Menetapkan Tersangka Skandal Sex Melalui Foto

Menetapkan Tersangka Skandal Sex Melalui Foto

Assalamualaikum, mohon nasehatnya ustadz, baru-baru ini para netizen dan media online di Indonesia di hebohkan dengan beredarnya foto mesra yang mirip dengan ketua KPK Abraham Samad, sungguh sangat di sayangkan orang-orang terdidik seperti pegawai pemerintah juga ikut-ikutan mengedarkan foto tidak senonoh ini, banyak diantara mereka yang yakin akan foto ini dan menjadikan bahan gunjingan tanpa ada sedikit pun kekhwatiran dari mereka akan terjerumus kedalam fitnah ataupun gibah, bagaimana nasehat ustadz kepada seorang muslim dalam menyikapi beredarnya foto tidak senonoh yang jelas belum pasti kebenarannya ini? Saya berharap jawaban dari ustadz menjadi nasehat bagi muslim lainnya di Indonesia. Syukron.. (Wira-Jakarta)
Dari Wiratama via Tanya Ustadz for Android
Dikirim dari Yahoo Mail pada Android
Jawaban:
Wa ‘alaikumus salam Wa rahmatullah
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Pertama, hukuman bagi pelaku zina, baik cambuk maupun rajam, hanya bisa ditegakkan, jika terdapat salah satu dari tiga fenomena berikut,
1. Pengakuan pelaku
Ini sebagaimana yang terjadi pada Ma’iz bin Malik dan wanita Ghamidiyah. Di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dua orang ini melaporkan dirinya di hadapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengaku telah melakukan zina. Kisah Ma’iz bin Malik diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Sementara kisah wanita Ghamidiyah disebutkan dalam shahih muslim.
2. Ada 4 saksi yang berada di tempat kejadian ketika zina berlangsung
Allah berfirman,
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik (QS. an-Nur: 4).
3. Si wanita hamil, sementara dia tidak bersuami, dan bukan karena diperkosa. Ini termasuk indikator terkuat bahwa dia
Kedua, Islam menganjurkan agar hukuman had (hukuman yang ditetapkan berdasarkan syariat islam), seperti cambuk bagi pezina yang belum menikah, potong tangan bagi pencuri pada batas dan nilai yang ditetapkan, dst. agar hukuman semacam ini digugurkan ketika ada syubhat.
Syubhat itu bisa bentuknya keraguan mengenai kasus, ketidak jelasan bukti, kondisi saksi yang tidak memenuhi syarat, dst. Termasuk adanya peluang pemalsuan data, atau ada unsur kecurigaan terhadap bukti yang diberikan.
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ادْرَءُوا الْحُدُودَ مَا اسْتَطَعْتُمْ عَنِ الْمُسْلِمِينَ فَإِنْ وَجَدْتُمْ لِلْمُسْلِمِ مَخْرَجًا فَخَلُّوا سَبِيلَهُ فَإِنَّ الإِمَامَ لأَنْ يُخْطِئَ فِى الْعَفْوِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يُخْطِئَ فِى الْعُقُوبَةِ
