki hikmah dan keutamaan yang agung dan luar biasa selain keutamaan bahwa dia telah mengikuti perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

[Diselesaikan di Asrama LIPIA tercinta. Jakarta Selatan, Jum’at, 3 Shafar 1435 H/ 06 Desember 2013]

 

Catatan Kaki

[1] Lihat kitab Tau-dhihul Ahkam, hal 381, Jilid 1.
[2] Diriwayatkan ‘Abdurrazzaq dan asalnya muttafaqun ‘alaihi. Lihat Bulughul Maram pada kitab at-Thaharah bab al-Ghasl wa Hukmu al-Junb
[3] Hadits shahih diriwayatkan Abu Daud (355), at-Tirmidziy (605), an-Nasa-iy (1/109), dan Ahmad (34/216).
[4] Lihat kitab Mulakhkhas Fiqhiyy, pada catatan kaki no. 2, hal 65, Jilid 1.
[5] Lihat kitab Tau-dhihul Ahkam, hal 380, Jilid 1 dan kitab Min-hatul ‘Allaam, hal 25, Jilid 2.
[6] Lihat kitab Tau-dhihul Ahkam, hal 380, Jilid 1
[7] Lihat kitab Min-hatul ‘Allaam, hal 25, Jilid 2
[8] Ibid
[9] Lihat kitab Tau-dhihul Ahkam, hal 380, Jilid 1
[10] Lihat Lihat pula kitab Min-hatul ‘Allaam, hal 26, Jilid 2.
[11] Lihat kitab Tau-dhihul Ahkam, hal 380, Jilid 1.
[12] Ibid , hal 381. Lihat pula kitab Min-hatul ‘Allaam, hal 26, Jilid 2.
[13] HR al-Bukhariy (1395) dan Muslim (19)
[14] Lihat pula kitab Min-hatul ‘Allaam, hal 26, Jilid 2
[15] Lihat kitab Tau-dhihul Ahkam, hal 381, Jilid 1.
[16] Lihat kitab Fath Dzil Jalaal wal Ikram, hal 330, jilid 1.
[17] Ibid
[18] Ibid
[19] Lihat kitab Tau-dhihul Ahkam, hal 381, Jilid 1.

Referensi
  1. Kitab Fath Dzil Jalaal wal Ikram bi Syarhi Bulughil Maram karya syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, jilid 1, penerbit al-Maktabah Islamiyyah, al-Qahirah, Mesir
  2. Kitab Min-hatul ‘Allaam fiy Syarhi Bulughil Maram karya ‘Abdullah bin Shaleh al-Fauzan, jilid 2, penerbit Dar Ibn al-Jauziy, al-Mamlakah al-‘Arabiyyah as-Su’udiyyah.
  3. Kitab Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram karya syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Bassam, jilid 1, penebir Maktabah al-Asadiy, Makkah al-Mukarramah.
  4. Kitab al-Mulakhkhash al-Fiq-hiyy karya syaikh Shaleh ibn Fauzan ibn Abdullah al-Fauzan, jilid 1, terbitan Riyadh, al-Mamlakah al-‘Arabiyyah as-Su’udiyyah.

Penulis: Fachriy Aboe Syazwiena

Artikel Muslim.Or.Id

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.236 pengikut lainnya.