Gugurkanlah hukuman had dari kaum muslimin sebisa kalian. Jika kalian menjumpai ada celah yang membuat dia tidak boleh dihukum, maka lepaskan dia. Karena kesalahan hakim dalam memaafkan orang yang berkasus itu lebih ringan dari pada kesalahan dalam menjatuhkan hukuman mereka yang berkasus. (HR. Ad-Daruquthni 3141)
Hadis ini dinilai dhaif oleh para ulama, hanya saja sebagian menilai hasan li ghairih, mengingat ada banyak riwayat yang mendukungnya. Sebagaimana keterangan Imam Ibnu Baz dalam fatwanya (25/263).
Karena itu, ulama sepakat menerapkan kaidah ini. Jika ada unsur ketidak jelasan dalam kasus yang menuntut seseorang mendapat hukuman had, maka unsur ketidak jelasan ini menghalanginya untuk mendapatkan hukuman. Meskipun bisa jadi hakim menetapkan hukuman lainnya yang lebih ringan, seperti penjara.
Ketiga, berdasarkan prinsip ini, para ulama kontemporer tidak menerima keterlibatan teknologi dan fasilitas modern dalam menetapkan kasus tersangka pelanggaran had. Seperti foto, video, bahkan termasuk uji DNA. Karena semua ini, sekalipun bisa dibuktikan secara teknologi modern, masih mengandung peluang besar terjadinya kesalahan. Sehingga sangat tidak meyakinkan.
Lembaga Fatwa Dar al-Ifta’ Mesir menyatakan,
والأمور المستحدثة والوسائل العلمية المتقدمة التي ظهرت ويمكن الاستعانة بها كأدلة إثبات في هذا الباب؛ كتحليل البصمة الوراثية (DNA)، وكالتصوير المرئي، والتسجيل الصوتي، لا تعدو أن تكون مجرد قرائن لا ترقى لأنْ تستقل بالإثبات في هذا الباب الذي ضيّقه الشرعُ
Fasilitas modern yang dikembangkan melalui ilmu pengetahuan masa kini, yang memungkinkan digunakan sebagai data pendukung dalam masalah penetapan kasus, seperti pemeriksaan DNA, foto, atau rekaman video, tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator yang independen dalam menetapkan kasus yang diberi batasan ketat oleh syariat. (Fatwa no. 4636, Februari 2009).
Kemudian secara khusus, Dar al-Ifta’ Mesir menjelaskan status tes DNA,
إن تحليل البصمة الوراثية الذي هو أقوى هذه الوسائل يرى الخبراء القانونيون أنه دليل غير مباشر على ارتكاب الجريمة، وأنه قرينة تقبل إثبات العكس، وهذا صحيح؛ لأن هذه التحاليل يعتريها الخطأ البشرى المحتمل. وحتى لو دلَّت البصمة الوراثية في نفسها على نفى النسب أو إثباته يقينًا، فإنَّ ذلك اليقين في نفسه يقع الظنُّ في طريق إثباته، مما يجعل تقرير البصمة الوراثية غير قادر على إثبات جريمة الزنا إثباتًا يقينيًّا، مما يجعل إثبات جريمة الزنا بذلك موضع شبهة وتردد
Tes DNA yang diyakini menjadi indikator terkuat, dinyatakan para pakar hukum, bahwa itu indikator yang tidak langsung berhubungan dengan tindak kriminal. Indikator ini masih sangat rentan dengan kenyataan sebaliknya. Dan ini benar. Karena uji DNA masih berpeluang ada unsur kesalahan manusia. Sekalipun DNA diyakini sebagai penentu nasab, namun sejatinya keyakinan ini masih ada unsur ‘asumsi’ dalam menetapkannya. Ini menjadi alasan terbesar mengapa uji DNA tidak bisa digunakan untuk meetapkan kasus zina dengan yakin. Sehingga, menggunakan sarana tes DNA untuk kasus tersebut, mengandung unsur yubhat dan keraguan. (Fatwa no. 4636, Februari 2009).
Anda bisa saksikan, ulama kontemporer tidak menetapkan uji DNA sebagai bukti skandal sex. Tentu bukti yang lebih rendah dari pada itu, semata-mata bukti foto, yang belum jelas keasliannya, sama sekali tidak bisa dijadikan bukti untuk menetapkan kasus skandal bagi tersangka.
Keterangan lain juga disampaikan dalam Fatwa Lajnah Daimah,
لا يصح إثبات جريمة الزنا بما ذكر من التقرير الفاحص الكيماوي، وتقرير أخصائي في بصمات الأصابع وشهادة ظرفية، فإن ذلك إنما يفيد اجتماعا ومخالطة، ويثير التهمة، ويبعث ريبة في النفوس، ولا ينهض لإثبات الجريمة الموجبة للحد حتى يقام الحد على مرتكبيها
Tidak benar menetapkan skandal zina melalui uji lab, atau melalui sidik jari, atau saksi tempat kejadian. Karena semua ini hanya menunjukkan bahwa benda itu dipegang oleh pelaku, sehigga menimbulkan tuduhan, dan keraguan di hati. Dan tidak bisa digunakan untuk menetapkan kasus pelanggaran yang mengharuskan hukuman had, sehingga pelakunya harus dihukum had bagi pelakunya. (Fatwa Lajnah Daimah, no. 3339).
Keempat, Allah melarang keras menyebarkan tuduhan zina, dalam bentuk apapun di tengah masyarakat. Terlebih jika dalam bentuk gambar atau video. Allah sebut tindakan ini sebagai Isya’atul Fahisyah (menyebarkan kekejian).
Allah berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui. (QS. an-Nur: 19).
Di masa silam, menghancurkan kehormatan orang lain dengan cara semacam ini hanya dilakukan orang munafiq. Hingga mereka berani menuduh Aisyah, istri tercinta baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tuduhan zina.
Kasus belum jelas, namun berita telah tersebar ke seantero dunia. Terlebih dengan mencantumkan foto jorok yang tidak selayaknya ditampilkan di depan umum. Jika dulu pelakunya adalah  orang-orang munafik, maka tidak heran jika kebiasaan buruk ini juga dilestarikan para wartawan se-tipe mereka. Wartawan munafik.
Mengenai bahaya media, anda bisa pelajari: Jangan Menjadi Korban Media
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Dilarang Masuk Kamar Mandi Menjelang Maghrib?

Dilarang Masuk Kamar Mandi Menjelang Maghrib?

Apa benar, Dilarang Masuk Kamar Mandi Menjelang Maghrib? masuk kamar mandi menjelang maghrib bisa menyebabkan orang kerasukan jin? Karena katanya pada waktu itu, jin banyak keluar dari sarangnya.
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Pertama, terdapat hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ – أَوْ أَمْسَيْتُمْ – فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ
“Bila hari telah senja, tahan anak-anak kalian. Karena ketika itu setan berkeliaran. Dan bila sudah masuk sebagian waktu malam, silahkan biarkanlah mereka.” (HR. Bukhari 5623 dan Muslim 3756)
Informasi yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa setan berkeliaran ketika maghrib, merupakan perkara ghaib. Manusia tidak bisa mendeteksinya dengan indera. Kita hanya bisa meyakini sebagaimana yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kedua, karena alasan hadis ini, sebagian ulama syafiiyah dan hambali memakruhkan masuk kamar mandi dari menjelang maghrib sampai isya. Berikut beberapa keterangan mereka,
Ibnu Muflih menukil keterangan Ibnul Jauzi – ulama hamhali – (w. 597 H),
قال ابن الجوزي في منهاج القاصدين: ويكره دخول الحمام قريباً من الغروب وبين العشاءين فإنه وقت انتشار الشياطين
Ibnul Jauzi mengatakan dalam kitab Minhaj al-Qosidin, ‘Makruh memasuki kamar mandi menjelang maghrib atau antara isya sampai maghrib. Karena ketika itu adalah waktunya setan mulai berkeliaran.” (al-Adab as-Syar’iyah, 3/322).
Keterangan lain juga disampaikan al-Khatib as-Syirbini – ulama syafiiyah – (w. 977 H.),
ويكره دخوله قبيل الغروب وبين العشاءين لأنه وقت انتشار الشياطين
Dimakruhkan masuk ke kamar mandi menjelang maghrib atau antara maghrib dan isya. Karena itu waktu setan berkeliaran. (Mughni al-Muhtaj, 1/77).
Akan tetapi ada ulama lain yang tidak sepakat dengan pendapat ini. Karena tidak ada dalil secara tegas yang melarang hal itu. Disamping tidak ada riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabat, yang menyebutkan bahwa mereka menghindari kamar mandi ketika menjelang maghrib.
Imam ar-Ruhaibani as-Suyuthi (w. 1243 H.) mengatakan,
ولا يكره دخوله حماما قرب غروب و لا بعده، لعدم النهي الخاص عنه، خلافاً لابن الجوزي
Tidak dimakruhkan masuk ke kamar mandi menjelang matahari terbit, tidak pula setelahnya. Karena tidak ada larangan khusus tentang itu. Tidak sebagaimana pendapat Ibnul Jauzi. (Mathalib Uli an-Nuha, 1/189).
Ketiga, ulama kontemporer lebih memilih pendapat kedua
Dengan mempertimbangkan,
Para sahabat memahami bahwa waktu menjelang terbenamnya matahari adalah waktu setan mulai berkeliaran.
Tidak dijumpai satupun riwayat dari mereka, bahwa mereka menghindari kamar mandi ketika menjelang maghrib.
Karena pertimbangan ini, beberapa lembahaga fatwa kontemporer menyatakan boleh masuk kamar mandi menjelang maghrib. Berikut diantaranya,
Fatwa Syabakah Islamiyah,
فالظاهر أنه لا بأس بالاستحمام في كل وقت على الصحيح سواء في ذلك ما بين المغرب والعصر وغيره إذ لم يرد ما يدل على النهي، والأصل جواز ذلك
Pendapat yang kuat, tidak masalah masuk ke kamar mandi di setiap waktu, baik waktu sekitar maghrib, atau asar, atau waktu lainnya. Karena tidak terdapat satupun dalil yang melarangnya. Sementara hukum asalnya adalah boleh. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 107250).
Fatwa yang lain juga disampaikan dalam Fatawa al-Islam,
يباح الاغتسال في أي وقت من الليل أو النهار ؛ لأن الأصل الإباحة ، وليس هناك دليل يمنع من الاغتسال بعد العصر أو قبل المغرب أو في غيرهما من الأوقات
Dibolehkan mandi di waktu kapanpun, baik siang maupun malam. Karena hukum asalnya mubah, sementara tidak ada dalil yang melarang mandi setelah asar, mejelang maghrib, atau waktu-waktu lainnya. (Fatawa al-Islam, no. 104808)
Hanya saja, anda harus tetap jaga doa dan dzikir, terutama doa masuk kamar mandi, dan jangan lupa: Agar Aurot Tidak Terlihat Jin
Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Dilarang Masuk Kamar Mandi Menjelang Maghrib?

Dilarang Masuk Kamar Mandi Menjelang Maghrib?
Apa benar, Dilarang Masuk Kamar Mandi Menjelang Maghrib? masuk kamar mandi menjelang maghrib bisa menyebabkan orang kerasukan jin? Karena katanya pada waktu itu, jin banyak keluar dari sarangnya.
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Pertama, terdapat hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ – أَوْ أَمْسَيْتُمْ – فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ
“Bila hari telah senja, tahan anak-anak kalian. Karena ketika itu setan berkeliaran. Dan bila sudah masuk sebagian waktu malam, silahkan biarkanlah mereka.” (HR. Bukhari 5623 dan Muslim 3756)
Informasi yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa setan berkeliaran ketika maghrib, merupakan perkara ghaib. Manusia tidak bisa mendeteksinya dengan indera. Kita hanya bisa meyakini sebagaimana yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kedua, karena alasan hadis ini, sebagian ulama syafiiyah dan hambali memakruhkan masuk kamar mandi dari menjelang maghrib sampai isya. Berikut beberapa keterangan mereka,
Ibnu Muflih menukil keterangan Ibnul Jauzi – ulama hamhali – (w. 597 H),
قال ابن الجوزي في منهاج القاصدين: ويكره دخول الحمام قريباً من الغروب وبين العشاءين فإنه وقت انتشار الشياطين
Ibnul Jauzi mengatakan dalam kitab Minhaj al-Qosidin, ‘Makruh memasuki kamar mandi menjelang maghrib atau antara isya sampai maghrib. Karena ketika itu adalah waktunya setan mulai berkeliaran.” (al-Adab as-Syar’iyah, 3/322).
Keterangan lain juga disampaikan al-Khatib as-Syirbini – ulama syafiiyah – (w. 977 H.),
ويكره دخوله قبيل الغروب وبين العشاءين لأنه وقت انتشار الشياطين
Dimakruhkan masuk ke kamar mandi menjelang maghrib atau antara maghrib dan isya. Karena itu waktu setan berkeliaran. (Mughni al-Muhtaj, 1/77).
Akan tetapi ada ulama lain yang tidak sepakat dengan pendapat ini. Karena tidak ada dalil secara tegas yang melarang hal itu. Disamping tidak ada riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabat, yang menyebutkan bahwa mereka menghindari kamar mandi ketika menjelang maghrib.
Imam ar-Ruhaibani as-Suyuthi (w. 1243 H.) mengatakan,
ولا يكره دخوله حماما قرب غروب و لا بعده، لعدم النهي الخاص عنه، خلافاً لابن الجوزي
Tidak dimakruhkan masuk ke kamar mandi menjelang matahari terbit, tidak pula setelahnya. Karena tidak ada larangan khusus tentang itu. Tidak sebagaimana pendapat Ibnul Jauzi. (Mathalib Uli an-Nuha, 1/189).
Ketiga, ulama kontemporer lebih memilih pendapat kedua
Dengan mempertimbangkan,
Para sahabat memahami bahwa waktu menjelang terbenamnya matahari adalah waktu setan mulai berkeliaran.
Tidak dijumpai satupun riwayat dari mereka, bahwa mereka menghindari kamar mandi ketika menjelang maghrib.
Karena pertimbangan ini, beberapa lembahaga fatwa kontemporer menyatakan boleh masuk kamar mandi menjelang maghrib. Berikut diantaranya,
Fatwa Syabakah Islamiyah,
فالظاهر أنه لا بأس بالاستحمام في كل وقت على الصحيح سواء في ذلك ما بين المغرب والعصر وغيره إذ لم يرد ما يدل على النهي، والأصل جواز ذلك
Pendapat yang kuat, tidak masalah masuk ke kamar mandi di setiap waktu, baik waktu sekitar maghrib, atau asar, atau waktu lainnya. Karena tidak terdapat satupun dalil yang melarangnya. Sementara hukum asalnya adalah boleh. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 107250).
Fatwa yang lain juga disampaikan dalam Fatawa al-Islam,
يباح الاغتسال في أي وقت من الليل أو النهار ؛ لأن الأصل الإباحة ، وليس هناك دليل يمنع من الاغتسال بعد العصر أو قبل المغرب أو في غيرهما من الأوقات
Dibolehkan mandi di waktu kapanpun, baik siang maupun malam. Karena hukum asalnya mubah, sementara tidak ada dalil yang melarang mandi setelah asar, mejelang maghrib, atau waktu-waktu lainnya. (Fatawa al-Islam, no. 104808)
Hanya saja, anda harus tetap jaga doa dan dzikir, terutama doa masuk kamar mandi, dan jangan lupa: Agar Aurot Tidak Terlihat Jin
Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Setan Tertawa ketika Kita Menguap

Setan Tertawa ketika Kita Menguap

January 14, 2015

 

 

 

 

Kita Menguap, Setanpun Tertawa

 

Benarkah setan akan tertawa ketika kita menguap? Mengapa dia tertawa?

 

Trim’s

 

Jawaban:

 

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

 

Anda bisa perhatikan hadis berikut,

 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعُطَاسَ وَيَكْرَهُ التَّثَاؤُبَ فَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَحَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ سَمِعَهُ أَنْ يُشَمِّتَهُ وَأَمَّا التَّثَاؤُبُ فَإِنَّمَا هُوَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ مِنْهُ الشَّيْطَانُ

“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Oleh karena itu bila kalian bersin lalu dia memuji Allah, maka wajib atas setiap muslim yang mendengarnya untuk ber-tasymit (mengucapkan “yarhamukallah”). Sedangkan menguap itu dari setan, jika seseorang menguap hendaklah dia tahan semampunya. Bila orang yang menguap sampai mengeluarkan suara ‘haaahh’, setan tertawa karenanya.” (HR. Bukhari 6223)

 

Mengapa Setan Tertawa?

 

Tertawa merupakan ekspresi senang dan bahagia. Setan merasa senang ketika godaannya berhasil dan dituruti manusia. Karena setan selalu memotivasi manusia untuk menjadi pemalas dan banyak tidur. Sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa menguap sumbernya dari setan. Dalam sebuah hadis, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

التَّثَاؤُبُ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ

“Menguap itu dari setan, jika seorang menguap hendaklah dia tahan semampunya.” (HR. Bukhari 3289 & Muslim 7682).

 

Dr. Musthofa Dib al-Bugho – pakar madzhab syafiiyah kontemporer – mengatakan,

 

أضيف إلى الشيطان لأنه هو الذي يدعو إلى إعطاء النفس شهواتها والتثاؤب يكون مع ميل الإنسان إلى الكسل والنوم والتثاقل عن الطاعات

Menguap dikatakan sebagai godaan setan, karena dialah yang mengajak manusia untuk memenuhi syahwatnya. Sementara menguap terjadi ketika seseorang cenderung malas, banyak tidur, dan berat dalam melakukan ketaatan. (Ta’liq Shahih Bukhari untuk hadis no. 3115)

 

Jika menguap itu sendiri sudah membuat setan merasa senang, dia akan merasa lebih senang ketika orang yang menguap sampai mengeluarkan suara huaah… Karena yang terjadi tidak hanya menguap, tetapi menguap yang disertai kesungguhan. Inilah yang membuat setan tertawa.

 

Ada juga yang mengatakan, setan tertawa ketika manusia menguap, karena wajah manusia berubah menjadi jelek saat dia menguap. (Fathul Bari, 10/612).

 

Dilarang Membuat Setan Tertawa

 

Sebagai muslim, tentu kita dilarang untuk memasukkan kebahagiaan di hati para musuh. Sebaliknya, kita dianjurkan membuat musuh islam marah, karena kita melakukan ketaatan dan komitmen terhadap syariat islam. Dan  ini Allah catat sebagai amal soleh.

 

Allah berfirman,

 

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ

Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal soleh. (QS. at-Taubah: 120).

 

Jika membuat musuh islam marah termasuk amal soleh, maka membuat marah gembong kekufuran, yaitu setan, juga termasuk amal soleh. Namun tentu saja, semua harus dilakukan seuai aturan.

 

Saatnya menyesuaikan diri dengan sunah dan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pelajari semua yang beliau syariatkan. Semoga Allah memudahkan kita untuk meniti jalan kebenaran.

 

Allahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ustadz

Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

HARTA YANG PALING BAIK DAN BERKAH

HARTA YANG PALING BAIK DAN BERKAH

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

2014-10-30_09.03.45Bismillah. Tidak diragukan lagi, harta yang baik lagi halal yang ada di tangan orang muslim yang sholih memiliki banyak manfaat dan keistimewaan bagi dirinya, keluarganya maupun orang lain, baik itu menyangkut urusan dunia maupun agama. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi seorang muslim yang ingin menggapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat untuk bermalas-malasan dan berpangku tangan serta menjadi beban bagi orang lain.

Jika seorang muslim hidup berkecukupan, maka baginya menuntut ilmu itu menjadi mudah, beribadah kepada Allah menjadi lebih lancar dan tenang, bersosialisasi menjadi gampang, bergaul semakin indah, berdakwah semakin tangguh dan berwibawa, serta berumah tangga pun semakin stabil dan harmonis. Oleh karena itu, harta benda yang dimiliki oleh seorang muslim yang bertakwa bisa berfungsi sebagai sarana pendukung dan penyeimbang dalam beribadah, dan perekat hubungan dengan sesama manusia.

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ.

“Sebaik-baik harta yang baik (dan halal) adalah harta yang dimiliki seorang yang sholih.” (HR. Ahmad di dalam Al-Musnad IV/202, no. 17835 dengan sanad yang hasan).

Diantara keistimewaan dan manfaat harta benda yang dimiliki orang muslim yang sholih, ia dapat menjadi penyebab berlimpahnya pahala dari Allah kepada pemiliknya karena ia senantiasa menafkahkannya di jalan yang Allah ridhoi. Hal ini sebagaimana Allah berfirman:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (274)

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabb (Tuhan)nya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Baqarah: 274).

Nabi shallallahu alaihi wasallam juga telah memberikan pujian kepada seorang muslim yang dermawan dan membelanjakan hartanya di jalan kebaikan. Hal ini sebagaimana ditunjukkan hadits shohih berikut ini:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ ، وَذَكَرَ الصَّدَقَةَ وَالتَّعَفُّفَ وَالْمَسْأَلَةَ « الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى ، فَالْيَدُ الْعُلْيَا هِىَ الْمُنْفِقَةُ ، وَالسُّفْلَى هِىَ السَّائِلَةُ »

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan tangan yang di atas adalah tangan yang suka memberi. Sedangkan tangan yang di bawah adalah tanggan yang suka meminta.” (HR. Bukhari II/519 no.1362, dan Muslim II/716 no.1033).

Dengan harta yang halal dan bersih, para generasi as-salafus sholih berlomba dan berpacu mengejar pahala dan meraih surga. Sebagai contoh, seperti yang terjadi pada kehidupan Umar bin Khoththob radhiyallahu anhu yang bersaing secara sehat dalam berinfak di jalan Allah dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu.

Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, ia berkata: Aku pernah mendengar Umar bin Al-Khoththob radhiyallahu anhu mengatakan:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمًا أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ مَالاً عِنْدِى فَقُلْتُ الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا أَبْقَيْتَ لأَهْلِكَ ». قُلْتُ مِثْلَهُ. قَالَ : وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ – رضى الله عنه – بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا أَبْقَيْتَ لأَهْلِكَ ». قَالَ أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ. قُلْتُ لاَ أُسَابِقُكَ إِلَى شَىْءٍ أَبَدًا

“Pada suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah memerintahkan kepada kami (para sahabat) agar bersedekah. Dan ketika itu saya sedang memiliki harta yang sangat banyak. Maka saya berkata, “Hari ini aku akan mampu mengungguli Abu Bakar,” lalu aku membawa separoh hartaku untuk disedekahkan. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya: “Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?” Saya jawab, “Aku tinggalkan untuk keluargaku harta yang semisalnya.” Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq datang membawa semua kekayaannya, maka Beliau shallallahu alaihi wasallam bertanya: “Wahai, Abu Bakar, Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?” Ia menjawab, “Saya tinggalkan untuk mereka Allah dan RasulNya.” Maka aku berkata: “Saya tidak akan pernah bisa mengunggulimu selamanya”. (HR. Abu Daud I/526 no.1678, dan At-Tirmidzi  V/614 no.3675 dan ia berkata, “Hadits ini (derajatnya) Hasan Shohih, dan Al-Hakim di dalam Mustarakah I/574 no.1510. dan ia berkata, “Hadits ini Shohih sesuai dengan syarat imam Muslim. Dan derajat hadits ini dinyatakan HASAN oleh syaikh Al-Albani di dalam Shohih Abi Daud I/315 no.1472, dan Shohih At-Tirmidzi III/202 no.2902).

Demikian penjelasan singkat tentang Harta Yang Paling Baik dan Paling Berkah adalah Harta yang ada di Tangan Orang Muslim yang Sholih, yaitu seorang muslim yang senantiasa mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, bertakwa kepada-Nya, serta meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan menagnugerahkan kepada kita harta benda yang baik, halal dan penuh berkah. Amiin. (Klaten, 17 Mei 2012).

(*) Artikel Grup Majlis Hadits. WA: 082225243444, BB: 7FA61515

# Blog Dakwah Sunnah, KLIK: Http://abufawaz.wordpress.com

# Blog Dagang, KLIK: http://af-dagang.blogspot.com

https://www.facebook.com/muhammad.wasitho.abu.fawaz , Twitter@mwasitho

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.812 pengikut lainnya.